AlverWaloeyo

11Sep

Saat ini, kita dapat merasa terbebas dari penyesalan akan masa lalu dan kekhawatiran akan masa depan. Kebahagiaan itu tidaklah mungkin tanpa merasa bebas. Kita kembali lagi ke saat ini, kita lepaskan kekhawatiran kita, ketakutan kita, penyesalan kita, rencana kita dan kesibukan kita…

 

Letting go gives us freedom, and freedom is the only condition for happiness.”  (Thich Nhat Hanh)

 

Tulisan ini memberi tahu saya bagaimana cara mendapatkan kebahagiaan yang sejati dengan cara mengiklaskan apa yang sudah terjadi di masa lalu dan apa yang akan terjadi di masa depan…

Kita sadari saat ini… saat sekarang dengan ikhlas.

 

(Buku “How to Sit”, Thich Nhat Hanh, halaman 39. Gambar : www.plumvillage.org)

01Jul

Prof. Dr. Emil Salim
Bapak Lingkungan Hidup Indonesia

Bapak ibu hadirin sekalian, bapak ibu yang hadir di sini adalah harapan bangsa masa depan. Nama lain Yayasan Sahabat Lingkungan Hidup ini yaitu Eco Learning Camp Foundation. Kata kunci yayasan ini adalah “Eco” dan “Learning”. “Eco” itu adalah ekologi, lingkungan hidup, atau ekosistem. “Learning” itu adalah belajar. Eco Learning itu belajar ekologi atau belajar ekosistem. Eco Learning itu adalah kunci menghadapi masa depan.

Kalau kita perhatikan, kapasitas bumi itu hanya bisa mendukung kehidupan 4,7 milyar manusia. Tetapi sekarang pendidik bumi sudah 7 milyar. Maka yang diperlukan adalah satu setengah planet bumi. Tahun 2020 bumi akan memiliki 9 milyar manusia. Maka diperlukan dua planet bumi. Padahal tidak ada dua planet bumi. Lalu apa yang terjadi ? Bumi yang sekarang kita miliki akan over dieksploitasi untuk pembangunan karena kebutuhan adalah dua kali apa yang bisa bumi berikan. Kalau begitu maka akan babak belur anak cucu kita. Anak cucu kita tidak akan survive karena bumi sudah bakal mati.

Apa yang harus dilakukan ? Jawabnya adalah Eco Learning atau belajar dari alam ! Mengapa belajar dari alam ? Coba bayangkan tanah menjadi kurang. Bagaimana tumbuh-tumbuhan tanpa tanah? Singapura mengembangkan taman di atap-atap gedung. Ada tanaman dengan akar yang di-sprinkle dengan air. Tanaman tumbuh tanpa tanah. Namanya hidroponik.

Di Maumere ada satu pulau kecil di utara di mana air tawar kurang, tapi laut dan air laut banyak. Apa yang dilakukan masyarakat? Mereka membuat lubang besar yang namanya “embung” lalu ditutupi plastik dan disinari sinar matahari. Sinar matahari seolah-olah merebus air laut. Air menguap ke atas dan garam tertinggal. Air yang menguap ditangkap plastik menjadi air tawar. Air laut diubah menjadi air tawar dengan teknologi yang sangat sederhana.

Apabila ilmu berkembang dan mampu mengubah air laut menjadi air tawar, maka kita tidak perlu lagi kuatir. Tanah Gurun Sahara yang terbentang kosong bisa dihidupkan lagi kembali dengan air. Dua pertiga bumi adalah air laut. Mengapa kita kekurangan air tawar ? Kuncinya saudara sekalian adalah otak, akal, sains dan teknologi. Kuncinya adalah Eco Learning.

Karena itu gagasan membangun Tahura Djuanda itu sangat penting. Eco Learning itu belajar dari alam. Bagaimana alam itu terjadi ? Ketika terjadi tsunami di Aceh, mengapa banyak manusia yang mati, tetapi binatang atau hewan tidak. Ayam pun tidak. Kuncing pun tidak. Dari mana kucing tahu tsunami akan terjadi. Eco Learning ! Ada sesuatu di udara yang memberi tahu kepada hewan, tapi manusia tidak bisa menangkap sinyal-sinyal itu.

Jadi saudara-saudara Eco Learning itu perlu kita dukung karena itu memberi kesempatan belajar dari alam. Alam terkembang menjadi guru !

