hanesovia

09Jan

Bangun dari mimpi yang lama untuk membuat mimpi di jalan yang benar. Sesungguhnya, semua yang terjadi karena manusia merasa terpisah dari alam semesta. Padahal kita semua adalah satu.

Melihat kondisi saat ini, sangat tidak memungkinkan untuk tidak melakukan sesuatu atau hanya memilih pura-pura tidak tahu. Kita harus melakukan sesuatu. Karena, walaupun persoalan dan krisis yang dialami BESAR, tetapi kemungkinan dan harapan LEBIH BESAR.

Kita semua bisa melakukan apapun, yang paling penting adalah kreativitas diri masing-masing. Kita hanya perlu melakukan sesuatu yang kecil dan sungguh sanggup dilakukan dengan bahagia, bukan paksaan. Kita melakukan sesuatu di bidang kita masing-masing untuk kebaikan ibu bumi. Itulah panggilan hidup yang sesungguhnya. Dua puluh tiga peserta yang berkegiatan di Eco Camp mendapatkan sesuatu yang baru.  Para peserta juga diingatkan kembali untuk melakukan kembali hal-hal kecil yang sangat sederhana.

Setelah 4 hari berada di Eco Camp, tiba saatnya untuk pulang dengan membawa satu komitmen kecil yang sudah diikat. Komitmen akan tinggal komitmen jika tak dilakukan.

23Dec

Anak Alam adalah event yang dilakukan setiap tahun saat liburan sekolah. Kegiatan ini diperuntukkan bagi anak-anak SD kelas 4,5 dan 6 dan SMP kelas 1,2, dan 3 untuk mengisi liburannya. Liburan diisi dengan bermain sambil belajar dan untuk menumbuhkan kebiasaan-kebiasaan baik sejak dini dan perilaku yang mencintai bumi. Anak Alam dilaksanakan 2 kali dalam setahun saat liburan semester. Desember kali ini, ada 14 orang peserta Anak Alam dengan 12 anak laki-laki dan 2 anak perempuan.

Setelah semuanya dipersiapkan, akhirnya tanggal 18 Desember siang, anak-anak diantarkan oleh orang tuanya ke Eco Camp. Awalnya, mereka asing dengan suasana Eco Camp. Pembukaan pun dimulai, seperti biasanya dimulai dengan Tea Ceremony dan akhirnya say bye kepada orang tua yang tadi mengantar anak-anaknya.

Masuk kedalam kamar dan mulai memasang sprei dan sarung bantal sendiri. Ada yang langsung mulai memasang tetapi ada anak yang langsung menghampiri kakak pendamping untuk meminta bantuan. Mereka menanyakan caranya. Setelah semua terpasang, kegiatan selanjutnya dimulai yaitu latihan baris-berbaris. Lengkap dengan menggunakan sepatu, name tag dan membawa botol minum. Anak-anak dibagi menjadi dua kelompok yaitu Mentari Pagi dan Lembayung Senja. Kemudian dilanjutkan dengan cerita tentang apa yang terjadi dengan rumah kita, Bumi. Pada sesi ini, anak-anak diajak untuk melihat bumi dari dekat dan mengidentifikasi apa yang terjadi dengan rumah kita dan mau melakukan sesuatu untuk membuat bumi lebih baik dengan cara menjadi harapan. Harapan itu seperti bola lampu yang siap menerangi dunia.

Hari kedua diawali dengan duduk hening pada pukul 5.30 pagi. Bangun pagi adalah salah satu hal yang paling sulit dilakukan apalagi tidak dibangunkan. Setelah dibangunkan, kami memulai duduk hening, belajar untuk menjadi sedikit lebih tenang. Mereka juga belajar untuk melambat dan membumi, bersyukur atas nafas yang merupakan hal paling penting dalam hidup kita. Hari kedua dihabis dengan melakukan beberapa paket kegiatan yaitu Amazing Race, membuat beras kencur, membuat getuk, membuat Yoghurt, mendaur ulang kertas dan membuat hiasan natal dengan menggunakan botol bekas. Hari yang sangat melelahkan.

