EcoAdmin

07Jun

Prof. Robertus Wahyudi Triweko, Ph.D.
Rektor dan Guru BesarTeknik Sumber Daya Air
Universitas Katolik Parahyangan

Pada awal dasawarsa 1960 an, ketika saya masih duduk di bangku sekolah dasar, saya tinggal di desa bersama orang tua. Saat itu, ayah saya menjadi kepala sekolah dasar, sedangkan ibu saya tidak bekerja dan hanya mengurus rumah tangga. Ada beberapa pengalaman penting yang agaknya turut membentuk diri saya, khususnya dalam bersikap dan berperilaku terhadap lingkungan.

Pertama, sampah yang hampir semuanya berupa sampah organik, kami kumpulkan di sebuah lubang yang di gali di tanah yang berukuran panjang 2m, lebar 1m, dan kedalaman 1m (Jawa: jugangan). Setelah penuh, ayah menggali tanah di sebelahnya untuk menutup jugangan tersebut dan menanam pohon pisang di atasnya, sambil membuat jugangan baru. Tahun berikutnya, pohon pisang tersebut berbuah, dengan ukuran yang lumayan besar, berkat pupuk kompos dari jugangan tersebut. Teknologi serupa juga diterapkan oleh ayah saya dalam menanam ubi rambat (Jawa: uwi) dengan memanfaatkan sabut kelapa dan segala macam sampah daun (Jawa: resak). Ternyata itupun memberikan hasil yang membanggakan. Setiap saat, kami bisa memanen uwi tersebut dan menikmatinya sekeluarga di sore hari.

Kedua, untuk memenuhi kebutuhan air bersih kami harus menimbanya dari sumur gali yang dalamnya sekitar 15 meter. Saat itu, di desa kami hanya ada dua atau tiga rumah yang mempunyai sumur gali seperti itu. Ketika sumur kering di musim kemarau, kami harus mencuci pakaian dan mengambil air kesendang (mata air) yang jaraknya sekitar 500 meter dari rumah. Kelangkaan air di musim kemarau, memaksa kami untuk memanfaatkan air bekas cuci piring untuk menyiram tanaman cengkeh di kebun, agar tidak mati kekeringan.

Pada musim penghujan, air sumur biasanya berwarna kecoklat-coklatan, tidak jernih lagi.

Pernah suatu sore, ketika hujan mengguyur sangat lebat, kami mendengar suara air yang mengalir deras (Jawa: nggrojok) masuk kedalam sumur. Agaknya, genangan air di dekat pohon kelapa yang hanya beberapa meter jaraknya dari sumur, membentuk aliran di dalam tanah mengikuti akar pohon kelapa yang berujung di sumur tersebut. Segera saya ambil cangkul untuk menjebol timbunan tanah yang menyebabkan terjadinya genangan tersebut. Saya khawatir dinding sumur akan jebol oleh derasnya aliran air rembesan tersebut, di samping kami tahu bahwa air yang masuk ke dalam sumur tersebut akan mencemari air sumur. Ketika menjadi mahasiswa pada program Master of Engineering di bidang Hydraulics and Coastal Engineering di Asian Institute of Technology, Bangkok, Thailand, saya baru tahu bahwa aliran air di dalam tanah yang deras seperti itu dinamakan piping (seperti aliran air di dalam pipa), yang bisa menyebabkan jebolnya bendungan atau tanggul.

Tanpa saya sadari, kedua pengalaman nyata di atas telah menjadi sarana pendidikan lingkungan yang sangat berharga bagi pembentukan diri saya, terutama dalam hal kepekaan dan kepedulian terhadap masalah air dan lingkungan. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya pendidikan lingkungan hidup perlu dilakukan melalui pengalaman nyata oleh anak-anak, ketika mereka masih dalam proses pembentukan dirinya. Agar pendidikan lingkungan tersebut mencapai sasarannya, tidak cukup kalau hanya disampaikan secara teoritis. Pengalaman nyata dan refleksi atas pengalaman tersebut merupakan metode pendidikan lingkungan hidup yang paling efektif.

