AlverWaloeyo

22Dec

Hari pertama kita tercipta
Itu adalah tempat paling aman, paling nyaman, dan memberi segala untuk kita….
Kandungan Ibu….
Di sana tenang aman damai dan hening!
Hanya ada dua suara….
Suara detak jantung ibu kita dan detak jantung kita
Dug dug… dug dug…
Suara inilah satu-satunya suara yang menemani kita selama sembilan bulan sekian hari kehidupan pertama kita….
Suara yang menenangkan kita…. suara yang menemani kita….

Daaaan…..
Hari kelahiranpun datang!
Duar!
Chaos!
Dan menangislah kita sejak hari kelahiran itu…
Kesepian dan kehilangan detak jantung ibu kita…..
Dan sesungguhnya sejak saat kelahirannya… manusia mencari detak jantung ibunya… detak yang mengingatkan dia sebuah tempat yg menentramkan dan menyediakan segala….
Sepanjang hidup manusia mencari…..

Dan sejatinya…
Darah kita yang pertama, tumpah ke dalam sebuah rahim seorang ibu baru….

Manusia tidak usah ke mana-mana untuk mencari detak jantung Ibunya yang baru..
MEMBUMILAH….
Maka detak jantung ibu kita yang baru akan kita rasakan kembali…
Detak jantung Ibu Pertiwi….

Selamat menikmati kembali ketentraman…
Ibu Pertiwi…
Ibu yang menyusui kita dengan air gunungnya…
Memberi kita makan lewat tubuh tanahnya…
Menggendong dan menopang kita dengan punggungnya..
Memeluk kita….
Mari memandang Ibu Pertiwi dengan penuh kasih…
Menyentuhnya perlahan dengan segala hormat….
Dan kita ucapkan pelan… “Selamat Hari Ibu“…
(Meditasi Double Heart Beat…Eco Camp)

23Nov

Gambar : Kompas.com

Menangislah untuk pertobatan….

Jangan hanya berhenti pada menangis dan “nyesek” tapi ayo memulai…

Langkah kecil sederhana tapi sanggup dilakukan dengan penuh keberanian, keteguhan dan gembira…

KURANGI SAMPAH PLASTIKKU

 

Ada harapan..

Kemarin Bene (anak lelakiku semata wayang)… menunjukkan selebaran dari Mc. D yang isinya Mc D berkomitmen tidak akan lagi pakai sedotan plastik….

“HOREEEE…!” kata Bene dgn wajah berbinar.

” Aduh Mam… Hatiku bahagia sekali lihat leaflet ini. Dunia ada harapan Mam…” Kata-kata Bene membuatku tersentak…

Rupanya selama ini Bene dipenuhi rasa kuatir… “Bagaimana masa depanku?”

Ternyata anak-anak kita sesungguhnya takut dan merasa tidak berdaya….

Bene… sering “dibully” temannya karena dia selalu mengingatkan teman-temannya untuk bawa tumbler dan mengurangi jajan minuman botol plastik…

Meskipun ada fansnya juga…

 

Mari…

Kita jadi harapan… untuk pemilik masa depan!

 

 

 

Nara tulisan  : Shierly Megawati

Nara gambar : Kompas.com

11Sep

Saat ini, kita dapat merasa terbebas dari penyesalan akan masa lalu dan kekhawatiran akan masa depan. Kebahagiaan itu tidaklah mungkin tanpa merasa bebas. Kita kembali lagi ke saat ini, kita lepaskan kekhawatiran kita, ketakutan kita, penyesalan kita, rencana kita dan kesibukan kita…

 

Letting go gives us freedom, and freedom is the only condition for happiness.”  (Thich Nhat Hanh)

 

Tulisan ini memberi tahu saya bagaimana cara mendapatkan kebahagiaan yang sejati dengan cara mengiklaskan apa yang sudah terjadi di masa lalu dan apa yang akan terjadi di masa depan…

Kita sadari saat ini… saat sekarang dengan ikhlas.

