hanesovia

15Feb

Kegiatan kali ini sedikit unik karena diawali dengan duduk hening. Diawali dengan suara genta sebanyak 3 kali, peserta diajak untuk mulai menyadari nafas masuk dan nafas keluar. Mengapa nafas? Karena nafas adalah jembatan yang menghubungkan pikran dengan tubuh. Pikiran sering melayang-layang memikirkan sesuatu yang lain ketika raga sedang duduk atau berdiri. Sehingga, tujuan dari duduk hening ini sendiri adalah untuk membuat kita menjadi lebih tenang dan fokus untuk menjalani aktivitas selanjutnya.

“Saya merasa terkoneksi kembali dengan alam dan semua ciptaan Tuhan ketika mengikuti upacara minum teh”, ujar Suster Magda yang menemani tenaga penunjang santa Ursula ke Eco Camp. Tidak hanya Suster Magda, masih banyak lagi yang merasakan kebahagian karena secangkir teh yang sederhana. Tanpa disadari, teh ini sudah disiapkan bertahun-tahun yang lalu ketika para petani menanam benih teh. Selain itu, teh ini adalah perjuangan semua tokoh di alam semesta.

Tenaga penunjang santa Ursula yang datang ke Eco Camp terdiri dari tenaga penunjang di beberapa unit yaitu TK, SD, SMP dan Yayasan. Mereka yang sudah berkegiatan dari pagi, masih tetap bersemangat mengikuti kegiatan terakhir yaitu komitmen. Komitmen ini didiskusikan per masing-masing unit sesuai dengan apa yang sudah mereka dapatkan di Eco camp. Komitmen-komitmen kecil ini yang akan dijalani di setiap unit di santa Ursula yang terletak di jalan Bengawan, No 2 Bandung.

14Feb

Indonesia sudah terlalu terbiasa dengan budaya ‘bos dan jongos’ yang harus dihilangkan. Mencuci piring sendiri adalah bagian dari hidup sebagai manusia berkualitas yang bertanggung jawab atas diri sendiri. Ibu-ibu dari Periska PT. Len Industri Bandung dengan gembira mencuci piring setelah selesai makan siang di Eco Camp. Menurut mereka, cuci piring sendiri setelah selesai makan adalah acara spesial yang ditawarkan ketika belajar di Eco Camp.

Kali ini (14 Februari 2019), panitia divisi pendidikan Periska Len memilih Eco camp sebagai tempat silahturahmi. Selain silahturahmi, mereka juga belajar mengenai pengolahan sampah, baik organik maupun anorganik. Mengingat bahwa, ibu-ibu yang akan mengurusi rumah tangga. Sehingga, ibu-ibu diharapkan untuk tahu bagaimana mengolah dan memanfaatkan sampah dapur dan sampah plastik.

“Perasaan saya bahagia, kegiatan disini luar biasa karena memberi wawasan, selain memberikan wawasan tentang lingkungan, juga mengingatkan kembali kepada kita akan nilai-nilai yang sebenarnya sudah ada di dalam diri kita”, ungkap Dini, selaku istri dari Direktur Keuangan PT. Len Industri yang diwawancarai setelah selesai kegiatan.

Nilai yang diingatkan lagi oleh Eco Camp adalah nilai-nilai sederhana yang sudah mulai dilupakan. Contohnya seperti menyimpan alas kaki di tempatnya, mencuci piring sendiri, merapikan meja makan setelah selesai makan dan masih banyak lagi.

06Feb

Anak-anak SD St. Yusuf Bandung ditemani oleh 4 orang gurunya berkunjung ke Eco Camp. Sesuai dengan permintaan dari pihak sekolah, anak-anak kelas 2 SD ini akan belajar untuk menanam dengan menggunakan teknologi pot sumbu di Eco Camp dan tentang bangun datar. Bangun datar adalah pelajaran yang sekarang mereka dapatkan disekolah.

Sesampainya di Eco Camp pada Rabu, 6 Februari 2109, mereka semua langsung berkumpul di ampi teater dan menyantap snack yang mereka bawa. Disitulah, mereka diminta untuk coba berbagi dengan teman-temannya. Karena ketika berbagi maka kita akan menjadi bahagia.