Hari yang ditunggu-tunggu adalah jalan-jalan keliling Bandung. Bedanya dengan yang sering atau sudah pernah mereka lakukan sebelumnya adalah kali ini mereka akan jalan kaki dan menggunakan angkutan umum. Setelah sarapan pagi, dengan lunch box yang sudah berisi makan siang dan membawa botol minum, anak-anak mulai berjalan kaki dari Eco Camp menuju ke Terminal Dago. Naik angkot dari terminal menuju ke Monumen Perjuangan yang ada di jalan Dipati Ukur. Disana ada museum yang berisi tentang perjuangan rakyat Jawa Barat. Mereka sangat antusias dan bertanya banyak kepada ibu pemandunya. Ibu pemandunya dengan senang hati menjelaskan kepada mereka. Setelah itu mereka juga diberi LKS untuk dikerjakan setiap kali mereka memasuki suatu tempat pada hari itu. LKS itu berisi pertanyaan tentang kondisi lingkungan dan area sekitar tempat yang dkunjungi. Disini, anak-anak dapat menganalisis lebih jauh dan melaukan observasi serta menjawab sesuai dengan apa yang mereka lihat dilapangan. Kemudian lanjut berjalan ke Museum Gedung Sate dan akhirnya beristirahat untuk makan siang di Taman Lansia. Setelah makan siang, dilanjutkan ke museum Geologi dan berakhir di Saung Angklung. Disini, bukan hanya melihat tetapi ikut merasakan dan belajar sedikit bagaimana cara memainkan Angklung.

Hari ke-4 adalah pergi ke Tahura. Mengenal keanekaragaman tanaman yang ada di Tahura dan mengetahu sejarah dari tempat bersejarah yang ada di Tahura yaitu Goa Jepang dan Goa Belanda. Di hari ke-empat ini mereka belajar lagi untuk benar-benar menuliskan apa saja yang dirasakan saat berada di Eco Camp. Sore harinya, mereka berlatih tarian bambu yang kemudian ditampilkan di acara penutupan.

Hari terakhir diisi dengan komitmen diri yang akan mereka lakukan dirumah masing-masing. Setelah itu, masing-masing orang tua datang untuk mengikuti upacar penutupan yang sudah dipersiapkan. Penutupan ini juga bertepatan dengan hari ibu. Sehingga kami semua yang ada disitu menyanyi lagu kasih ibu. Setelah itu, anak-anak memulai pertunjukan tarian bambu kepada orang tua mereka. Yang terakhir adalah hadiah dari Eco Camp untuk para orang tua yaitu pemutaran video kegiatan Anak Alam Desember 2019.

16Dec

Waktu yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. OMK St. Arcadius Bekasi akhirnya sampai ke Eco Camp pada pukul 12.30 kemarin. Disambut oleh kakak-kakak KS dengan permainan singkat dan tak lupa Tea Ceremony yang merupakan cara untuk menyambut tamu dengan pemberian sederhana. Dari teh, mereka belajar untuk menghargai proses dan kerja yang dilontarkan saat sharing. Kegiatan berlanjut dengan sharing tentang 7 Kesadaran Baru Hidup Ekologis yang menjadi perjuangan di Eco Camp.

Noble Silence. Semua kegiatan dilakukan dengan penuh kesadaran dalam keheningan. Malam harinya, mereka mendengarkan sharing dan bermain games mengenai Leader in You. Semua orang adalah pemimpin untuk dirinya sendiri. Ada 3 poin yang ditekankan bahwa pemimpin itu harus mendengarkan, melayani dan memberi contoh.

Seperti biasa, hari ini dimulai dengan duduk hening, jalan lambat dan membumi. Setelah itu, dilanjutkan dengan games bertema Team Building. Games ini memberi tantangan kepada masing-masing kelompok untuk menanam satu jenis benih di rockwool dengan jarak tanam 25×25 cm. Luas lahan yang akan ditanami adalah 1×5 m. Yang ditanyakan adalah berapa jumlah benih yang akan disemai? Mereka diminta untuk menghitung. Jika benar, maka akan dilanjutkan ke pos berikutnya yaitu menyiapkan lahan dengan cara memberi pupuk dan menanam sesuai dengan jumlah yang mereka hitung sebelumnya. Mereka harus bekerja dalam tim untuk menyelesaikan pekerjaan dan membantu tim lain untuk dapat menyelesaikan tugasnya.

Ada juga games dengan tema We Need Other People yang memiliki nilai bahwa kita tidak dapat bekerja sendirian. Kita butuh teman-teman yang mempunyai energi yang sama. Kegiatan terakhir adalah komitmen dari masing-masing peserta untuk kemajuan OMK mereka. Seluruh kegiatan ini akhirnya ditutup dengan misa oleh Romo Dwi, pr. Tiga hal yang mereka setuju saat berada di Eco Camp adalah hening, bersyukur dan sederhana.