Apa Tahura Djuanda itu ? Ekosistem ! Apa ekosistem itu ? Ekosistem itu masa depan dari peri kehidupan. Jika 9 milyar manusia hidup dalam satu bumi, bagaimana bumi bisa menghidupi 9 milyar manusia tanpa menjadi rusak ? Berarti perlu sains dan teknologi yang bisa menaikkan produksi dan memperkaya manusia tanpa merusak dan tanpa mengeksploitasi sumber daya alam. Itu artinya value added, nilai tambah, enrichment itu is the key pembangunan masa depan.

Untuk itu kita perlu laboratorium. Laboratorium itu adalah hutan Tahura Djuanda. Laboratorium Tahura Djuanda itu nanti ada bambu misalnya. Bagaimana bambu itu bisa dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk Jawa Barat ? Bagaimana air kotor menjadi bening ? Bagaimana tanah yang kering gersang itu bisa subur kembali ? Sains dan teknologi jawabannya. Otak akal pikiran jawabannya. Dan untuk itu perlu ada learning process. Untuk learning process ekologi itu perlu Eco Learning Process !

Maka Tahura Djuanda itu bukan sekedar taman. Kita harus mengembangkannya seperti Silicon Valley di Amerika. Steve Jobs yang melahirkan berbagai produk komputer seperti Ipad dan segala macam itu dilahirkan di Silicon Valley.

Cita-cita saya adalah Tahura Djuanda menjadi sentrum kreativitas dan cara kita hidup dari alam tanpa merusak alam itu. Jadi sudahlah dan biarlah ada meja-meja kosong itu ada di sini, namun saya senang melihat meja-meja yang ditempati bapak ibu yang hadir di sini karena itulah modal kita. Bapak ibu jika mampu terus mendukung Eco Learning Camp Djuanda itu maka kita menggoyangkan republik kita. Republik tidak bisa tenggelam. Republik tahun 2045 tetap berdiri karena Tahura Djuanda melahirkan Eco Learning, hidup belajar dari ekosistem, value added, nilai tambah, enrichment resource tanpa merusak alam.

Itu tugas anda sekalian. Itu tugas yayasan. Tidak hanya memupuk dana. Tetapi dana itu digunakan untuk masa depan rakyat kita. Sehingga alam Indonesia di katulistiwa, satu-satunya negara kepulauan di katulistiwa, the only archipelago di dunia ini. Katulistiwa itu di Latin Amerika melewati Brasil. Di Afrika melewati Tanzania. Kemudian kosong, kemudian melewati laut. Dan kepulauan di katulistiwa di laut hanya di Republik Indonesia ini. Karena itu alam kita kaya sekali. Karena tidak ada empat musim, hanya dua musim. Ada dua samudera yaitu Hindia dan Pasifik. Ada dua benua yaitu Asia dan Australia. Alam kita kaya sekali. Karena itu mereka yang bia mempergunakan alam menjadi kaya seperti Ibu Martha Tilaar yang menggunakan alam dengan wisdom, dengan otak dan akal, dengan ilmu dan sains. Mimpi saya adalah agar ada lebih banyak orang seperti Ibu Martha Tilaar.

Mimpi saya adalah agar ada bangsa Indonesia hidup dari alam tropis Indonesia ini, dengan sains dan teknologi, tidak merusak tapi memperkaya alam, sehingga hijau daun Indonesia itu tumbuh, dan pertumbuhannya itu memberikan welfare, kesejahteraan kepada rakyat bangsa kita.

Jadi sumbangan bapak dan ibu itu bukan sekedar sumbangan, melainkan untuk membangun masa depan Indonesia melalui Eco Learning Forest ini. Selamat bekerja, bung !

(disalin dari video rekaman oleh fsw)

01Jul

Suzy Hutomo
Ketua Yayasan Kehati
CEO The Body Shop Indonesia

Eco Learning Camp pendidikan tentang Lingkungan Hidup dan pendidikan yang menekankan tentang pentingnya menjaga lingkungan hidup kita dengan perilaku “hijau” masih terasa minim dan bahkan kurang memadai di Indonesia.

Di Indonesia dengan alam yang kaya ini mulai ? terjadi perubahan iklim yang berdampak negative pada kehidupan masyarakat luas. The Eco Learning Camp ini merupakan jawaban atas kerisauan kita semua.

