EcoAdmin

06Jun

Sr. Elly Verrijt, MMS
Pendamping Spiritualitas Ekologi

Never doubt that a small group of concerned citizens can change the world. Indeed, it is the only thing that ever has.” – Margaret Mead

SOMETHING NEW IS HAPPENING IN BANDUNG, HAVE YOU ALREADY DISCOVERED IT?

We live in a very special time. A time of great hope for some and a time of doomsday for others. A time for development and economic growth for many and rightly so, and a time of vision for a sustainable life in harmony with the Earth and her life for others. The growth of the economy cannot be reached when the environment is more and more damaged.

A new vision is needed on how we all can move into the future together: Earth, her life and all people who live now and in the near future. It is not a matter anymore of solving the ecological crisis and restoring the damage that has taken place already.

It is time for realists who will solve the problems of the world with money and practical solutions and a time for wise people who dream in connection with what is happening to the Earth and the environment today and will work together to make a community of life happen in harmony and peace.

We need a change from being focused on the problems of the environment and how to solve them, towards how to help the Earth and all her life to be able to function so that we all can live well. Not in wealth but in well being. A matter of change to ecological values.

What time is it now for Indonesia, the nation? For the environment, damaged and struggling to continue to provide what the fast growing number of people ask for, now and in the future. What time is it for the young people and the children and what can we tell them when they ask us about their chances of the future? What they can live for and what to spend their lives for?

Where will the perspectives, the light and insight come from to move toward the future; a sustainable community, a healthy environment, a place where each person can live with what is needed for a decent life and not with what our needy eyes want to obtain?

It is time for a center to learn, to study, to reflect, to hope and share. To learn to live in harmony with Ibu Pertiwi. Eco Learning Camp, Eco Living Camp!

ECO LEARNING CAMP: WORKING TOGETHER FOR A FUTURE FOR THE EARTH AND HER LIFE

Again and again it happens that places of light appear on Earth. All over the world people find each other in a new vision, a new hope, a new understanding of who they are, why they are here and live in this time of great transitions and changes and where to go from the present situation in to the future. People who carry light, hope and can look further than the problems and the confusion of our days. People with a great vision.

Such a place of light is Eco Learning Camp. It took a longtime of preparation, a long journey of searching, trying, enthusiasm, expertise and most of all of deep compassion for the children of our Earth and their future. Many people have already been touched by the love of Mother Earth for each creature and have grown in their love for Ibu Pertiwi: in a very concrete way. The love and dedication of the people who have started Eco Learning Camp has made this happen.

And people have come, drawn by the vision, the love and the sense of responsibility that is there. People of all walks of life, different religions, different ages. People are already drawn to this place and in the near future their number will only grow. They are workers spreading light, hope and their dedication gives hope to those who have lost perspective and do not know where to go. We will move forward, with a deepened vision: to be a place where people can come with their questions, not just questions about the environment but about our call in the present time of ecological crisis. Where we can find new values, new insights about how to live a balanced life in the Earth Community. There is space for the spiritual quest that lies deeply hidden in the hearts of our young and not so young. Where we will celebrate the story of creation and heal our broken relationship with the web of life.

It will be a place of study; study of the ways of the Earth and the Cosmos. Sources of scientific insight will teach us wisdom, endurance and wonder. In that sense Eco Learning Camp will be a place of hope for a better future. A place where we will meet one another and sense the tremendous power we have to make the changes in our personal life and in our way of living with the Earth that are needed. We will support each other and learn from each other.

It is a place to train the leaders of the future. Not so much by courses, but by understanding the ways of the Earth and be inspired by this. The real leaders in this ecological time are those who understand what is happening to the Earth and her life. Leadership skills are rooted in new ecological understanding.

EVERYBODY CAN PARTICIPATE, EVERYBODY CAN COME AND BRING THE BEST OF SELF

Lets us build this place, feel invited. Just ask yourself what you can give from what you have. Imagine that all the money that could be made available if you own it, is for this better future for the Earth, the quality of life of our children, the vision and hope that we will develop here. It will bring so much fruits, if it is offered to the life of the Earth, the only source of life that we depend on. The money is for building strong relationships among people of good will, those who are growing into more and more awareness of what one person can do for the whole community of life.

If you feel you can give, then give it because you are needed in the circle. Because the Earth has given you the opportunity to earn and own it and now you can give something back to Ibu Pertiwi.

Then fundraising is fundraising, friends of the Eco Learning Camp, friends of the community of life, friends of the future of Ibu Pertiwi, friends of beautiful Indonesia.

In love and respect for our journey together. In great trust: God is with us…

06Jun

Shierly Megawati
Ketua Pengurus Yayasan Sahabat Lingkungan Hidup

Salah satu kegiatan kami yang menurut saya cukup menarik dan penting untuk orang tua seperti saya adalah kegiatan nenek moyang dan cucu. Seperti apakah kegiatan tersebut, berikut adalah cuplikan kegiatan yang saya maksudkan.