11Dec

Forest Bathing atau dalam bahasa Jepangnya Shinrin Yoku  yang artinya mandi hutan menjadi salah satu pengobatan untuk para penderita kanker. Penelitian ini dilakukan di Jepang dan Jerman. Bahkan, ada 10 hutan khusus yang dibuat untuk menikmati phytoncides dari pohon-pohon.

09Dec

Perjuangan yang panjang untuk dapat berkunjung ke Eco Camp akhirnya membuahkan hasil. Keluarga pak Doddy, keluarga pak Fajar beserta orang tuanya. Mereka sampai ke Eco Camp pada tanggal 7 Desember sore hari. Seperti biasa disambut dengan tea ceremony dan sharing mengenai  7 kesadaran baru hidup ekologis yang diperjuangkan di Eco Camp.

Hari kedua diawali dengan duduk hening, jalan lambat lalu membumi nafas kehidupan. Kemudian dilanjutkan dengan kegiatan From Garden to Plate yaitu memanen dari kebun lalu memasak sendiri untuk makan siang. Semuanya dilakukan dengan bersama-sama. Ketiga orang anak dari 2 keluarga itu, Koko, Ainto dan Gayu sangat menikmati ketika kegiatan memanen di kebun. Belajar cara untuk memanen yang baik dari sayuran sampai jamur. Kegiatan lain yang dilakukan adalah recycling kertas. Mereka sangat antusias belajar.

Hari ketiga diawali dengan melakukan Forest Bathing di Taman Hutan Raya. Setelah itu dilanjutkan dengan sharing dan workshop tentang mengolah sampah organik yang berasal dari rumah tangga. Semua kegiatan itu ditutup dengan komitmen untuk melakukan sesuatu setelah berkegiatan di Eco Camp.

Keluarga pak Doddy berkomitmen untuk mengolah sampah dapur menjadi media tanam dan mengurangi sampah plastik. Ainto sendiri berkomitmen untuk membereskan tempat tidurnya sendiri sedangkan Koko akan melanjutkan recycling yang sudah dilakukannya yaitu membuat mainan dari plastik dan kertas bekas.

Keluarga pak Fajar berkomitmen untuk langsung membeli jam bandul yang akan berfungsi untuk mengingatkan keluarga mereka untuk selalu bahagia dengan cara yang sederhana yaitu bersyukur ketika kembali menyadari nafas kehidupan. Mereka juga akan mulai memisahkan sampah plastik dan organik dengan kesadaran yang baru dan mau mengurangi sampah plastik.

Keluarga Akung dan Uti, orang tua dari pak Fajar juga berkomitmen untuk sharing mengenai 7 kesadaran baru hidup ekologis dan mulai memilah sampah di rumah mereka yang berada di Jogjakarta.

Mereka semua adalah orang-orang luar biasa yang berkunjung ke Eco Camp dan menambah cinta di tempat sederhana ini.

02Dec

Panggilan hidup semua orang di dunia ini adalah menjadi orang baik. Jika ingin menjadi guru, maka kita akan menjadi guru yang baik. Jika ingin menjadi dokter, maka kita akan menjadi dokter yang baik. Begitu juga dengan para seminaris yang ingin menjadi seorang Imam Katolik. Menjadi Imam yang baik.

Jumat, 30 November, calon-calon Imam dari Seminari Cadas Hikmat datang ke Eco Camp. Mereka datang untuk belajar. Banyak yang mereka pelajari selama 3 hari 2 malam di Eco Camp. Belajar lebih sadar dan peka akan panggilan hidup. Para seminaris didampingi oleh Romo Ferry SW dan kakak Ksatria Shambala.

Semua hal yang baik harus selalu diingatkan dan dilatih untuk menjadi kebiasaan. Selain berlatih untuk memiliki kesadaran, para seminaris juga diajak dan dituntun oleh Romo Ferry untuk melihat kembali panggilannya. Apakah benar-benar dipanggil ataukah hanya keinginan orang tua. Mereka juga diajak untuk melihat apakah mereka dipanggil? Jika belum merasa terpanggil, maka yang harus dilakukan adalah pasrah dan mendengarkan apa yang Tuhan katakan.

Hari terakhir di kegiatan ini, para seminaris diajak untuk menubuhkan apa yang mereka yakini. Mereka dibantu untuk membuat komitmen pribadi dan komitmen untuk semua murid di Seminari Cadas Hikmat. Komitmen ini yang akan menjadi aksi nyata mereka saat berada di lingkungan sekolah mereka nantinya.

