Apa Yang Terjadi Dengan Sampah Kita?

25Aug

Apa yang ada dipikiran anda saat mendengar kata sampah?

Pasti yang pertama terlintas adalah kotor, bau dan menjijikan. Sesungguhnya sampah adalah barang yang sudah tidak dapat digunakan kembali yang dihasilkan oleh manusia dan alam semesta. Apakah alam semesta menghasilkan sampah? Tentu, sampah yang dihasilkan bisa berupa dedaunan kering yang jatuh ke tanah dan menjadi kompos.

Tahukah anda bahwa 60% sampah yang berada di Indonesia adalah sampah organik yang paling banyak adalah sisa makanan manusia. Hal ini membuktikan bahwa kita cukup sering membuang makanan, padahal setidaknya terdapat lima orang meninggal dunia tiap detiknya karena kelaparan. Lalu, sampah plastik berada sekitar 15% dari total keseluruhan sampah yang ada. 18 juta ton minyak bumi digunakan untuk memproduksi kemasan plastik dan kita ketahui bahwa begitu banyak sampah plastik yang dibuang, berarti hal ini menandakan bahwa kita menyia-nyiakan sumber daya alam berupa minyak bumi.

Sesungghnya darimanakah sampah itu berasal? Anda pasti menjawab manusia. Ya, benar, diawali dari pertumbuhan penduduk yang semakin meningkat, maka kebutuhan manusia pun semakin bertambah. Terlebih lagi manusia semakin ingin hidup praktis sehingga produk yang digunakan lebih banyak kemasan sekali pakai, hal ini yang menyebabkan produksi sampah semakin banyak. Pola hidup konsumtif manusia juga ikut andil, kita biasa menyebutnya lapar mata. Lihat diskon langsung tertarik, tidak peduli apakah membutuhkan atau tidak, yang penting itu barang diskon maka dibeli. Akibat dari bertambah banyaknya populasi manusia ini, makin banyak manusia yang tidak peduli dengan keadaan disekitarnya.

(Dokumentasi Pribadi : Foto bentuk kemasan sekitar awal tahun 2000 yang hingga saat ini bentuknya masih utuh)

Kita sering sekali mendengar slogan “Buanglah sampah pada tempatnya”, pertanyaannya setelah sampah kita buang ke kotak sampah, akan pergi kemana sampah kita ini? Tentu saja kita mengetahui bahwa sampah ini akan diangkut oleh petugas kebersihan dan akan dibawa ke tempat penampungan sampah akhir. Coba kita mengenang kembali tragedi longsornya TPA Leuwi Gajah tahun 2005 silam. sekitar 141 jiwa terenggut karena tertimbun tumpukan sampah ini. Perlu anda ketahui bahwa sampah plastik yang kita hasilkan membutuhkan proses cukup lama untuk terurai jika ditimbun didam tanah. Kresek yang sering kita gunakan akan terurai ditanah sekitar 10 – 20 tahum, lalu botol plastik air mineral membutuhkan waktu yang jauh lebih lama lagi untuk bisa terurai bahkan hampir tidak akaan bisa terurai selamanya. Lalu bagaimana jika kita buang kedalam lautan? Ini bukan solusi, bahkan kita semakin menebar kesakitan untuk sahabat kita lainnya yang tinggal di lautan. Sampah plastik ini mangganggu aktivitas kehidupan mereka, tanpa sengaja menjerat leher, menutupi area mulut, masuk dalam rongga pernapasan bahkan termakan dan menumpuk di dalam perut. Jadi, sesungguhnya tidak ada kotak sampah di bumi kita ini, kemanapun kita membuang sampah, mereka akan tetap ada.

Sekarang apa yang bisa kita lakukan? Mari kita mengurangi produksi sampah plastik, kita coba untuk mengatakan tidak jika ditawari wadah plastik, mulaiah untuk membawa botol minum, wadah makan, peralatan makan, sedotan yang bukan sekali pakai, jangan lupa untuk membawa kantong belanjamu, hiduplah penuh dengan kesadaran dan perlahan tidak perlu terburu-buru sehingga jika kita membeli makanan tidak perlu dibawa pulang, biasakan untuk makan di tempat. Lalu, apa yang bisa kita lakukan terhadap sampah plastik yang ada? salah satu solusi yang bisa dilakukan adalah dengan membuat Eco Brick. Eco Brick adalah salah satu solusi untuk memanfaatkan sampah plastik yang ada, dengan cara membuatnya menjadi pengganti batu bata untuk pembangunan. Cukup mudah untuk membuat Eco Brick, yang dibutuhkan adalah ketelatenan dan kesabaran dalam memasukan sampah plastik ke dalam botol. Jenis sampah yang baik digunakan untuk Eco Brick adalah kantong plastik, wadah kemasan, kotak susu UHT atau stereofoam. Hindari penggunaan kertas, tissu dan besi karena kertas dapat terurai dan besi dapat berkarat dan merusak Eco Brick. Siapkan tongkat kayu untuk memadatkan sampah plastik dalam botol. Bagaimana proses pembuatannya?

Pertama, pilih plastik lembut seperti kantong kresek bewarna kedalam botol (ini digunakan agar Eco Brick memiliki corak warna)

Kedua, masukan sampah plastik lainnya ke dalam botol, jika bisa plastik di potong lebih kecil. Tekan hingga padat menggunakan tongkat kayu.

Ketiga, jika sudah terasa padat tutup Eco Brick milik kita, pastikan ukurannya minimal 200 gram untuk botol ukuran 600ml.

Tips, usahakan membuat Eco Brick dengan menggunakan jenis botol yang sama agar lebih mudah untuk memadu padankannya.

Eco Brick yang sudah jadi dapat digunakan untuk menjadi pengganti batu bata atau bisa disatukan dan dibuat barang kebutuhan lainnya, seperti kursi, meja, atau gapura di pinggir jalan.

 

Share it on :