Ada dua orang duduk berhadapan, seorang berperan sebagai cucu, dan yang lain berperan sebagai nenek moyang.

Sang cucu memberikan pertanyaan dan nenek moyang menjawab. Kegiatan ini buat saya adalah kegiatan yang selalu menggugah kesadaran dan daya pikir di dalam kegelisahan atas apa yang terjadi di muka bumi.

Perkenankan saya mengajak Bapak dan Ibu untuk berimajinasi ke dalam kegiatan yang saya sebutkan di atas, yaitu bila saatnya tiba kita menjadi nenek dan kakek, di hadapan kita hadir seorang anak kecil polos yang sangat lucu (bayangkan sungguh, seorang anak kecil cucu Anda tercinta cucu yang untuknya Anda sungguh mau melakukan apapun) dan mendengarkan pertanyaannya, dan jawablah dari lubuk hati yang paling dalam dan penuh ketulusan.

“Kakek… Nenek… Bolehkah aku bertanya?

Katanya dulu, negeri kita ini sangat indah? Langitnya biru, tanahnya berselimut tumbuhan hijau sangat subur, udaranya bersih, dan pohon-pohon tinggi menjulang sebagai tempat bernaung sehingga memberi keteduhan dan kesejukan. Air sungai mengalir jernih, menampakkan dasar, ikan-ikan berenang dengan gembira… benarkah demikian, Kek… benarkah, Nek?

Lalu… kemana semua itu? Mengapa tempat aku hidup saat ini, tidak lagi indah, udaranya kotor, tidak ada lagi langit jernih yang bisa kupandang, tidak ada lagi lapangan rumput tempat aku bisa berlari dan bercengkrama dengan kupu-kupu seperti yang kulihat di dalam gambar-gambar?

Udara begitu menyesakkan dan air begitu hitam karena limbah. Kemanakah, Kek? Kemanakah semua itu, Nek? Siapakah yang membuat semua itu hilang? Siapa yang merusak muka bumi ini? Siapa yang membuat seluruh hewan-hewan dan makhluk hidup lain punah tanpa jejak? Siapakah, Kek? Siapakah, Nek?

Kakek… Nenek… bila punya kesempatan di zaman Kakek dan Nenek, maukah Kakek dan Nenek berjuang menyelamatkan dunia yang indah itu… sehingga aku, pada zamanku masih tetap bisa mewarisi dan menikmatinya? Maukah, Kek? Maukah, Nek?”

Bapak dan Ibu, apakah jawaban kita untuk semua pertanyaan itu? Terutama pertanyaan terakhir. Maukah kita melakukannya? Menyelamatkan lingkungan hidup dari kerusakan, untuk kita wariskan kepada anak cucu kita? Mewariskan apapun yang kita anggap baik dan berharga untuk mereka.

Bila jawabannya adalah, “Ya! Saya bersedia…” maka Bapak Ibu akan menjadi Ksatria Shambala, seorang ksatria Ibu Bumi yang akan menjaga dan menyelamakan segala yang baik yang diciptakan Sang Pencipta.

Eco Learning Camp adalah sebuah tempat yang dibangun sebagai tempat lahirnya para Ksatria Shambala… tempat berlatih dan mengasah diri, tempat “Mulasara Bumi, Guguru ka Bumi“. Eco Camp adalah sebuah keajaiban! Keajaiban yang datang karena para ksatria yang menjawab “Ya” terhadap panggilan raja semesta alam.

Saatnya terompet Sang Raja berkumandang lagi, memanggil Anda sekalian, untuk melengkapi, menggenapi, mengulurkan tangan, mengirimkan bantuan, mengalirkan doa, agar Eco Camp sungguh menjadi sebuah oase bagi setiap insan yan  ingin mereguk kesegaran.

Dan percayalah… segala kegembiraan akan dihadiahkan kepada Anda bahkan ketika sedang berada di tengah kesedihan, para pendekar yang dipanggil dan menjawab, “Ya! Saya bersedia” dengan lantang dan semangat berkobar-kobar.

Mari… kami tunggu!

06Jun

Popong Otje Djundjunan (Ceu Popong)
Pendiri Yayasan Sahabat Lingkungan Hidup, Anggota DPR RI, tokoh Jabar

Sampurasun

“Orang yang benar-benar baik tidak akan membangga-banggakan apa yang sudah dia berikan kemarin, tapi hanya memikirkn apa yang dapat dia berikan besok.”

Itulah kata-kata mutiara dari seorang filsuf dunia “Kong Hoe Tjoe|. Makna dari apa yang dapat kita berikan besok adalah berbuat sesuatu secara mikro, untuk generasi muda bangsa secara makto; mana dari itu semua adalah pendidikan, pendidikan dan pendidikan. Mengapa saya sebut tiga kali? Karena berbicara tentang pendidikan, itu berarti tentang tiga lingkungan, pendidikan di lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, dan lingkungan masyarakat. Tiga-tiganya sama pentingnya kait-berkait, berkaitan erat, bisa dibedakan tapi tidak bisa dipisahkan. Memang, pendidikan bukan segala-galanya, tapi segalanya pasti ada kaitannya dengan pendidikan.