Kami salut dengan penggagas/pendiri dan segenap tim yang membangun proyek ini. Kita sekarang bisa berharap bahwa generasi baru Indonesia bisa belajar mencintai alam dan berperilaku “hijau” untuk meminimalisir dampak dan “carbon footprint”.

Bravo Eco Learning Camp!

01Jul

Prof.Dr. H.A.R. Tilaar, MSc.Ed.
Guru Besar Emeritus, Universitas Negeri Jakarta

Dr.(HC).Martha Tilaar
Pendiri Yayasan Sahabat Lingkungan Hidup
Pendiri PT Martina Berto

Planet bumi yang menjamin kehidupan manusia melalui pembangunan berkelanjutan kini dalam keadaan kritis karena ulah manusia yang merusak lingkungannya, antara lain merusak hutan.

“The Future We Want” yang menjadi kesepakatan Rio+20 seyogyanya harus dimulai dari pengetahuan.

Dan sikap individu untuk menjaga dan memelihara lingkungannya. Apa yang kami lihat di Eco Learning Camp merupakan pusat bagi anggota masyarakat untuk memiliki pengetahuan dan kesadaran untuk berbuat bagi kelestarian lingkungan termasuk kearifan lokal yang mendukungnya, berarti mulai membangun “The Future We Want” yang menjamin kehidupan generasi penerus masa depan !

 

01Jul

Dr. Efransjah
CEO WWF-Indonesia

Bukan pekerjaan mudah menyampaikan pengetahuan, pemahaman sekaligus mempraktekannya dalam kehidupan sehari-hari bagi kita semua apalagi harus menularkan kepada lingkungan sekitarnya. Pendekatan edukasi sejak dini menjadi tahapan perbaikan kualitas lingkungan jangka panjang karena alam dan lingkungan ini merupakan milik generasi selanjutnya yang harus diteruskan pengelolaan dalam kondisi baik, tetapi upaya ini masih jauh dari harapan mengingat tidak dilakukan secara menerus dan tidak secara langsung menunjukan cara-cara praktis dan mudah sehingga dapat dilaksanakan secara sadar serta mandiri.

Generasi muda diharapkan mampu menjaga lingkungan. Kesadaran akan hal ini dapat digugah melalui pengetahuan tentang sains dan budaya. Untuk itu, dibutuhkan edukasi lingkungan dengan strategi terpadu yang mencakup berbagai bidang kehidupan sosial, ekonomi, budaya, teknologi dan agama sehingga penerapan gaya hidup ramah lingkungan dapat lebih mewujud dan berkesinambungan. Ruang pembelajaran lingkungan hidup terpusat menjadi salah satu upaya untuk memastikan penyampaian pengetahuan, pemahaman yang terpadu dan didukung praktek mudah dilakukan dimana saja sehingga dapat menginspirasi dalm membantu perbaikan dan peningkatan kualitas lingkungan hidup.

“Eco Learning Camp” adalah salah satu tempat pembelajaran lingkungan hidup yang memadukan kehidupan lapisan sosial masyarakat, ekonomi, budaya, teknologi dan agama serta bermodalkan situs Hutan Raya Ir. H. Djuanda yang menjadi benteng hijau warga masyarakat sekitarnya bahkan jauh di hilir Bandung. “Eco Camp” dapat menjadi cikal bakal inspiratif dan inovatif mengingat kelengkapannya sebagai fungsi ekosistem dan situs sejarah bangsa Indonesia sehingga ideal sebagai tempat penyampaian pengetahuan, pemahaman yang terpadu dan praktis melalui program-program edukasi dan panduan praktis yang diharapkan akan mampu dipraktekan dan ditularkan oleh peserta yang mengikuti program edukasi di “Eco Camp”.

WWF menyambut baik dan menyatakan apresiasi terhadap aktivitas program edukasi ini dan dengan senang hati bersedia bekerjasama kedepannya untuk masa depan Indonesia yang lebih baik.