 

 

23Nov

Green Leader Junior panggilan kami terhadap mereka. Mereka adalah anak-anak SMP St. Maria Surabaya yang dibimbing oleh gurunya, Pak Martinus (Green Leader Angkatan 1 Eco Camp). Mereka dilatih untuk memiliki kesadaran penuh saat berada disekolah dan dimanapun. Selain itu, sesuai dengan namanya mereka dilatih untuk menjadi leader yang mampu menyebarkan kebaikan untuk seluruh siswa di SMP St. Maria Surabaya.

Mereka sungguh luar biasa. Di Eco Camp, mereka belajar untuk lebih memiliki keteguhan dan menjadi pemimpin yang seutuhnya yaitu mendengarkan, melayani dan memberi contoh.

Catatan dari Wawan Husin (Pemerhati Yayasan Sahabat Lingkungan Hidup) yang sempat menemani adik-adik dari SMP St. Maria Surabaya.

Yang pertama, saya senang bertemu dengan pak Martinus beserta  26 siswanya, karena kopi darat ini menjadikan saya lebih mengapresiasi sesosok guru PKN yang penuh semangat. Kokoh secara fisk, tebal iman secara kemanusiaan, setia pada lingkungan dan penuh integritas dalam memelihara lingkungan.

Yang kedua, kesan saya amat positif pada para siswanya. Disiplin, belajar dengan baik. Mau mengikuti apa yang diinstruksikan para Kakak Shambala dari EcoCamp, dan cepat belajar bersosialisasi tinggi dan adaptif pada apa yang terjadi di sekelilingnya. Penyampaian kesadaran sebelum makan hening diteruskan dengan do’a makan oleh Angela, amat sangat mengesankan. Kesan yang amat kuat bagaimana kerendah-hatian mengadopsi doa kesadaran EcoCamp untuk digunakan di lingkungan Santa Maria, Surabaya serta kegiatan eksskul “Duta Lingkungan” *) melelehkan perasaan. Mantap jiwa!

Yang ketiga, saya berkesempatan terlibat dalam Malam Cahaya. Terasa sekali para siswa mengikuti dengan hati. Momentum hening pada saat mengikuti instruksi kak Dewi menjadikan Malam Cahaya, berakhir dengan baik dan semoga menjadi salah satu pengalaman yang memperkaya batin dan mental para siswa.

Yang keempat, keterlibatan ibu Shierly memberikan sejumlah pertanyaan yang lebih detail kepada  para siswa yang mau maju ke depan sungguh mengesankan. Pada saat menyampaikan harapan dan cita-citanya, para siswa menjadi lebih sadar mengapa memilih cita-cita tersebut. Dig a little deeper! And deeper. Hal ini tentu saja sangat inspiratif bagi mereka. Pertanyaan yang menyangkut moralitas, harapan masa depan. Sehingga siswa akan lebih penuh kesadaran dalam melebih-tajamkan visi dan pilihan masa depan.

Kelima, kata-kata penutupan dari kak Sovia, mirip puisi. Membaca dari teks yang dipersiapkannya, dengan beberapa tambahan spontan. Mengasyikan. Isi utamanya adalah berterima kasih atas kedatangan para siswa Santa Maria, Surabaya, khususnya kelas 8. Serta mohon maaf atas kekurangan dan kekhilafan atas penerimaan yang dilakkan. Gaya santai membaca mendekatkan perasaan dan memberikan keteduhan pada pendengar atau hadirin. Jempols dua, dech!.

Terima kasih pak Martinus dan Jessica, Angela, Rubi, Owen, Christine, Tiya, Jonathan, Hemi  serta semua siswa yang datang. Semoga harapan kalian bisa kami penuhi, dan cita-cita kalian bisa tercapai.

Jayalah Indonesia kita, semoga kita akan bertemu kembali suatu ketika. Tumbuhlah didalam kebenaran, kebajikan,  kebaikan, keindahan, dn integritas.

Catatan:

“Duta Lingkungan”, adalah kegiatan eksskul di sekolah untuk mengajak, mendidik siswa mencintai lingkungan dan kemanusiaan. DL, diinisasi leh pak Martinus sejak tahun 2006. Kini, para alumni SMP St. Maria, memviralkan dan menumbuhkan kegiatan DL di sekolah yang mereka masuki, Sungguh menjadi contoh kongkrit yang melapangkan dada dari pak Martinus dan kolega2 gurunya.

1 2 3 4