Selanjutnya, seperti biasa disambut dengan upacara yang sangat sederhana untuk menghargai tokoh-tokoh di alam semesta yang sudah berjuang dengan penuh cinta untuk menghasilkan secangkir teh. Mulai dari cacing tanah, mikroba, mineral, tanah, air, sinar matahari, awan sampai petani, pedagang dan ibu-ibu dapur. Dengan tea ceremony, anak-anak belajar untuk menghargi. Kemudian dibagi 2 kelompok besar untuk mengikuti 2 kegiatan diantaranya  yaitu “Teknologi Pot Sumbu” dan “Magic Square”.

Dengan “Teknologi Pot Sumbu”, anak-anak diajarkan untuk menanam tanaman dan yang paling penting adalah diberi tanggung jawab untuk menjaganya. Sedangkan “Magic Square”, mereka belajar untuk bekerja sama dengan teman kelompoknya untuk menyelesaikan suatu masalah. Mereka sangat bersemangat untuk belajar sambil bermain di Eco Camp.

02Feb

Guru-guru dan karyawan ini bukan tidak mempunyai alasan datang ke Eco Camp. Mereka direkomendasikan untuk datang ke Eco Camp dan belajar dengan Romo Ferry Sutrisna Wijaya. Sabtu, 2 Februari pukul 8 pagi, kelompok guru dan karyawan dari TK. KB Yos Sudarso ini sudah tiba di Eco Camp.

Seperti biasa disambut dengan Tea Ceremony, lalu kami berjalan lambat ke kebun Eco Camp. Sebelum berjalan hening dan lambat ke kebun, kami menyanyikan satu buah lagu dengan judul “Ku Tlah Tiba”. Lagu ini berasal dari Plum Village di Perancis. Lagu ini yang dipakai untuk memaknai jalan lambat di Eco Camp. Lagu sederhana ini mempunyai makna yang sangat dalam. Lagu ini menyampaikan pesan bahwa kita tidak perlu terburu-buru karena sebenarnya kita sudah sampai di rumah sejati kita. Masa depan belum kita lalui dan masa lalu sudah lewat, yang akan menentukan masa depan adalah pilihan-pilihan kecil yang ada dimasa sekarang atau saat ini.

Setelah berjalan ke kebun, kegiatan dilanjutkan dengan sharing 7 kesadaran baru hidup ekologis yang merupakan perjuangan di Eco Camp. Tujuh kesadaran ini juga diharapkan dapat melengkapi dan mewarnai 10 Keutamaan Pendidikan di Yayasan Tunas Karya yaitu : Cinta Kasih, Berbakti, Ramah Tamah, Sopan Santun, Jujur, Disiplin, Bertanggung Jawab, Tekun, Bertidak Adil dan Bersahaja.

Selanjutnya adalah rekoleksi dengan Romo Ferry dengan tema “Menjadi Pribadi 1 Komunitas yang : Ramah Tamah, Bersahaja dan Disiplin”. Harapannya adalah guru dan karyawan di TK. KB Yos Sudarso ini dapat mengajar dan menjadi guru yang lebih baik. Sehingga, selain mengajar, mereka juga meluangkan waktu untuk belajar bersama sehingga mereka semua tetap mempunyai semangat yang sama dalam membimbing murid-murid di sekolah mereka. Mereka berkegiatan hampir 1 hari penuh kemudian diakhiri dengan misa bersama Romo Ferry.

21Jan

Pagi itu, guru-guru Kabupaten Balangan sudah dikumpulkan untuk briefing dan langsung mencoba untuk membiasakan diri untuk hening. Ada 15 guru yang ikut dalam kegiatan Eco Youth Camp 2. Kegiatan ini dilaksanakan oleh Green Leader Balangan. Tim Green Leader Balangan adalah peserta yang Green Leader 2 di Eco Camp pada tahun 2016 yang berasal dari Balangan, Kalimantan Selatan.