01Jul

Br. Y. Triyono, SJ
Pendidik dan Kepala Sekolah Kolese Loyola

Dari peristiwa menuju pengalaman. Setiap hari kita selalu berhadapan dengan peristiwa. Ada peristiwa yang biasa-biasa saja. Misalnya ngobrol dengan teman dekat, menyaksikan berita di TV, atau mengunjungi tempat wisata. Ada juga peristiwa yang kita rasakan sangat mendalam dan personal. Misalnya menghadiri pemakaman seorang sahabat, memperoleh berkah kelahiran seorang putra atau putri, atau meraih kesuksesan yang sangat berarti. Singkatnya, hidup kita dipenuhi dengan berbagai peristiwa. Pertanyaan yang boleh diajukan adalah: apakah setiap peristiwa itu menjadi pengalaman? Peristiwa yang berlangsung kemudian hilang lenyap tanpa bekas dari pikiran dan hati kita bukanlah sebuah pengalaman. Sebuah peristiwa menjadi pengalaman apabila peristiwa tersebut kita serap melalui pikiran, perasaan, dan seluruh kesadaran kita. Sampai saat ini saya masih bisa “merasakan” peristiwa pemakaman ibu. Dengan mudah saya bisa “menghadirkan” kembali peristiwa itu dengan hidup dan lengkap. Mengapa? Jawabannya sudah jelas. Peristiwa pemakaman ibu saya itu menjadi pengalaman pribadi yang sungguh-sungguh mendalam maka tidak bisa terlupakan.

Pengalaman sebagai lahan pembelajaran. Kegiatan belajar seringkali hanya melibatkan salah satu dari daya manusiawi kita, misalnya ceramah yang hanya mengandalkan kemampuan pendengaran. Tidak jarang kegiatan belajar hanya dilakukan untuk melatih salah satu kemampuan otak kita, misalnya pola belajar “menghafal” yang hanya mengembangkan daya ingat saja. Tindakan belajar yang hanya mengaktifkan atau membentuk salah satu segi kecerdasan tidak akan memberikan makna yang mendalam bagi kehidupan.

Aktivitas belajar yang mampu memberikan makna manusiawi adalah melalui proses mengalami belajar dengan membentuk pengalaman. Latihan berenang adalah tindakan belajar melalui pengalaman melihat, menyentuh, membau, merasakan gerakan air di seluruh tubuh.

Belajar berenang berarti menyatu dengan seluruh sifat air. Inilah contoh jelas tindakan belajar dengan mengalami. Aktivitas belajar yang sungguh-sungguh menyentuh seluruh diri manusiawi pendengaran, penglihatan, perasaan, pengecapan, dan seluruh psikomotor kita.

Eco Learning Camp proses edukasi berangkat dari pengalaman, menuju kesadaran, dan membentuk tindakan baru. Alam adalah media pembelajaran. Aktivitas dirancang untuk membawa peserta bersentuhan langsung dengan alam sehingga setiap pribadi bisa menyentuh, merasakan, melihat, dan akhirnya berempati dengan alam. Melalui pengalaman diri pembelajar diantar untuk memikirkan dan merasakan. Dua segi manusiawi rasio dan afeksi terintegrasi dalam kesadaran diri pembelajar. Melalui proses ini maka seorang pembelajar tidak hanya mendapatkan insight (terangbudi) tetapi juga kekayaan afeksi rasa kagum, bersyukur, tertarik, senang.

Refleksi jalan menuju integrasi. Refleksi berarti tindakan untuk mempertimbangkan, memikirkan ulang, dan menilai pengalaman. Buah refleksi adalah kesadaran baru yang mendorong lahirnya tindakan yang lebih baik. Melalui proses refleksi orang berlatih untuk mempertajam mata nuraninya sehingga dirinya semakin bisa merintis relasi damai dengan diri sendiri, sesama, dan alam.

Semarang, 6 Agustus 2014

01Jul

Ceu Popong (Dr. (HC). Popong Otje Djunjunan)
Anggota DPR Komisi X (Komisi Pendidikan)
Pendiri Yayasan Sahabat Lingkungan Hidup

 

Sampurasun…

Tuhan, telah menciptakan manusia, Tuhan juga telah menciptakan alam untuk manusia. Bila kita mau berpikir lugas, kita sudah tidak perlu lagi, mempertentangkan antara manusia dan alam. Manusia dan alam bisa dibedakan tapi tidak bisa dipisahkan, seperti gula dengan manisnya. Alam hanya bisa memberi kehidupan kepada manusia, bila, manusia itu memelihara dan mencintainya. Apakah manusia, akan dengan sendirinya mencintai alam? Jawabannya, TIDAK! Harus melalui pendidikan.