07Jun

Ir. Y. Karyadi K., MT
Pengajar pada Jurusan Arsitektur, Universitas Katolik Parahyangan

Kita melihat sebuah Pohon hidup hijau, lebat daunnya dan lebat buahnya. Yang terlihat dari batang, cabang, dahan, ranting, daun hingga buahnya. Di sisi lain yang tidak terlihat adalah akarnya kareana berada dalam tanah. Demikianlah, semua itu adalah ‘organ pohon’ yang kita kenali bila mau tahu itu pohon apa?

Semua organ pohon pada dasarnya berbeda bentuk, berbeda posisi dan berbeda pula peran khususnya. Tapi ‘organ pohon’ bukan ‘pohon’! Itu hanyalah bagian dari pohon tersebut. Pohon hidup itu berarti ‘holistik’. Apa makna dari semua ungkapan ini?

Dari ‘pohon’ kita bisa ‘belajar’ banyak. Hakekat pohon itu mengajarkan 2 nilai. Yakni ‘persatuan’ dan ‘pelayanan’.

Nilai ‘persatuan’ dapat kita lihat dari bagaimana semua organ bersatu saling mendukung membentuk jalinan sesuai perannya hingga mewujudkan bentuk sebuah pohon yang hidup dan utuh.

Nilai ‘pelayanan’ dapat kita lihat bagaimana semua organ pohon masing-masing saling berkorban untuk member pelayanan kepada organ pohon yang lain, agar menjadi pohon yang hidup dan sehat.

Demikianlah sebuah pohon merupakan bagian dari lingkungan alam ciptaan Tuhan; telah member contoh; arti ‘persatuan’ dalam ‘perbedaan’, dan arti ‘pelayanan’ dalam ‘pengorbanan’ bagi kehidupan bersama. Mari renungkan apa arti peran kita dan bagaimana kehadiran kita bagi kehidupan bersama dalam bermasyarakat dan bernegara?.

Renungan memperingati Hari Kemerdekaan RI ke-69

17 Agustus 2014.

07Jun

Haryo B. Guruminda
Peneliti pada PusLitBang Pemukiman PU

Untuk apa saya hidup? Pertanyaan ini telah saya renungi selama sepuluh tahun terakhir. Secara sadar di depan mata, saya melihat dunia kita dalam ancaman, udara kotor, krisis moral, krisis energi, bahan pangan mahal, dan mayoritas orang yang saya kenal dalam kondisi stress. Ketamakan dan keserakahan menggunakan teknologi untuk mengeruk bumi telah dilakukan oleh para pendahulu kita. Saya ingin membuat dunia menjadi lebih baik, akan tetapi saya hanyalah seorang warga dunia yang memiliki keterbatasan. Ayah saya adalah salah satu pemimpin bangsa yang saya idolakan, sebelum meninggal beliau pernah berkata pada saya, dunia ini akan maju bila dipimpin oleh teknokrat, suatu statement yang misterius dan berusaha saya terjemahkan hingga saat ini. Dalam kehidupan saya selalu berdoa agar Tuhan membimbing saya di jalan yang menurutNya benar. Saya selalu tanamkan dalam hati, bahwa apapun jalan dan amanah yang diberikanNya merupakan jalan terbaik dan akan saya lakukan dengan sebaik-baiknya.