Pembukaan kegiatan di Wisma Manyadar dihadiri oleh perwakilan Bupati Balangan, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Balangan dan perwakilan dari PT. Adaro Energy. Kegiatan ini di dukung penuh oleh pemerintah Kab. Balangan, dalam rangkan mewujudkan visi kabupaten “TERWUJUDNYA KABUPATEN BALANGAN YANG MAJU DAN SEJAHTERA MELALUI PEMBANGUNAN SUMBER DAYA MANUSIA”. Sumber daya manusia harus berkualitas sehingga mampu mengolah kekurangan menjadi kekuatan untuk melakukan sesuatu bagi rumah kita, Bumi.

Kegiatan berlanjut dengan sharing mengenai 7 Kesadaran Baru Hidup Ekologis. Selain itu, ada juga latihan membumi. Membumi dapat membuat kita kembali berkoneksi dengan alam semesta dan kebaikan-kebaikan yang ada disekitar kita. Ada juga simposium Awakening The Dreamer, Changing The Dream dihari berikutnya yang membuat peserta akhirnya dapat berkomitmen untuk melakukan sesuatu setelah mengikuti Eco Youth Camp 2. Simposium ini yang kemudian mengantarkan peserta untuk membuat Vision Board pada hari ketiga. Vision Board berisi tentang deskripsi diri dan visi untuk diri sendiri, keluarga dan lingkungan kerja untuk 3 bulan, 6 bulan dan 1 tahun kedepan dan dilengkapi dengan indikator dan base line. Selain Vision Board, ada juga rencana kegiatan per masing-masing sekolah.

Komitmen adalah hal penting. Tetapi yang lebih penting adalah aksi yang didampingi oleh kehendak kuat. Eco Youth Camp 2 ditutup dengan diumumkan peserta terbaik. Enam peserta ini mendapatkan piagam dan uang pembinaan untuk membantu rencana kegiatan yang sudah mereka susun.

Guru-guru ini diharapkan menjadi contoh untuk anak-anaknya di sekolah tempatnya mengabdi. Guru-guru yang akan menjaga agar harapan tetap ada karena harapan bangsa dan harapan Bumi ada di tangan anak-anak penerus masa depan.

09Jan

Bangun dari mimpi yang lama untuk membuat mimpi di jalan yang benar. Sesungguhnya, semua yang terjadi karena manusia merasa terpisah dari alam semesta. Padahal kita semua adalah satu.

Melihat kondisi saat ini, sangat tidak memungkinkan untuk tidak melakukan sesuatu atau hanya memilih pura-pura tidak tahu. Kita harus melakukan sesuatu. Karena, walaupun persoalan dan krisis yang dialami BESAR, tetapi kemungkinan dan harapan LEBIH BESAR.

Kita semua bisa melakukan apapun, yang paling penting adalah kreativitas diri masing-masing. Kita hanya perlu melakukan sesuatu yang kecil dan sungguh sanggup dilakukan dengan bahagia, bukan paksaan. Kita melakukan sesuatu di bidang kita masing-masing untuk kebaikan ibu bumi. Itulah panggilan hidup yang sesungguhnya. Dua puluh tiga peserta yang berkegiatan di Eco Camp mendapatkan sesuatu yang baru.  Para peserta juga diingatkan kembali untuk melakukan kembali hal-hal kecil yang sangat sederhana.

Kegiatan dengan tema merawat rumah kita bersama adalah kegiatan retret ekologis yang dilaksanakan pada tanggal 6 – 9 Januari 2019. Kegiatan ini bertujuan untuk mengingatkan kembali akan hal-hal baik yang seharusnya kita lakukan untuk membuat ibu Bumi kembali tersenyum. Selama berkegiatan, peserta diajak untuk lebih banyak megolah rasa, memaknai setiap pilihan hidup yang dilakukan. Selain itu, peserta juga berkesempatan berkunjunga ke Tebing Keraton dan Taman Hutan Raya Djuanda untuk menikmati hutan yang sebenarnya memberikan kebaikan yang sangat banyak kepada kita. Setelah 4 hari, akhirnya peserta kembali ke rumah dan lingkungan masing-masing. Para peserta yang pulang dari Eco Camp membawa satu komitmen kecil yang sudah diikat. Komitmen akan tinggal komitmen jika tak dilakukan.