Yayasan Sahabat Lingkungan Hidup bertekad untuk mengambil peran aktif dalam mewujudkan pendidikan di lingkungan masyarakat.

Apakah itu bisa?

Jangan tanya bisa atau tidak, tapi tanyalah kepada diri kita: mau atau tidak?

Kalau kita sudah solid bahwa kita mau, everything will be oke!

Rekan-rekan tercinta…

Hidup kita sangat singkat, dan… setiap saat kita bisa dipanggil untuk menghadap-Nya.

Jadi tunggu apa lagi?

Berikanlah yang terbaik untuk masa depan anak-anak tercinta, buka kemarin, bukan lusa, tapi sekarang juga dimana ada kemajuan disitu pasti ada jalan,

lamun keyeng tangtu pareng

there is a will there is a way

-Tuhan pasti bersama kita

Rampess

06Jun

P. Ferry Sutrisna Wijaya
Pembina Yayasan Sahabat Lingkungan Hidup

Salam hormat,

Perkenankan kami memperkenalkan diri dari Yayasan Sahabat lingkungan Hidup yang bergerak dalam bidang pendidikan nilai berbasis lingkungan hidup, khususnya di Bandung bekerja sama dengan Balai Pengelolaaan Taman hutan Raya Djuanda Dinas Kehutanan Pemda Jawa Barat dan Universitas Katolik Parahyangan.

Sejarah kami diawali tahun 2002 dan di tahun 2014 ini kami medapat berkat Tuhan lewat seorang dermawan yang meminjamkan kepada kami sebidang lahan seluar 2416 meter persegi di Jalan Dago Pakar Barat 3 Bandung dekat Tahura Djuanda. Kemudian 4 orang dermawan juga meminjamkan lahan seluas 3075 meter persegi di sebelahnya.

Di atas lahan tersebut kami membangun Rumah Belajar Lingkungan Hidup atau Eco Learning Camp atau disebut dengan nama Eco Camp, yang digunakan sebagai sarana untuk mengadakan berbagai pertemuan dan pelatihan dalam bidang pendidikan dan lingkungan hidup. Eco Camp juga dibangun dengan mengikuti kriteria Green Building Council Indonesia.

Kami sampaikan berita bahagia ini dengan harapan Bapak & Ibu bersedia berjuang dalam bidang pendidikan lingkungan hidup untuk kepentingan masyarakat dan bangsa kita khususnya anak-anak dan generasi muda.

Atas perhatian dan dukungan Anda kami ucapkan terima kasih.

28May

Pendidikan nilai berbasis lingkungan hidup mendesak diupayakan dalam konteks kerusakan lingkungan yang kian masif saat ini. Kesadaran ekologis mesti dibangun dan dihayati sekonsisten mungkin dalam kehidupan sehari-hari. Hal inilah yang diupayakan oleh Adi dan kawan-kawan yang  mempromosikan serta menghayati ‘Tujuh Kesadaran Baru Hidup Ekologis’ di Eco Learning Camp, Bandung, Jawa Barat. Adi adalah salah satu dari 25 staf Eco Learning Camp atau disingkat Eco Camp.

Eco Camp, yang bernaung di bawah Yayasan Sahabat  Lingkungan Hidup, didirikan dua tahun lalu untuk mengembangkan aktivitas edukasi, konservasi, riset, dan pengembangan komunitas serta berbagai aktivitas kreatif lainnya yang berbasis lingkungan. Sebagai lembaga edukasi, Eco Camp menjangkau semua kalangan; anak-anak, remaja, mahasiswa, dan orang tua.

Di kantor Eco-Camp, Jln. Pakar Barat no.3 Bandung, Sabtu pekan lalu (27/8), GSS berbincang-bincang dengan Adi tenteng tujuh kesadaran itu.  “Tujuh Kesadaran Baru Hidup Ekologis” jelasnya ”adalah dasar dari setiap hal yang kami lakukan di  sini, dan juga dalam kehidupan kami sehari-hari. Kami memperjuangkan tujuh kesadaran itu tidak dalam artian karena kami telah mewujudkannya. Kami pun masih berjuang!”

Tujuh kesadaran itu kami wujudakan dalam gaya hidup dan juga gaya bangunan

Dengan gaya bertutur yang lugas dan mudah dipahami, Adi menguraikan ketujuh Kesadaran Baru Hidup Ekologis yang dihayati secara personal dan komunal di Eko Camp.