Sejak 2010, saya mulai menjadi “teknokrat” yang bertugas untuk menguasai teknologi masa depan di bidang permukiman untuk kepentingan bangsa. Dalam ikhtiar saya mensosialiasikan teknologi tepat guna bagi masyarakat, saya bertemu dengan Pastor Ferry. Sebuah perkenalan singkat berdasarkan iklan yang saya pasang di internet. Perkenalan berlanjut menjadi sebuah kerja sama yang akhirnya menjadi sebuah persahabatan dengan para pejuang lingkungan di Eco Camp. Kesamaan mimpi untuk berbagi dan menjadikan bumi menjadi lingkungan yang lebih baik merupakan kekuatan utama yang menggerakkan Eco Camp. Bersama Eco Camp saya mulai optimis bahwa pemikiran saya mengenai konsep dunia ekologis dapat terwujud. Saya yakin bangsa ini akan maju bila generasi muda kita memiliki rasa cinta terhadap sesama dan lingkungan, dimana teknologi adalah salah satu alat untuk mencapai impian tersebut. Eco Camp adalah awal dari hal tersebut, dimana saya yakini adalah amanah dari Tuhan agar saya membantu dan berbagi ilmu di tempat ini, sebuah awal dari harapan untuk dunia yang sangat indah.

28 Agustus 2014

07Jun

Agustinus Sarwanto SJ, M.Hum., MBA
Pendiri dan Pengawas Yayasan Sahabat Lingkungan Hidup

Dalam proses penciptaan dikisahkan bahwa setiap kali Allah memandang sejenak hasil karyaNya: “Allah melihat bahwa semuanya itu baik.” Para akhir hari keenam, hari terakhir penciptaan, ketika langit, bumi dan segala isinya telah selesai diciptakan, lebih lanjut dicatat: “Maka Allah melihat segala yang dijadikanNya itu, sungguh amat baik.”

Manusia yang diciptakan menurut gambar dan citraNya dipercaya untuk menguasai dan mengelola seluruh ciptaan yang telah diciptakan. Oleh karena itu sebuah pertanyaan kiranya pantas untuk terus menerus diajukan dan pantas dijawab dengan jujur pula: apakah langit, bumi dan segala isinya sekarang ini masih sungguh amat baik atau semuanya masih baik?

Berkebalikan, sungguh sangat memprihatinkan! Di hampir setiap titik di muka bumi, di dalam bumi dan bahkan di atas bumi terasakan kerusakan bumi yang dahsyat, Zaman sekarang ini merupakan masa krisis yang sungguh menentukan perjalanan hidup umat manusia. Kalau manusia tidak mampu melewati asa krisis dan menemukan solusi yang teoat, maka langit, bumi, dan segala isinya akan punah dan hancur. Kalau berhasil manusia akan memasuki sebuah sejarah baru yang sering disebut sebagai zaman Xenozoic. Selain kerusakan yang memprihatinkan, kita dapat mengamati pila bahwa disetiap penjuru dunia bergemalah suara panggilan untuk terlibat merawat dan mencintai bumi, sehingga semuanya bisa berseru lagi: “Segala sesuatunya sungguh amat baik”.

Kiranya bisa dipahami bahwa manusia sang citra Allah yang telah jatuh dalam dosa dan membawa kelemahan dan kekurangan dalam dirinya kadang tuli dan kurang peka terhadap panggilan dasarnya : memperjuangkan supaya langit, bumi, dan segala isinya dalam keadaan sungguh amat baik. Manusia justru lebih banyak dikuasai oleh nafsu, keserakahan dan ketamakannya, sehingga justru membawa kerusakan yang makin lama makin dahsyat dan punya daya menghancurkan yang semakin mengerikan. Kini banyak orang takut memandang masa depan bumi dengan segala isinya.

Apakah Anda masih optimis dengan masa depan bumi dengan segala isinya? Panggilan hati macam apa yang bergema dalam relung batin Anda yang terdalam? Pastilah kalau Anda waras pikiran Anda dan sadar, Anda akan seratus persen mendukung sesama insan manusia yang terpanggil untuk merawat dan mencintai bumi dengan segala isinya, sehingga segala sesuatunya menjadi makin indah dan makin baik adanya.

Yayasan Sahabat Lingkungan Hidup merupakan kumpulan orang yang terketuk oleh panggilan alam, panggilan Tuhan Sang Pencipta untuk ingat akan tugas awal penciptaan : merawat dan mencintai bumi sehingga semuanya sungguh amat baik keadaannya. Banyak hambatan dan tantangan yang muncul. Tetapi semuanya tidaklah menyurutkan tekad yang ada.