23Dec

Anak Alam adalah event yang dilakukan setiap tahun saat liburan sekolah. Kegiatan ini diperuntukkan bagi anak-anak SD kelas 4,5 dan 6 dan SMP kelas 1,2, dan 3 untuk mengisi liburannya. Liburan diisi dengan bermain sambil belajar dan untuk menumbuhkan kebiasaan-kebiasaan baik sejak dini dan perilaku yang mencintai bumi. Anak Alam dilaksanakan 2 kali dalam setahun saat liburan semester. Desember kali ini, ada 14 orang peserta Anak Alam dengan 12 anak laki-laki dan 2 anak perempuan.

Setelah semuanya dipersiapkan, akhirnya tanggal 18 Desember siang, anak-anak diantarkan oleh orang tuanya ke Eco Camp. Awalnya, mereka asing dengan suasana Eco Camp. Pembukaan pun dimulai, seperti biasanya dimulai dengan Tea Ceremony dan akhirnya say bye kepada orang tua yang tadi mengantar anak-anaknya.

Masuk kedalam kamar dan mulai memasang sprei dan sarung bantal sendiri. Ada yang langsung mulai memasang tetapi ada anak yang langsung menghampiri kakak pendamping untuk meminta bantuan. Mereka menanyakan caranya. Setelah semua terpasang, kegiatan selanjutnya dimulai yaitu latihan baris-berbaris. Lengkap dengan menggunakan sepatu, name tag dan membawa botol minum. Anak-anak dibagi menjadi dua kelompok yaitu Mentari Pagi dan Lembayung Senja. Kemudian dilanjutkan dengan cerita tentang apa yang terjadi dengan rumah kita, Bumi. Pada sesi ini, anak-anak diajak untuk melihat bumi dari dekat dan mengidentifikasi apa yang terjadi dengan rumah kita dan mau melakukan sesuatu untuk membuat bumi lebih baik dengan cara menjadi harapan. Harapan itu seperti bola lampu yang siap menerangi dunia.

Hari kedua diawali dengan duduk hening pada pukul 5.30 pagi. Bangun pagi adalah salah satu hal yang paling sulit dilakukan apalagi tidak dibangunkan. Setelah dibangunkan, kami memulai duduk hening, belajar untuk menjadi sedikit lebih tenang. Mereka juga belajar untuk melambat dan membumi, bersyukur atas nafas yang merupakan hal paling penting dalam hidup kita. Hari kedua dihabis dengan melakukan beberapa paket kegiatan yaitu Amazing Race, membuat beras kencur, membuat getuk, membuat Yoghurt, mendaur ulang kertas dan membuat hiasan natal dengan menggunakan botol bekas. Hari yang sangat melelahkan.

Hari yang ditunggu-tunggu adalah jalan-jalan keliling Bandung. Bedanya dengan yang sering atau sudah pernah mereka lakukan sebelumnya adalah kali ini mereka akan jalan kaki dan menggunakan angkutan umum. Setelah sarapan pagi, dengan lunch box yang sudah berisi makan siang dan membawa botol minum, anak-anak mulai berjalan kaki dari Eco Camp menuju ke Terminal Dago. Naik angkot dari terminal menuju ke Monumen Perjuangan yang ada di jalan Dipati Ukur. Disana ada museum yang berisi tentang perjuangan rakyat Jawa Barat. Mereka sangat antusias dan bertanya banyak kepada ibu pemandunya. Ibu pemandunya dengan senang hati menjelaskan kepada mereka. Setelah itu mereka juga diberi LKS untuk dikerjakan setiap kali mereka memasuki suatu tempat pada hari itu. LKS itu berisi pertanyaan tentang kondisi lingkungan dan area sekitar tempat yang dkunjungi. Disini, anak-anak dapat menganalisis lebih jauh dan melaukan observasi serta menjawab sesuai dengan apa yang mereka lihat dilapangan. Kemudian lanjut berjalan ke Museum Gedung Sate dan akhirnya beristirahat untuk makan siang di Taman Lansia. Setelah makan siang, dilanjutkan ke museum Geologi dan berakhir di Saung Angklung. Disini, bukan hanya melihat tetapi ikut merasakan dan belajar sedikit bagaimana cara memainkan Angklung.