  1. BERKUALITAS: Sejak dilahirakan, setiap orang itu berkualitas. Selanjutnya kualitas itu ditingkatkan melalui proses belajar. Berkualitas yang kami maksud bukan dalam arti cerdas atau pintar tapi lebih kepada kemampuan mengolah kelemahan. Dengan mengolah kelemahan kita bisa menjadi lebih bertanggung jawab dan tidak tergantung sepenuhnya pada orang lain. Karena itu, di sini kami mengajak para pengunjung untuk melakukan pekerjaan sendiri seperti cuci piring, pasang seprei dan sebagainya. Pribadi berkualitas juga adalah pribadi yang mau belajar. Yang mau mengolah dan menerima kelemahan.
  1. SEDERHANA: Kami belajar untuk sederhana dalam gaya hidup, misalnya tidak berlebihan dalam makan, belanja, dan kepemilikan. Selain itu, kesederhanaan kami terapkan juga dalam pola pikir. Umumnya ketika menghadapi masalah orang langsung memusatkan perhatian pada solusi. Kami melatih diri untuk melewati tahap-tahap sederhana sebelum berusaha menemukan solusi. Misalnya, ketika menghadapi persoalan, pertama-tama kami menenangkan diri dengan cara sederhana: tarik nafas dalam-dalam, tahan, lalu lepaskan. Ini kami lakukan untuk mendapat kelegaan. Pikiran perlu ditenangkan dulu sebelum mengambil solusi.
  1. HEMAT: Mengapa kita harus hemat? Jawabannya ialah demi keadilan sosial (social justice). Satu miliar penduduk di bumi menderita kelaparan, tapi 1/3 makanan di bumi dibuang percuma. (red. merujuk Laudato Si’) Kita semua pasti pernah mencuri! Karena kita pernah membuang makanan. Orang yang membuang makanan sama dengan merampok jatah orang miskin.Saat ini ada 270 juta jiwa di Indonesia. Kita analogikan 270 juta jiwa itu setiap hari bisa makan. Jika mereka membuang satu butir nasi setiap hari, maka ada 270 juta butir nasi yang terbuang. Dan jika dalam satu karung beras ada satu juta butir beras, itu artinya setiap hari kita membuang 270 karung. 270 karung itu bisa digunakan untuk konsumsi berapa ratus orang?  Kita juga menerapkan pola hidup hemat dalam penggunaan listrik. Di kota besar, malam itu dijadikan seperti siang, padahal banyak daerah yang belum mendapat suplai listrik. Untuk kebutuhan penerangan, di sini kita mengguakan listrik tenaga surya. Kita meminimalkan penggunaan listrik dari PLN. Kami juga hemat dalam menggunakan air. Setiap staf di sini minum dari botol masing-masing. Kami jarang menggunakan gelas. Dengan itu kami tidak perlu berkali-kali mencuci gelas dan menghabiskan air.Menarik, di sini kami juga menelaah pribahasa hemat pangkal kaya. Bagi kami, hemat pangkal kaya ini bersifat egosentris. Kalau kita hemat, yang kaya adalah diri kita sendiri. Dengan rumusan yang berbeda, di sini kami mengatakan hemat pangkal selamat. Apa alasannya? Karena ketika kita bisa menghemat air. Listri, dan sumber daya yang lainnya, bukan hanya kita yang selamat tetapi orang lain juga. Juga bukan hanya orang lain, generasi yang akan datang pun ikut merasakannya. Hemat yang ekosentris ini selanjutnya akan menumbuhkan kepedulian.
  1. PEDULI: Setelah hemat, kita menumbuhkan kepedulian. Kepedulian dibangun mulai dari kepedulian terhadap diri sendiri, orang lain, dan lingkungan sekitar. Banyak orang saat ini bahkan kepada dirinya sendiri juga tidak peduli. Salah satu contoh ketidakpedulian ialah dalam hal nyontek. Ketika seorang siswa nyontek, hati nuraninya berteriak. Ia relatif tidak peduli pada teriakan hati nuraninya. Ia tidak peduli pada dirinya sendiri. Ia mengabaikan teriakan hati nuraninya. Banyak orang melakukan hal-hal yang merugikan dirinya sendiri. Merokok adalah salah satu contoh tindakan merugikan diri sendiri dan juga orang lain. Ini juga bentuk ketidakpedulian terhadap diri sendiri.
  1. BERBAGI: Setelah menumbuhkan kepedulian, akan muncul keinginan dan semangat berbagi. Di sini kita belajar berbagi. Kita bisa berbagi dari keterbatasan kita. Apa yang kita bagikan bukan hanya materi melainkan juga kemampuan, ilmu dan sebagainya. Kami belajar berbagi dari keterbatasan kepada setiap pengunjung Eco Camp. Tidak perlu menunggu kaya raya baru bisa berbagi karena kita bisa berbagi dari keterbatasan.Ketika lebaran kemarian, dua bulan lalu, kami menerima THR dari yayasan. Ketua Yayasan, Ibu Sherly, memberi kami tantangan. Apakah kalian mau membagikan 10%, 50 %  atau 100% dari THR anda? Alhamdulilah kami semua bisa berbagi dengan cara masing-masing. Salah satu teman kami hanya menyisakan 100 ribu dari THR-nya. Ia datang ke kampung halamannya di Garut. Ia bagikan THR-nya ke pengurus mesjid untuk pembangunan WC umum. Sisanya, seratus ribu, dia gunakan untuk zakat. Jadi, seratus persen dari THR-nya diberika untuk orang/pihak lain. Saya sendiri menyerahkan 90 % THR untuk kakak saya. Kebetulan kakak saya sakit dan harus dioperasi tiga kali karena ada pendarahan di otak. Saya menyerahkan uang THR saya untuk membantu dia. Ini merupakan bagian dari usaha kami di Eco-Camp untuk tidak hanya mengajarkan tapi juga menjalankan nilai-nilai itu.
  1. BERMAKNA: Setelah kita berbagi kita mendapat apa yang kami sebut kebermaknaan. Ketika kita ingin bahagia, tidak perlu hal-hal yang rumit tapi dengan hal yang sederhana yakni berbagi dengan orang lain. Ketika kita berbagi ita akan menemukan diri bermakna dan bahagia.
  1. Harapan: Setelah kita menjadi pribadi yang bermakna kita akan menjadi harapan. Yang paling penting di sini adalah partisipasi dan keamuan dari setiap pribadi untuk melakukan kebaikan. Dengan cara itulah kita menjadi pribadi yang membawa harapan di tengah masyarakat khususnya di lingkungan kita masing-masing.