Pendidikan yang bagaimana? Jawabannya adalah pendidikan yang terprogram, sistematis, dan berkelanjutan; tidak bisa asal-asalan, tidak bisa sporadis, dan yang terpenting… harus ditangani oleh manusia-manusia yang cinta Tuhan, cinta alam, cinta sesama manusia, cinta masa depan, di samping tentunya, mengerti dunia pendidikan.

Yayasan Sabahat Lingkungan Hidup sebagai bagian integral dari gerak pembangunan di tanah air tercinta ini, bertanggung jawab penuh untuk ikut mewarnai masa depan bangsa dan negaranya. Kita akan berdosa besar apabila kita tidak peduli dengan manusia-manusia kecil yang akan memikul tanggung jawab setelah kita. Kita akan berdosa besar apabila kita tidak “action”, tidak melangkah konkrit untuk mempersiapkan mereka dengan sebaik-baiknya. Oleh sebab itu, mari kita mulai, bukan besok bukan lusa, tetapi sekarang juga! Mari kita segera ambil bagian, tidak boleh ada yang tidak bergerak! Tidak boleh ada yang tidak memberi! Mari kita berikan apa yang ada pada kita:

Waktu? Tenaga?Pikiran? Atau…Harta?

Apapun, sesuai dengan kemampuan kita masing-masing.

DUR PANJAK!

Rampes!

01Jul

Ferry S.W.
Pembina Yayasan Sahabat Lingkungan Hidup

 

Pada awalnya adalah Spirit Camp yang didirikan Shierly Megawati dan kawan-kawan (antara lain Victor Tatuah dan Janto Sulung Budi) tahun 2002 di Kompleks Perumahan Graha Puspa di daerah Ledeng Bandung. Nama Spirit Camp diambil dari film kartun Spirit yang menggambarkan seekor kuda yang hidup bebas dan mempunyai kekuatan untuk menggerakkan kawanan kuda lainnya dengan luar biasa. Spirit Camp didirikan karena mimpi Shierly Megawati untuk menyediakan tempat dan kawan bermain bagi anak-anak, termasuk anak-anaknya sendiri, Ale dan Bene. Spirit Camp didirikan dengan keyakinan bahwa bermain adalah hak anak-anak dan bahwa bermain di alam bebas akan mengembangkan berbagai aspek kehidupan anak-anak. Lalu Spirit Camp juga menemukan betapa bermain permainan tradisional adalah belajar nilai-nilai kehidupan yang penting untuk hidup di zaman modern ini misalnya belajar mengikuti peraturan, belajar sabar dan menunggu giliran, belajar jujur, belajar menerima kekalahan tanpa marah, belajar menang tanpa sombong, belajar berkompetisi dengan semangat persaudaraan, dan lain-lain.

Tahun 2012 seluruh pengalaman Spirit Camp selama 10 tahun dijadikan bahan disertasi di Universitas Pendidikan Indonesia oleh Ferry Sutrisna Wijaya dengan judul “Pengembangan Model Konseptual Rumah Belajar Lingkungan Hidup (Eco Learning Camp) sebagai Model Pendidikan Nilai”. Eco Learning Camp adalah model pendidikan nilai berbasis lingkungan hidup yang merupakan perkembangan Spirit Camp yang diperkaya dengan studi mengenai berbagai model pendidikan nilai, pendidikan lingkungan hidup, dan rumah belajar (learning camp) yang tumbuh di berbagai tempat d dunia. Eco Learning Camp adalah model pendidikan nilai sekaligus pendidikan lingkungan hidup yang mempunyai materi lingkungan hidup dengan 3 pilarnya yaitu alam, budaya, dan ilmu pengetahuan yang diolah dengan metode refleksi dan bermain, yang bertujuan untuk mengembangkan pribadi, masyarakat, dan lingkungan hidup yang utuh.

Perkembangan Eco Learning Camp (ELC) diwarnai oleh Alexander A.P. Iskandar dan kawan-kawan (antara lain Weilin Han dan Rudy Setiawan) dari sudut sains. Rm. Agustinus Sarwanto SJ dan Br. Triyono SJ dari sudut pedagogi reflektif, serta Sr. Elly Verrijt BKK dan Sr. Amie Hendani SGM dari sudut spiritualitas ekologi. Di awal semuanya itu pentinglah peran Prof. Emil Salim yang sejak membaca draft disertasi sudah menunjukkan kekuatan ELC sebagai model pembelajaran ekologi di luar ruang kelas yang akan berguna untuk mengantar bangsa Indonesia menuju bangsa yang lebih baik.