Kami berharap dan sangat yakin bahwa akan semakin banyak orang yang terketuk untuk terlibat dalam gerakan ini, termasuk Anda. Kami yakin dan berharap bisa ikut menyaksikan umat manusia mulai memasuki zaman Xenozoic dimana makin banyak manusia mampu bersinergi dengan seluruh alam ciptaan berjuang, berziarah memasuki zaman baru yang indah menjanjikan.

Manusia bersatu dengan Sang Khaliknya menciptakan warna warni keindahan yang muncul dari potensi setiap ciptaan yang ada.

07Jun

Ir. Karyadi Kusliansyah, MT, IAI
Pemerhati Yayasan Sahabat Lingkungan Hidup, Dosen UNPAR

  1. Pohon itu lambang hadirnya keserasian kehidupan dunia. Pohon tumbuh subur menandakan di lingkungan tersebut berlangsung siklus kehidupan seimbang. Jadi, cermati lingkungan hidup kita, apakah pohonnya subur? Jika ya, berbahagialah kita akan mendapatkan lingkungan kehidupan yang harmoni dan sehat. Tapi apabila tidak, maka petanda lingkungan tinggal kita sedang sakit. Apa yang bisa kita perbuat sebelum kehidupan kita tertular sakit?
  2. Pohon itu mengajarkan kualitas kehidupan bernilai bila dibina sejak dini. Pohon hidup subur, berbuah lebat dan baik, tidak lepas dari adanya pihak yang menanam, milih bibit baik, tempat yag tepat, memupuk dan menyianginya secara rutin. Akhirnya memanen hasilnya, baik bunga atau buahnya yang berkualitas. Artinya: Tak ada sesuatu hadir ada dalam sekejab. Semua perlu waktu yang cukup untuk mengkondisikan pohon tumbuh dan menguji keuletan pihak yang menanam dan merawatnya secara baik. Bunga dan buah adalah hasil proses sebuah komitmen.
  3. Pohon itu mencontohkan kepada kita kehidupan adalah semangat dari peran dalam kebersamaan. Cermati sebuah pohon, Tuhan ciptakan pohon tumbuh dari kecil hingga besar dalam semangat itu. Perhatikan organ pada pohon; ada akar, ada batang, ada dahan, ranting, daun, bunga hingga buah. Semuanya berbeda peran dan berbeda pula bentuknya. Akar tersembunyi dalam tanah tapi tanpa dia pohon tidak tegak hidup di bumi, batang tegak, kokoh figurnya, tapi dia berperan memikul kehidupan semua organ lain di atasnya, dan seterusnya semua organ hingga daun, bunga maupun buah pohon tersebut. Punya peran berbeda tapi semuanya hadir bersama dan berperan harmoni saling dukung saling memberi untuk satu nilai kehidupan bersama yaitu kehidupan sebuah pohon tersebut. Bayangkan seandainya masing-masing organ tersebut melawan peran dan tidak mau saling mendukung? Yang namanya pohon itu tidak ada lagi.
  4. Belajar dari spirit sebuah pohon di atas, mari kita renungkan. Tuhan memberi kita peran berbeda, punya talenta dan peruntungan masing-masing, dibalik itu tahukah kita akan satu nilai kehidupan bersama kita? Apa peran kita mendukung kehidupan bersama kita? Untuk itulah kita hadir, tidak untuk menyoal perbedaan tapi saling menjaga, saling mendukung saling memberi dalam kesatuan harmoni. “Unity in Diversity“. Banyak yang bisa kita lakukan dalam kehidupan bersama di dunia ini baik untuk kelestarian lingkungan alam tempat kehidupan kita, yang berguna nantinya untuk lebih memuliakan kualitas lingkungan kehidupan kita sebagai manusia kini maupun untuk generasi kita mendatang. Kualitas kehidupan bersama diuji dalam komitmen tindakan kita menanamnya. Mari kita wujudkan satu nilai kehidupan bersama kita dalam komitmen forum ini. Semoga bermanfaat.