Sdr. Charlest OFM dan Bapak Frans Borgias, Dosen di fakultas Filsafat Unpar Bandung, menyimak penjelasan tentang mikroba.

 Tantangan: Konsistensi

Adi insaf, tidak mudah mewujudkan Tujuh Kesadaran Baru Hidup Ekologis. Tantangan terbesar, menurut Adi, ialah konsistensi. “Tanpa konsistensi dalam perwujudan, kita hanya menyebarkan omong kosong, tak punya isi.”

Hal itu diamini Romo Ferry Sutrisna Widjaya, salah satu pendiri Eco Camp, yang siang itu ikut meladeni GSS bersama Adi. “Bisa ngga apa yang diajarkan kita laksanakan masing-masing? Jangan hanya ngomong, jangan hanya ngajar, praktiknya gimana? Itu yang paling sulit” tukasnya.

Ia menuturkan bagaimana ketujuh nilai itu mendapat perwujudannya secara personal. “Sementara kami sudah bisa meninggalkan daging, staf kami di bagian edukasi, Bapak Aleks, masih makan daging. Tapi ketika di kantor dia tidak makan daging. Saat ini ia mulai mengurangi, hanya makan daging saat weekend. Hari biasa, ia tidak makan daging. Buat dia itu perjuangan besar. Sementara buat saya, makan daging, sudah bukan masalah lagi. Tapi saya punya perjuangan lain lagi mencoba meninggalkan konsumsi susu”

Minum susu, kata imam diosesan Keuskupan Bandung itu, sebetulnya dilakukan di atas penderitaan anak sapi. “Sapi-sapi kecil, begitu lahir langsung dipisahkan dari induknya, dibasmi atau dibunuh. Karena kalau ada anak sapinya, produksi susu berkurang. Ibu sapi dipaksa untuk hamil, melahirkan, dan begitu melahirkan dia diperas. Ini hanya berlangsung dalam lima siklus. Sesudah lima enem tahun, produksi akan menurun dan kualitasna juga menurun. Dan akhirnya induk sapi itu dibunuh. Jadi, meningkankan konsumsi susu  sama dengan meningkatkan jumlah binatang yang harus dibunuh. Terkait upaya ini pun saya terus berjuang. Tadi pagi saya mampir ke rumah orang tua saya. Saya ditawarkan susu. Saya langsung ingat film”  tuturnya merujuk sebuah film yang melukiskan kekejaman terhadap sapi demi produksi susu.

Diteguhkan Laudato Si’

Tujuh Kesadaran Baru Hidup Ekologis, tutur Romo Ferry, dirumuskan sebelum Ensiklik Laudato Si’ terbit. “Ketika Laudato Si’ terbit kami merasa diteguhkan. Kami menemukan bahwa apa yang kami lakukan di Eco-Camp adalah hal yang diharapkan Paus. Laudato Si’ menjadi salah satu sumber inspirasi bagi kami yang tidak habis-habisnya. Saya membacanya lagi dan lagi. Dan selalu saja ada yang menarik setiap kali membacanya!”

Imam Diosesan Keuskupan Bandung ini mengharapkan adanya upaya mewujudkan amanat Laudato Si’ di setiap tempat. Ia mendambakan adanya, katakanlah, Laudato Si’Laudato Si’ Center yang tersebar dimana-mana sebagai pusat belajar perwujudan iman yang ekologis. Di Laudato Si’ Paus juga menegaskan pentingnya pendidikan ekologis dan perubahan gaya hidup. Eco Camp, tegasnya dengan penuh komitmen, berupaya untuk mewujudkan hal itu.

Tujuh kesadaran itu disebut baru. Kebaruannya untuk kami, tutur Adi, terutama ialah bagaimana hal-hal itu dilaksanakan secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari. “Sebetulnya juga tidak harus tujuh, karena kami pun berharap agar teman-teman yang pulang dari sini mengembangkan kesadaran-kesadaran yang lainnya di tempat mereka.”