 

(Buku “How to Sit”, Thich Nhat Hanh, halaman 39. Gambar : www.plumvillage.org)

01Jul

Prof. Dr. Emil Salim
Bapak Lingkungan Hidup Indonesia

Bapak ibu hadirin sekalian, bapak ibu yang hadir di sini adalah harapan bangsa masa depan. Nama lain Yayasan Sahabat Lingkungan Hidup ini yaitu Eco Learning Camp Foundation. Kata kunci yayasan ini adalah “Eco” dan “Learning”. “Eco” itu adalah ekologi, lingkungan hidup, atau ekosistem. “Learning” itu adalah belajar. Eco Learning itu belajar ekologi atau belajar ekosistem. Eco Learning itu adalah kunci menghadapi masa depan.

Kalau kita perhatikan, kapasitas bumi itu hanya bisa mendukung kehidupan 4,7 milyar manusia. Tetapi sekarang pendidik bumi sudah 7 milyar. Maka yang diperlukan adalah satu setengah planet bumi. Tahun 2020 bumi akan memiliki 9 milyar manusia. Maka diperlukan dua planet bumi. Padahal tidak ada dua planet bumi. Lalu apa yang terjadi ? Bumi yang sekarang kita miliki akan over dieksploitasi untuk pembangunan karena kebutuhan adalah dua kali apa yang bisa bumi berikan. Kalau begitu maka akan babak belur anak cucu kita. Anak cucu kita tidak akan survive karena bumi sudah bakal mati.

Apa yang harus dilakukan ? Jawabnya adalah Eco Learning atau belajar dari alam ! Mengapa belajar dari alam ? Coba bayangkan tanah menjadi kurang. Bagaimana tumbuh-tumbuhan tanpa tanah? Singapura mengembangkan taman di atap-atap gedung. Ada tanaman dengan akar yang di-sprinkle dengan air. Tanaman tumbuh tanpa tanah. Namanya hidroponik.

Di Maumere ada satu pulau kecil di utara di mana air tawar kurang, tapi laut dan air laut banyak. Apa yang dilakukan masyarakat? Mereka membuat lubang besar yang namanya “embung” lalu ditutupi plastik dan disinari sinar matahari. Sinar matahari seolah-olah merebus air laut. Air menguap ke atas dan garam tertinggal. Air yang menguap ditangkap plastik menjadi air tawar. Air laut diubah menjadi air tawar dengan teknologi yang sangat sederhana.

Apabila ilmu berkembang dan mampu mengubah air laut menjadi air tawar, maka kita tidak perlu lagi kuatir. Tanah Gurun Sahara yang terbentang kosong bisa dihidupkan lagi kembali dengan air. Dua pertiga bumi adalah air laut. Mengapa kita kekurangan air tawar ? Kuncinya saudara sekalian adalah otak, akal, sains dan teknologi. Kuncinya adalah Eco Learning.

Karena itu gagasan membangun Tahura Djuanda itu sangat penting. Eco Learning itu belajar dari alam. Bagaimana alam itu terjadi ? Ketika terjadi tsunami di Aceh, mengapa banyak manusia yang mati, tetapi binatang atau hewan tidak. Ayam pun tidak. Kuncing pun tidak. Dari mana kucing tahu tsunami akan terjadi. Eco Learning ! Ada sesuatu di udara yang memberi tahu kepada hewan, tapi manusia tidak bisa menangkap sinyal-sinyal itu.

Jadi saudara-saudara Eco Learning itu perlu kita dukung karena itu memberi kesempatan belajar dari alam. Alam terkembang menjadi guru !

Apa Tahura Djuanda itu ? Ekosistem ! Apa ekosistem itu ? Ekosistem itu masa depan dari peri kehidupan. Jika 9 milyar manusia hidup dalam satu bumi, bagaimana bumi bisa menghidupi 9 milyar manusia tanpa menjadi rusak ? Berarti perlu sains dan teknologi yang bisa menaikkan produksi dan memperkaya manusia tanpa merusak dan tanpa mengeksploitasi sumber daya alam. Itu artinya value added, nilai tambah, enrichment itu is the key pembangunan masa depan.