Hari ke-4 adalah pergi ke Tahura. Mengenal keanekaragaman tanaman yang ada di Tahura dan mengetahu sejarah dari tempat bersejarah yang ada di Tahura yaitu Goa Jepang dan Goa Belanda. Di hari ke-empat ini mereka belajar lagi untuk benar-benar menuliskan apa saja yang dirasakan saat berada di Eco Camp. Sore harinya, mereka berlatih tarian bambu yang kemudian ditampilkan di acara penutupan.

Hari terakhir diisi dengan komitmen diri yang akan mereka lakukan dirumah masing-masing. Setelah itu, masing-masing orang tua datang untuk mengikuti upacar penutupan yang sudah dipersiapkan. Penutupan ini juga bertepatan dengan hari ibu. Sehingga kami semua yang ada disitu menyanyi lagu kasih ibu. Setelah itu, anak-anak memulai pertunjukan tarian bambu kepada orang tua mereka. Yang terakhir adalah hadiah dari Eco Camp untuk para orang tua yaitu pemutaran video kegiatan Anak Alam Desember 2019.

16Dec

Waktu yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. OMK St. Arcadius Bekasi akhirnya sampai ke Eco Camp pada pukul 12.30 kemarin. Disambut oleh kakak-kakak KS dengan permainan singkat dan tak lupa Tea Ceremony yang merupakan cara untuk menyambut tamu dengan pemberian sederhana. Dari teh, mereka belajar untuk menghargai proses dan kerja yang dilontarkan saat sharing. Kegiatan berlanjut dengan sharing tentang 7 Kesadaran Baru Hidup Ekologis yang menjadi perjuangan di Eco Camp.

Noble Silence. Semua kegiatan dilakukan dengan penuh kesadaran dalam keheningan. Malam harinya, mereka mendengarkan sharing dan bermain games mengenai Leader in You. Semua orang adalah pemimpin untuk dirinya sendiri. Ada 3 poin yang ditekankan bahwa pemimpin itu harus mendengarkan, melayani dan memberi contoh.

Seperti biasa, hari ini dimulai dengan duduk hening, jalan lambat dan membumi. Setelah itu, dilanjutkan dengan games bertema Team Building. Games ini memberi tantangan kepada masing-masing kelompok untuk menanam satu jenis benih di rockwool dengan jarak tanam 25×25 cm. Luas lahan yang akan ditanami adalah 1×5 m. Yang ditanyakan adalah berapa jumlah benih yang akan disemai? Mereka diminta untuk menghitung. Jika benar, maka akan dilanjutkan ke pos berikutnya yaitu menyiapkan lahan dengan cara memberi pupuk dan menanam sesuai dengan jumlah yang mereka hitung sebelumnya. Mereka harus bekerja dalam tim untuk menyelesaikan pekerjaan dan membantu tim lain untuk dapat menyelesaikan tugasnya.

Ada juga games dengan tema We Need Other People yang memiliki nilai bahwa kita tidak dapat bekerja sendirian. Kita butuh teman-teman yang mempunyai energi yang sama. Kegiatan terakhir adalah komitmen dari masing-masing peserta untuk kemajuan OMK mereka. Seluruh kegiatan ini akhirnya ditutup dengan misa oleh Romo Dwi, pr. Tiga hal yang mereka setuju saat berada di Eco Camp adalah hening, bersyukur dan sederhana.

11Dec

Forest Bathing atau dalam bahasa Jepangnya Shinrin Yoku  yang artinya mandi hutan menjadi salah satu pengobatan untuk para penderita kanker. Penelitian ini dilakukan di Jepang dan Jerman. Bahkan, ada 10 hutan khusus yang dibuat untuk menikmati phytoncides dari pohon-pohon.

1 2 3 5