28May

‘Bumi kita dipaksa tanpa henti untuk memuaskan nafsu manusia. Bumi ini sudah kecapean’

BANDUNG, Indonesia – Semua orang sudah siap di hadapan makanannya masing-masing. Semua kursi sudah terisi. Segera akan tercipta suasana makan malam yang meriah, ditingkahi obrolan dan tawa, seperti lazimnya.

Ternyata tidak. Yang ada hanya hening. Kemudian terdengar seperti suara denting lonceng. Orang-orang mulai makan dengan khidmat.

Tidak ada celoteh, tawa lepas atau sekedar cekikikan seperti lazimnya suasana makan bersama – tenang, tentram. Orang-orang terlihat sangat menikmati makanannya masing-masing; mengunyahnya pelan-pelan.

Padahal, acara makan itu bagian dari kegiatan eco learning yang menghadirkan Banthe Saddha, Kepala Vihara Dharma Bhakti, Dr. Fachruddin Mangunjaya dari Unas, Kepala Desa dari Kanekes, Romo Ferry Sutrisna Wijaya pada 31 Agustus lalu.

Apa ini semacam latihan etiket makan? Bukan.

“Kami mempraktikkan makan yang berkesadaran, yakni menghayati setiap suap makanan; mengkhidmati makanan dan mata rantainya yang menyampaikannya ke hadapan kami. Kami mensyukuri bumi yang menyediakan semua ini,” kata Shierly Megawati Purnomo, pendiri dan pengelola Eco Camp.

Semua makanan itu adalah hasil cocok tanam Eco Camp, yang ditanam, dipelihara dan diolah secara ekologis dan dipetik dengan penuh cinta.

Romo St Ferry Sutrisna Wijaya, pembina dan salah seorang pendiri Eco Camp, mengatakan cara hidup yang ditumbuhkan di sana bersumber dari keprihatinan terhadap nasib bumi yang makin tereksploitasi. “Bumi kita dipaksa tanpa henti untuk memuaskan nafsu manusia. Bumi ini sudah kecapean.”

Keadaan bumi yang sekarang ini makin menuntut manusia untuk hidup sederhana, efisien dan berkesadaran. “Sikap ini menghindarkan manusia untuk menikmati sesuatu yang dihasilkan melalui penderitaan makhluk lain,” katanya.

Ia mengimbau untuk sebisa mungkin tidak mengkonsumsi daging ternak. “Karena kebanyakan peternakan memaksa dan menganiaya ternak mereka mengasilkan daging yang cepat dan banyak,” kata Pastor Ferry, yang beberapa kali mengikuti pelatihan tentang Pemanasan Global yang diadakan mantan Wakil Presiden Amerika Serikat Al Gore di Amerika Serikat dan Australia.

Mata rantai kebaikan

Menurut Shierly, hidup berkesadaran mengantarkan energi kebaikan melalui frekuensi yang sesuai, sehingga akan bertemu dengan ‘kumparan kebaikan’ yang lain, yang juga mencari frekuensi yang sama.

“Orang-orang yang mencari kebaikan pasti akan bertemu – fisik atau non fisik – untuk melanjutkan penyebaran energi kebaikan dengan kekuatan yang terus membesar dan cakupan yang lebih luas,” katanya.

Banyak cara memelihara kesadaran. Selain dengan menghayati dan memperhatikan setiap tindakan sendiri, para pencari kebaikan bisa bermeditasi. Kegiatan meditasi yang teratur akan meningkatkan kepekaan rasa dan empati terhadap sesama makhluk dan rasa syukur pada Tuhan.

Dengan kepekaan rasa dan kesadaran murni, manusia bisa merasakan energi makhluk-makhluk lain yang juga berkesadaran. “Dengan kesadaran murni, kita bisa melihat banyak sekali keajaiban di sekeliling kita,” kata ibu dari dua anak ini.

Kesadaran murni mengatasi sekat-sekat ras, suku dan agama. Seperti bumi, yang tak pernah memilih-milih makhluk mana yang perlu dihidupinya.

“Matahari tak pernah memilih tempat dan benda yang ia sinari. Hujan tak memilih mana yang ia curahi. Dalam berbuat dan menyebar kebaikan, kita tak perlu memilih dan membeda-bedakan manusia berdasarkan suku, ras, agama dan status sosial.”

Awalnya, Eco Camp tak lebih dari sebuah tempat bermain anak di kawasan Bandung Utara. Setelah beberapa lama, ia berkembang menjadi tempat pendidikan luar sekolah. Dan mulai tahun 2012, Eco Camp menjadi tempat pembinaan kesadaran ekologis.

Sejak itu, dari Eco Camp telah lahir ratusan pemuda-pemudi, pendidik dan tokoh masyarakat yang tercerahkan. Mereka memilih jalan hidup Ksatria Shambala, yakni jalan hidup bersahaja, menyebarkan kasih dan kebajikan bagi segenap makhluk ciptaan Tuhan.