Untuk itu kita perlu laboratorium. Laboratorium itu adalah hutan Tahura Djuanda. Laboratorium Tahura Djuanda itu nanti ada bambu misalnya. Bagaimana bambu itu bisa dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk Jawa Barat ? Bagaimana air kotor menjadi bening ? Bagaimana tanah yang kering gersang itu bisa subur kembali ? Sains dan teknologi jawabannya. Otak akal pikiran jawabannya. Dan untuk itu perlu ada learning process. Untuk learning process ekologi itu perlu Eco Learning Process !

Maka Tahura Djuanda itu bukan sekedar taman. Kita harus mengembangkannya seperti Silicon Valley di Amerika. Steve Jobs yang melahirkan berbagai produk komputer seperti Ipad dan segala macam itu dilahirkan di Silicon Valley.

Cita-cita saya adalah Tahura Djuanda menjadi sentrum kreativitas dan cara kita hidup dari alam tanpa merusak alam itu. Jadi sudahlah dan biarlah ada meja-meja kosong itu ada di sini, namun saya senang melihat meja-meja yang ditempati bapak ibu yang hadir di sini karena itulah modal kita. Bapak ibu jika mampu terus mendukung Eco Learning Camp Djuanda itu maka kita menggoyangkan republik kita. Republik tidak bisa tenggelam. Republik tahun 2045 tetap berdiri karena Tahura Djuanda melahirkan Eco Learning, hidup belajar dari ekosistem, value added, nilai tambah, enrichment resource tanpa merusak alam.

Itu tugas anda sekalian. Itu tugas yayasan. Tidak hanya memupuk dana. Tetapi dana itu digunakan untuk masa depan rakyat kita. Sehingga alam Indonesia di katulistiwa, satu-satunya negara kepulauan di katulistiwa, the only archipelago di dunia ini. Katulistiwa itu di Latin Amerika melewati Brasil. Di Afrika melewati Tanzania. Kemudian kosong, kemudian melewati laut. Dan kepulauan di katulistiwa di laut hanya di Republik Indonesia ini. Karena itu alam kita kaya sekali. Karena tidak ada empat musim, hanya dua musim. Ada dua samudera yaitu Hindia dan Pasifik. Ada dua benua yaitu Asia dan Australia. Alam kita kaya sekali. Karena itu mereka yang bia mempergunakan alam menjadi kaya seperti Ibu Martha Tilaar yang menggunakan alam dengan wisdom, dengan otak dan akal, dengan ilmu dan sains. Mimpi saya adalah agar ada lebih banyak orang seperti Ibu Martha Tilaar.

Mimpi saya adalah agar ada bangsa Indonesia hidup dari alam tropis Indonesia ini, dengan sains dan teknologi, tidak merusak tapi memperkaya alam, sehingga hijau daun Indonesia itu tumbuh, dan pertumbuhannya itu memberikan welfare, kesejahteraan kepada rakyat bangsa kita.

Jadi sumbangan bapak dan ibu itu bukan sekedar sumbangan, melainkan untuk membangun masa depan Indonesia melalui Eco Learning Forest ini. Selamat bekerja, bung !

(disalin dari video rekaman oleh fsw)

01Jul

Suzy Hutomo
Ketua Yayasan Kehati
CEO The Body Shop Indonesia

Eco Learning Camp pendidikan tentang Lingkungan Hidup dan pendidikan yang menekankan tentang pentingnya menjaga lingkungan hidup kita dengan perilaku “hijau” masih terasa minim dan bahkan kurang memadai di Indonesia.

Di Indonesia dengan alam yang kaya ini mulai ? terjadi perubahan iklim yang berdampak negative pada kehidupan masyarakat luas. The Eco Learning Camp ini merupakan jawaban atas kerisauan kita semua.