07Jun

Dr. Ir. Yasmin Suriansyah, MSP, IAI, GP
Koordinator Green Building Team Eco Camp, Dosen UNPAR

Mengapa saya mau membantu untuk Eco Learning Camp?

  1. Minat saya terhadap pendidikan dan kelestarian lingkungan.
  2. Sesuai dengan kapasitas/kompetensi saya sebagai certified GP.
  3. Sejak ditawarkan sampai dengan saat ini, saya merasa “klik” dengan kegiatan ini. Saya tidak dapat menggambarkan dengan uraian kata-kata agar berkesan ilmiah atau apapun untuk istilah klik tersebut. Mungkin setara dengan sregfitklop, atau sejenisnya. Itu saja. Intinya, hati saya nyaman menjalaninya. Kesan pertama, ketika saya datang ke lokasi, yang saya rasakan dihati adalah “nyes”. Itupun susah dicari uraian kata-katanya.

Jadi yaa… begitu saja.

07Jun

Lucky Tjandradinata
Ketua Tim Dana

Ketika saya diajak untuk menjadi panitia pembangunan Eco Learning Camp, saya tanya apakah sudah dibawa dalam doa. Untuk saya penting sekali bahwa saya akan membantu suatu rencana yang direstui Tuhan. Akhirnya ketika saya mengunjungi tempat yang akan dibangun kami berdoa bersama mohon petunjuk Tuhan.

Ada tiga alasan lain saya akhirnya mau membantu rencana ini. Pertama, karena anak-anak saya. Saya membayangkan anak-anak saya dan anak-anak lain akan menggunakan tempat yang akan kita bangun untuk belajar hal-hal yang penting untuk perkembangan dan masa depan mereka.

Kedua, karena rencana ini melibatkan masyarakat lintas suku dan agama. Alangkah indahnya kalau kita bersama-sama dengan latar belakang yang berbeda, termasuk perbedaan suku, agama, latar belakang pendidikan, pekerjaan, dan lain-lain bisa bekerja sama untuk mewujudkan rencana yang berguna untuk masyarakat, khususnya untuk anak-anak dan generasi muda.

Ketiga, saya merasa tempat yang akan dibangun adalah tempat yang sejuk dan damai. Saya berharap bahwa di tempat ini kita akan membangun tempat yang membawa kesejukan dan kedamaian bagi masyarakat pada umumnya.

Saya mengundang saudara-saudara semua untuk ikut serta mewujudkan rencana yang semoga bisa kita persembahkan bagi sesama manusia dan Tuhan.

Salam

07Jun

Drs. Wawan Husin
Tim Pemerhati Yayasan Sahabat Lingkungan Hidup, Dosen Politeknik Bandung, Story Teller Eco Camp

Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh, salam sejahtera bagi semua umatnya, dan Om Swastiastu.

Saya mengenal P. Ferry mungkin baru 2 tahun. Melewati banyak proses baru kita saling mendengarkan dan ngobrol. Ketika sidang di UPI tentang gagasan dalam disertasinya tentang Eco Learning Camp. Saya kira itu amat penting bagi saya. Apa yang diterangkan itu bagi kami bagi orang Sunda itu “kila-kila” atau tanda-tanda alam, tanda-tanda semesta bahwa apa yang dia lakukan itu penting untuk dunia. Dunia itu lebih luas dari bumi, dunia itu dunia pikiran kita. Dunia itu begitu luas.

Ketika saya semakin terlibat di Tahura, bertemu dengan Bu Shierly dan anak-anak muda seperti Irene, Lukas, dan Tiara yang demikian antusias. Saya kira ini juga insprirasi bagi saya untuk ikutan dan melakukan sesuatu dengan apa yang mereka lakukan. Ini bukan dorongan otak, tapi lebih pada dorongan efektif, lebih pada dorongan hati. Bagaimana saya umur 61 tahun dipertemukan dengan orang-orang seperti mereka? Yang cerita dasarnya adalah cerita tentang dunia, tentang masa depan.