28May

KITA memasuki waktu hening. Silakan dengar suara alam sekitar, renungkan, tarik nafas dalam-dalam, dan lepaskan perlahan.

Dua kalimat itu terlontar dari Adi, seorang volunteer Eco Camp, Dago Pakar, Bandung, Jawa Barat. Saat itu, Adi memimpin penjelasan mengenai aktifitas di Eco Camp yang memiliki total lahan seluas 8.000 meter persegi (m2) itu. “Waktu hening ada dua, yakni jam 12 dan jam 15 siang. Tujuannya agar kita sejenak terlepas dari rutinitas dan mendekatkan diri dengan alam,” papar pria muda berkaos merah itu, Sabtu, 26 Maret 2016.

Waktu hening berlangsung sekitar satu menit. Awal dan akhir ditandai oleh sebuah bunyi isyarat yang keluar dari pengeras suara. Urutan waktu hening dipandu oleh suara perempuan yang mengajak pengunjung untuk sejenak menghentikan seluruh aktifitas untuk merenung.

Mendekatkan diri pada alam, bersahabat pada alam, dan lebih peduli dengan sesama manusia menjadi tiga pesan inti yang begitu kentara di Eco Camp. Kawasan yang dibesut oleh Yayasan Sahabat Lingkungan Hidup ini hadir memberi oase bagi padatnya kehidupan kita saat ini. “Salah satu cara kami adalah meredam pemanasan global. Kami tidak menyediakan makanan berupa daging di Eco Camp karena industri peternakan adalah penyumbang terbesar pemanasan global,” tutur Adi.

Dia mengaku, pihaknya mengusung ‘Tujuh Kesadaran Baru Hidup Ekologis’ yang ingin ditularkan kepada para pengunjung Eco Camp. Ketujuh Kesadaran itu mencakup; berkualitas, sederhana, hemat, peduli, semangat berbagi, bermakna, dan harapan. Kesadaran itu disebarkan lewat beragam program yang disediakan pengelola Eco Camp.

“Bahkan, kami punya lahan untuk berkemah, selain tempat bermalam bagi anak-anak peserta program di Eco Camp. Kami ada program berbayar, namun juga ada program tidak berbayar bagi para peserta,” ujar Ferry Sutrisna Widjaja, pendiri Yayasan Sahabat Lingkungan Hidup saat berbincang dengan saya, di Bandung, Sabtu siang.

Menurut dia, kehadiran pihaknya untuk menanamkan juga kedisiplinan kepada anak-anak yang datang ke Eco Camp. Karena itu, setiap anak-anak, bahkan orang dewasa yang datang ke Eco Camp, wajib mencuci sendiri alat makan dan minum yang digunakan. Banyak program yang disajikan Eco Camp, namun pesertanya dibagi dalam empat jenjang. Untuk Jenjang Pratama rentang usia 5 – 9 tahun. Lalu, Jenjang Muda (10 – 12 tahun), Jenjang Madya (13 – 15 tahun), dan Jenjang Adi (14 – 18 tahun).

“Ada program tujuh hari dan ada juga program sehari,” katanya.

 

Pastinya, Eco Camp ditata dengan apik dan seramah mungkin dengan alam. Misalnya, kata Adi, pihaknya memanfaatkan teknologi surya untuk penggunaan listrik. Dan, memanfaatkan air limbah septic tank untuk menyiram tanaman yang ada di sekitar kawasan. “Tentu bukan tanaman yang untuk dikonsumsi, sedangkan teknologi surya juga dilengkapi dengan listrik PLN untuk berjaga-jaga,” papar Adi.

Penataan yang apik terasa mulai dari bentuk bangunan yang berarsitektur ramah lingkungan, serta asrinya tanaman nan hijau di kawasan. Terdapat tiga bangunan utama, salah satunya Pendo Martha Tilaar yang terletak di depan bangunan utama. Pondok yang terbuat dari bambu dan dilengkapi furnitur dari kayu itu terlihat asri dari luar. “Pendopo itu dimanfaatkan untuk tempat pertemuan juga. Dinamai Pendopo Martha Tilaar karena beliau yang mendonasi pembangunan Pendopo itu. Kami hadir dari donasi banyak orang yang peduli, termasuk tanah tempat kami berdiri ini adalah pinjaman selama 20 tahun,” papar Ferry.

Ditopang oleh sejuknya udara di sekitar serta alunan suara serangga yang disebut tongerek, membuat para pengunjung ke Eco Camp benar-benar serasa dekat dengan alam. Apalagi, kawasan ini bebas dari asap rokok. “Para pengunjung yang ingin datang, syaratnya minimal dua puluh orang,” papar perempuan pengelola yang melayani kami dengan ramah.

Bagaimana harganya? “Relatif terjangkau kok, kami 20 orang membayar Rp 1 juta untuk layanan edukasi tentang alam, makanan ringan, dan makan siang,” kata Windu, salah seorang pengujung dari Bandung.