Kami salut dengan penggagas/pendiri dan segenap tim yang membangun proyek ini. Kita sekarang bisa berharap bahwa generasi baru Indonesia bisa belajar mencintai alam dan berperilaku “hijau” untuk meminimalisir dampak dan “carbon footprint”.

Bravo Eco Learning Camp!

01Jul

Prof.Dr. H.A.R. Tilaar, MSc.Ed.
Guru Besar Emeritus, Universitas Negeri Jakarta

Dr.(HC).Martha Tilaar
Pendiri Yayasan Sahabat Lingkungan Hidup
Pendiri PT Martina Berto

Planet bumi yang menjamin kehidupan manusia melalui pembangunan berkelanjutan kini dalam keadaan kritis karena ulah manusia yang merusak lingkungannya, antara lain merusak hutan.

“The Future We Want” yang menjadi kesepakatan Rio+20 seyogyanya harus dimulai dari pengetahuan.

Dan sikap individu untuk menjaga dan memelihara lingkungannya. Apa yang kami lihat di Eco Learning Camp merupakan pusat bagi anggota masyarakat untuk memiliki pengetahuan dan kesadaran untuk berbuat bagi kelestarian lingkungan termasuk kearifan lokal yang mendukungnya, berarti mulai membangun “The Future We Want” yang menjamin kehidupan generasi penerus masa depan !

 

01Jul

Dr. Efransjah
CEO WWF-Indonesia

Bukan pekerjaan mudah menyampaikan pengetahuan, pemahaman sekaligus mempraktekannya dalam kehidupan sehari-hari bagi kita semua apalagi harus menularkan kepada lingkungan sekitarnya. Pendekatan edukasi sejak dini menjadi tahapan perbaikan kualitas lingkungan jangka panjang karena alam dan lingkungan ini merupakan milik generasi selanjutnya yang harus diteruskan pengelolaan dalam kondisi baik, tetapi upaya ini masih jauh dari harapan mengingat tidak dilakukan secara menerus dan tidak secara langsung menunjukan cara-cara praktis dan mudah sehingga dapat dilaksanakan secara sadar serta mandiri.

Generasi muda diharapkan mampu menjaga lingkungan. Kesadaran akan hal ini dapat digugah melalui pengetahuan tentang sains dan budaya. Untuk itu, dibutuhkan edukasi lingkungan dengan strategi terpadu yang mencakup berbagai bidang kehidupan sosial, ekonomi, budaya, teknologi dan agama sehingga penerapan gaya hidup ramah lingkungan dapat lebih mewujud dan berkesinambungan. Ruang pembelajaran lingkungan hidup terpusat menjadi salah satu upaya untuk memastikan penyampaian pengetahuan, pemahaman yang terpadu dan didukung praktek mudah dilakukan dimana saja sehingga dapat menginspirasi dalm membantu perbaikan dan peningkatan kualitas lingkungan hidup.

“Eco Learning Camp” adalah salah satu tempat pembelajaran lingkungan hidup yang memadukan kehidupan lapisan sosial masyarakat, ekonomi, budaya, teknologi dan agama serta bermodalkan situs Hutan Raya Ir. H. Djuanda yang menjadi benteng hijau warga masyarakat sekitarnya bahkan jauh di hilir Bandung. “Eco Camp” dapat menjadi cikal bakal inspiratif dan inovatif mengingat kelengkapannya sebagai fungsi ekosistem dan situs sejarah bangsa Indonesia sehingga ideal sebagai tempat penyampaian pengetahuan, pemahaman yang terpadu dan praktis melalui program-program edukasi dan panduan praktis yang diharapkan akan mampu dipraktekan dan ditularkan oleh peserta yang mengikuti program edukasi di “Eco Camp”.

WWF menyambut baik dan menyatakan apresiasi terhadap aktivitas program edukasi ini dan dengan senang hati bersedia bekerjasama kedepannya untuk masa depan Indonesia yang lebih baik.

1 2 3