Program edukasi ELC saat ini sudah siap dengan kurikulum yang disusun Tim Edukasi yang dipimpin Alexander Iskandar. Dari sudut spiritualitas ekologi, kalau awalnya yang dominan adalah perasaan cemas dan kuatir akan krisis nilai dan krisis lingkungan hidup, tim ELC lama-lama menemukan bahwa lingkungan hidup seharusnya didekati dengan sikap active hope atau “harapan aktif” dengan menggunakan istilah yang dipopulerkan Joanna Macy, salah seorang tokoh ekologi. Maka program edukasi ELC akan diusahakan menjadi program yang menyenangkan dan memberi harapan, bukan program yang menakutkan dan mencemaskan. Anak-anak dan siapapun akan dibawa untuk meyakini bahwa Allah Sang Pencipta menciptakan alam semesta dengan indah dan penuh cinta. Bukankah dalam konteks Jawa Barat, MAW Brouwer pernah mengatakan bahwa Allah Sang Pencipta menciptakan tanah Parahyangan sambil tersenyum sehingga hasilnya adalah tanah yang indah dan subur. Saya yakin Allah Sang Pencipta menciptakan seluruh alam semesta dan bumi dengan indah dan penuh cinta, bukan hanya bumi Parahyangan di Jawa Barat saja. Maka program-program ELC akan diusahakan untuk mengajak semua orang semakin mengalami alam semesta dan bumi dengan segala keindahannya yang harus kita jaga dan rawat. Semoga lewat program-program ELC kita juga akan semakin dapat belajar banyak dari alam semesta, termasuk sesama manusia, dan seluruh ilmu pengetahuan yang dikembangkan manusia. Itulah visi Yayasan Sahabat Lingkungan Hidup untuk mengembangkan manusia yang berkualitas, yaitu yang mampu merawat bumi dan berguru pada bumi.

Salam.

 

01Jul

Shierly Megawati

Ketua Pengurus Yayasan Sahabat Lingkungan Hidup

 

Salam Ibu Pertiwi….

Mengapa orang harus menanam pohon?

Pasti ada banyak jawaban, coba aku tanyakan kepada beberapa anak ya. Jawabannya beragam, supaya “Go Green”, supaya tidak banjir, supaya tidak panas, lagi trend, dihimbau presiden suruh tanam sejuta pohon…Macem-macem.

Dan memang semua benar. Sekarang, mari saya ajak anda semua saudara-saudaraku, untuk memejamkan mata dan mulai berkontemplasi… Membayangkan dan merasa-rasakan…

Tarik napas dalam-dalam beberapa kali, rasakan dengan sungguh-sungguh nikmatnya bernapas dengan lega, beberapa kali. Lalu tahan napas… ahan terus, sampai tidak kuat dan dada rasanya mau meledak. Tahan betul, sampai sungguh tidak kuat dan kemudian tarik napas lagi… Melegakan bukan, bila kita bisa bernapas! Apa yang melegakan itu, yang kita ambil waktu bernapas? Udara… Angin… Begitu selalu jawab anak-anak. Dan anak-anak yang minat sainsnya besar, akan menjawab oksigen… Ya, Oksigen! Itu yang kita hirup! Bukan sekedar udara…

Pertanyaan berikutnya, dari mana datangnya oksigen? Di mana pabrik oksigen yang mengisi seluruh udara? Di mana? Wooow… ternyata pabriknya di sekitar kita, pohon-pohon hijau di sekitar kita itulah pabrik oksigen terbesar di dunia.

Pertanyaannya lanjutan, apakah kita harus bayar? Apakah kita harus membeli oksigen, yang sangat berharga untuk kehidupan ini (bayangkan kembali, hanya berapa menit kita tahan hidup tanpa oksigen…)? Woooow… Ternyata semuanya gratis! Gratis! Gratis! Ini tidak masuk akal, ternyata masih ada yang gratis di dunia ini.