Kemudian pertemuan dengan Sr. Elly selama 3 hari 2 malam dan teman-teman Eco Learning Camp membuka pikiran saya tentang dunia-dunia baru, dunia yang sedang kita inginkan bersama. Pertemuan dengan Sr. Elly saya jadi ingat akan karuhunSunda yang bercerita tentang lemah cai, kehijauan tanah air, kehijauan sawah, maka saya merasa nyambung banget.

Maka bukan lagi cerita nanti kita akan begini begitu, sebab yang terjadi adalah pilihan yang baru Thomas Berry dengan semua buku-bukunya menjadi pengalaman yang luar biasa, inspirasi yang menguatkan.

Terakhir dengan Sr. Amie, meski saya hanya mengikuti sebagian di awal dan di akhir, jadi menambah keyakinan bahwa jalan yang saya tempuh ini adalah jalan baru, visi baru tentang kosmologi, tentang planet bumi yang ada, tentang alam semesta, apa yang kita inginkan seratus tahun, dua ratus tahun, tiga ratus tahun ke depan. Bukankah kita selalu memiliki harapan ke depan? Semua itu bukan hanya untuk orang Indonesia, orang Nepal, orang India, namun untuk semua orang yang masih hidup yang masih bisa bernafas di muka bumi ini. Menurut saya hal itu seharusnya disadari semua orang. “Kila-kila-nya” atau tanda-tandanya itu sudah nampak dan berjalan.

Saya ingat cerita tentang Ksatria Shambala, tidak ada senjata, tidak ada seragam, tidak ada warna panji, artinya we are all included di dalam kancah pemahaman dunia baru, di dalam usaha menyadari apa itu bumi. Dan lalu bagaimana kita melewati waktu, di mana ada kesementaraan menuju kemaha-abadian. Sehingga semua orang yang terlibat, apapun profesinya, apapun posisinya dan kedudukannya, kita semua bisa berjalan berdampingan dan berpegangan tangan. Bukankah kita sesungguhnya dari ibu bumi yang sama? I love you allI bless you all.

07Jun

Sr. Amie Hendani, SGM
Green Mountain Monastery

“We’ve gone mad, star raving mad… destroying the Planet, but more specifically we are destroying the last 65 million years of life development. We don’t understand the Earth as a sacred reality, the trees are sacred, the rivers, the mountains. The Universe, in particular Planet Earth is a communion of subjects, not a collection of objects. If we don’t learn that, nothing is going to work.”

Thomas Berry, CP – The Great Work

Kata-kata dari Thomas Berry, CP seorang imam Katolik dan ahli sejarah budaya-budaya khususnya budaya Timur selalu membakar hati saya, mengingatkan bagaimana kita sudah seperti orang-orang yang kehilangan akal sehat, merusak dan menghancurkan Planet Bumi beserta sistem kehidupannya yang merupakan hasil suatu proses sepanjang 65 juta tahun. Kita tidak memahami bahwa Bumi merupakan suatu realitas kesucian, bahwa Bumi merupakan persatuan subyek-subyek dan bukan sekedar koleksi obyek-obyek belaka yang bisa dengan seenaknya diperlakukan sesuka hati. Tanpa memahami realitas ini, kehidupan yang lestari tidak akan terwujud.

Sebagai salah satu anggota komunitas Green Mountain Monastery yang didirikan langsung oleh Thomas Berry, CP perjalanan hidup membawa saya pada perjumpaan-perjumpaan dengan orang-orang yang memahami bahwa ada yang salah dengan cara kita memperlakukan Bumi dan makhluk-makhluk yang hidup di atasnya termasuk perlakuan terhadap sesama manusia. Melalui Sr. Elly Verrijt, MMS dari Belanda akhirnya saya berkenalan dengan teman-teman dari Yayasan Sahabat Lingkungan Hidup (YSLH).