Mau menjajal? (edo rusyanto)

Sumber

18Jan

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Suspendisse congue feugiat libero sit amet blandit. Maecenas maximus tempus est, vel laoreet ante dapibus id. Donec orci tortor, dictum a auctor nec, viverra sit amet lacus. Aenean vel ligula varius, varius arcu vitae, tristique augue. Sed placerat vestibulum eros, et lacinia diam imperdiet non. Phasellus risus est, facilisis vel enim a, hendrerit pulvinar sapien. Duis elementum laoreet mauris, ut ultricies magna fermentum in. Nullam porta quam eget est blandit, id auctor odio luctus. Nullam nisi mi, ullamcorper in urna vel, finibus facilisis augue. Morbi fermentum vestibulum tempor.

Ut id eros non nibh dictum mattis. Donec ut diam id nunc facilisis imperdiet sed non risus. In sit amet purus turpis. Nullam tincidunt, enim quis porttitor vulputate, erat nibh dapibus ante, ac interdum dui ipsum vel erat. Donec aliquet turpis ex, sed tristique mauris dictum et. Sed eu nulla auctor, semper massa et, fermentum dolor. Morbi lacinia augue eu feugiat mollis. Quisque condimentum augue ut tortor eleifend, quis bibendum nunc feugiat. Aliquam dapibus laoreet ex, et lobortis arcu posuere in. Nullam scelerisque, sem eget vehicula hendrerit, leo turpis blandit justo, vel convallis ipsum metus nec diam. Sed quis vulputate enim. Vivamus pulvinar tortor nec neque fringilla, et dapibus quam convallis. Duis et aliquam sem, sed sodales nisi.

Nulla laoreet mattis finibus. Vivamus aliquam ipsum a lorem hendrerit accumsan. Duis sit amet dolor maximus, tincidunt nisi eu, pharetra enim. Indapibus neque rhoncus, tristique nisi sit amet, maximus erat.

Vestibulum ante ipsum primis in faucibus orci luctus et ultrices posuere cubilia Curae; Praesent eget nulla eu nibh iaculis mattis nec non nisl. Maecenas feugiat, ligula in consectetur condimentum, leo eros iaculis nunc, sit amet tempor urna neque vel enim. Phasellus suscipit iaculis metus, nec iaculis risus fermentum a. Aliquam tristique nulla vel sodales accumsan. In quam tellus, placerat eu libero vel, lobortis malesuada nulla. Vivamus feugiat lorem sed velit tincidunt iaculis vel et purus. Phasellus in lectus sed dui pharetra aliquam sed eu libero.

18Jan

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Suspendisse congue feugiat libero sit amet blandit. Maecenas maximus tempus est, vel laoreet ante dapibus id. Donec orci tortor, dictum a auctor nec, viverra sit amet lacus. Aenean vel ligula varius, varius arcu vitae, tristique augue. Sed placerat vestibulum eros, et lacinia diam imperdiet non. Phasellus risus est, facilisis vel enim a, hendrerit pulvinar sapien. Duis elementum laoreet mauris, ut ultricies magna fermentum in. Nullam porta quam eget est blandit, id auctor odio luctus. Nullam nisi mi, ullamcorper in urna vel, finibus facilisis augue. Morbi fermentum vestibulum tempor.

Ut id eros non nibh dictum mattis. Donec ut diam id nunc facilisis imperdiet sed non risus. In sit amet purus turpis. Nullam tincidunt, enim quis porttitor vulputate, erat nibh dapibus ante, ac interdum dui ipsum vel erat. Donec aliquet turpis ex, sed tristique mauris dictum et. Sed eu nulla auctor, semper massa et, fermentum dolor. Morbi lacinia augue eu feugiat mollis. Quisque condimentum augue ut tortor eleifend, quis bibendum nunc feugiat. Aliquam dapibus laoreet ex, et lobortis arcu posuere in. Nullam scelerisque, sem eget vehicula hendrerit, leo turpis blandit justo, vel convallis ipsum metus nec diam. Sed quis vulputate enim. Vivamus pulvinar tortor nec neque fringilla, et dapibus quam convallis. Duis et aliquam sem, sed sodales nisi.

Nulla laoreet mattis finibus. Vivamus aliquam ipsum a lorem hendrerit accumsan. Duis sit amet dolor maximus, tincidunt nisi eu, pharetra enim. Indapibus neque rhoncus, tristique nisi sit amet, maximus erat.

Vestibulum ante ipsum primis in faucibus orci luctus et ultrices posuere cubilia Curae; Praesent eget nulla eu nibh iaculis mattis nec non nisl. Maecenas feugiat, ligula in consectetur condimentum, leo eros iaculis nunc, sit amet tempor urna neque vel enim. Phasellus suscipit iaculis metus, nec iaculis risus fermentum a. Aliquam tristique nulla vel sodales accumsan. In quam tellus, placerat eu libero vel, lobortis malesuada nulla. Vivamus feugiat lorem sed velit tincidunt iaculis vel et purus. Phasellus in lectus sed dui pharetra aliquam sed eu libero.