Dan, yang memberi gratis itu adalah sekali lagi pohon-pohon di sekitar kita. Pohon-pohon yang terus setia tumbuh, tidak pernah berpindah tempat, mau diapakan juga pasrah, dipaku, dilukai, dilubangi, bahkan di tebang! Bukan hanya setia memberi, pohon juga setia mengambil zat beracun dari udara, menelan CO2 dari udara, sehingga udara menjadi bersih dan nyaman bila dihirup oleh manusia…Woooow…alangkah luar biasanya pohon-pohon di sekitar kita ini ya… Pertanyaan lagi, Menurutmu, pentingkah pohon disekitar kita? Pasti, semua akan menjawab : “Tentu saja, Penting! Sangat penting. Baru sadar sekarang, bahwa tanpa pohon tidak ada kehidupan… Lalu? Kalau penting, mengapa pohon tidak pernah dihargai? Dirawat? Tidak di tebang seenaknya? Demi pertumbuhan ekonomi dan gedung-gedung beton…

Dan…Ini pertanyaan terpenting! Bila pohon ternyata adalah sumber kehidupan kita, yang memberikan sumber itu secara cuma-cuma… Pernahkah kita, sekali saja dalam hidup kita… Ketika kita melewati sebatang pohon, ketika kita dengan enaknya berjalan di atas rerumputan, atau sekedar ketika kita berteduh di bawah sebuah pohon… Sekali saja. Berhenti! Lalu memandang pohon dengan penuh penghargaan, mengucapkan terima kasih dengan tulus, menyentuh dengan penuh rasa sayang, dan bahkan memeluk pohon dengan sepenuh hati dan cinta.

Selain itu, Merawat bumi! Berguru pada bumi…

Pernahkah sekali saja, berkata kepada sebatang pohon, serumpun semak, sekuntum bunga, atau pada hamparan rumput yang indah, bahwa anda, mencintai dan menghargai mereka? Jatuh cinta pada pohon, bunga, rumput, dan seluruh alam semesta…

Saudara-saudaraku yang terkasih, itulah salah satu materi edukasi yang akan diberikan kepada siapapun yang datang dan ingin mengalami Eco Camp.

Dan ada banyak lagi, program dan pengalaman-pengalaman bersama alam semesta, ilmu pengetahuan, teknologi, tradisi, budaya, yang akan dialami oleh sekali lagi siapapun yang ingin mengalami Eco Camp…

Selamat datang ke Eco Camp… Dan selamat merasakan cinta Tuhan lewat pengalaman alam semesta!

 

 

01Jul

Sr. Amie Hendani, SGM
Green Mountain Monastery and Thomas Berry Sanctuary

Banyak orang pintar dan terampil di dunia, mampu melakukan analisa mendalam, mencari sebab akibat peristiwa. Banyak juga yang terampil dalam menciptakan berbagai teknologi, berkreasi lewat berbagai ide yang mengundang decakan kagum.

Namun mengapa kita masih saja terbelit berbagai masalah? Mengapa manusia yang sebenarnya dimotivasi untuk memiliki hidup lebih nyaman dan lebih baik seringkali menemukan dirinya ternyata menciptakan tragedi demi tragedi…

Sebuah pendidikan bagi saya baru lengkap bila mencakup aspek knowing, being and doing. Sulit mencari terjemahan kata yang pas dalam Bahasa Indonesia. Seringkali aspek knowing dan doing yang terus ditekankan sedangkan aspek being ditinggalkan tak tersentuh. Aspek being ini hanya akan tersentuh ketika pertanyaan naïf yang seringkali datang dari seorang anak, “Dari mana aku datang, where am I coming from?” ditanggapi secara serius. Bukan hanya jawaban secara ilmiah yang menjawab pertanyaan itu dari segi knowing, tetapi knowing yang dilatarbelakangi oleh being, suatu deep knowing.

Eco Camp melalui kegiatan menyatu dengan alam diharapkan mampu membangunkan the sense of awe and wonder dalam diri kita yang merupakan pintu masuk keranah being. Semoga ketukan di pintu “being” ini yang dilakukan oleh teman-teman di Eco Camp menjadi suatu daya dorong bagi siapa pun yang datang dalam menemukan jati diri manusia yang sejati di antara komunitas hidup di alam semesta, dan dengan demikian bisa hidup selaras dengan seluruh ciptaan.

1 2