Di tengah-tengah perasaan gelisah karena selama beberapa tahun terakhir mencoba mencari jaringan kerja sama di Tanah Air serta kerinduan untuk melakukan sesuatu bersama-sama sebagai kontribusi Bangsa Indonesia bagi dunia – mengingat sumbangan populasi kita yang termasuk besar di Planet Bumi – bertemu dengan kelompok ini seperti mendapatkan air sejuk di tengah-tengah kehausan.

Menghabiskan waktu beberapa hari bersama mereka juga memberi suatu kesan mendalam. Mengalami sendiri kesungguhan dan kecintaan mereka pada anugerah kehidupan merupakan pengalaman tak terlupakan. Kerja sama dan energi setiap individu di dalamnya yang berusaha untuk bersinergi merupakan suatu harta tak ternilai bukan hanya bagi YSLH sendiri maupun bagi mereka yang kelak datang mengikuti kegiatan, tetapi juga harta bagi Planet Bumi bahkan Alam Semesta. Bukan hanya kecintaan terhadap alam dan kehidupan yang sungguh terasa tetapi juga rasa persatuan dalam kemajemukan latar belakang (suku, agama, pendidikan, usia, dll) para pribadi yang terlibat di YSLH.

Thomas Berry menyebutkan bahwa ada empat area yang perlu bekerja sama dalam mewujudkan suatu kehidupan yang saling mengembangkan antara manusia dan Bumi, yaitu bidang sosial politik, pendidikan, ekonomi dan bidang religius. Empat area ini sangat menentukan masa depan kita. Buka suatu kebetulan bahwa selain pendidikan lingkungan sebagai bidang yang secara khusus ditangani oleh YSLH, individu-individu yang terlibat di dalamnya pun datang dari keempat area ini. Ini semakin menunjukkan bahwa keberadaan YSLH ini merupakan perwujudan dari amanah Bumi itu sendiri dan amat sangat perlu didukung.

06Jun

Ir. Bintang Agus Nugroho, IALI,GP.
Arsitek Lanskap, Penggiat Bangunan Hijau dan Gerakan Kota Hijau

Saya jelas setuju sekali dan merasa terhormat diundang untuk turut mewujudkan rencana Eco Learning Camp ini.

  1. Eco Learning Camp memang sungguh diperlukan untuk menggugah orang kota khususnya anak-anak, bahwa kita perlu mempraktekkan cara hidup yang menjamin planet ini, masyarakatnya serta sumberdaya ekonominya: berkelanjutan (sustainable).
  2. Eco Learning Camp yang mengembangkan konsep ‘nature, culture, and science‘ ini, jelas menumbuhkan harapan bahwa dari Eco Learning Camp ini akan lahir generasi yang berperilaku ‘green‘, menjadi green-leader dan agent of change, yang memperbaharui budaya kota menjadi lebih bermutu ke masa depan.
  3. Eco Learning Camp yang merupakan langkah lanjut dari ‘Spirit Camp‘ ini, saya yakini akan dapat mengemban amanat pendidikan lingkungan yang efektif, membangun komitmen lingkungan yang penuh semangat, memahami iptek yang mendalam, serta fasih bekerja sama dalam masyarakat.
  4. Eco Learning Camp ini, yang membumikan multikulturalisme, lintas etnik, lintas iman, diharapkan akan mengajak dan mengajar masyarakat untuk hidup bersama, rukun dan saling peduli, dengan keutamaan yang bersumber dari kultur, etnik maupun imannya masing-masing.

Wah, anehlah saya jika tidak tertarik ajakan P. Ferry ini berikut teman-teman di Bandung yang sudah sekian lama menggeluti aktivitas ini. Semoga saya bisa menyumbangkan pikiran terbaik dan gagasan terbaik demi terwujudnya harapan-harapan yang tinggi di langit itu. Saya mengenal yang mengajak saya adalah para pengubah mimpi jadi kenyataan yang gigih dan terbukti. Tuhan yang memberkati rencana luhur ini niscaya berkenan menaburkan keajaibanNya.

Salam hijau rukun sejahtera

1 2 3