hanesovia

17May

Katolikana.com – Lahir dari kesadaran akan pentingnya interaksi anak dan remaja dengan alam, Yayasan Sahabat Lingkungan Hidup yang dulu bernama Yayasan Sahabat Anak mendirikan tempat wisata edukasi bernama Eco Camp. Berlokasi di Ledeng, Bandung, Jawa Barat.

Eco Camp menyediakan program kegiatan dan sarana bagi anak-anak dan remaja untuk bermain di alam bebas sambil belajar tentang nilai-nilai kehidupan yang menghormati sesama dan semesta.

Pastor Ferry Sutrisna Wijaya, yang akrab dengan sapaan Pastor Ferry,  berbagi kisah tentang Eco Camp kepada Katolikana yang mewawancarainya pada Selasa (9/3/2021) via Zoom.

Pastor Ferry adalah salah seorang yang berkontribusi di balik berdirinya Yayasan Sahabat Lingkungan Hidup yang menaungi tempat wisata edukatif bernama lengkap Eco Learning Camp ini.

Memulai kisahnya, Pastor Ferry mengatakan, pada awalnya yayasan ini bernama Yayasan Sahabat Anak. Namun pada antara 2013 dan 2014, nama yayasan ini berubah menjadi Yayasan Sahabat Lingkungan Hidup dan melibatkan lebih banyak pihak yang bersifat lintas agama.

Bagaimana pengalaman awal  Pastor Ferry memasuki wilayah aktivitas pelestarian lingkungan hidup hingga mendedikasikan hidupnya untuk melayani alam dan sesama lewat Eco Camp?

“Awalnya saya diajak. Tapi ada satu momen yang memengaruhi saya, yaitu pada saat mengikuti pelatihan perubahan iklim pemanasan global pada 2009 di Melbourne, Australia,” tutur Pastor Ferry.

“Sejak pulang kesadaran akan lingkungan hidup semakin besar,” tambahnya.

Imam kelahiran Bandung 1961 yang mengaku sangat senang belajar ini juga menyebutkan, semua hal yang sudah berjalan dan berkembang hingga saat ini bukan semata-mata hasil keringatnya sendiri,  melainkan juga hasil jerih payah beberapa rekannya terdahulu.

Ia kemudian menyebut nama Shierly Megawati, sebagai sosok yang mengawali langkah Spirit Camp hingga menjadi Eco Camp seperti saat ini.

Selain itu ada sejumlah nama lain yang ia sebut.  Ada nama Alexander Iskandar, Romo A.Sarwanto SJ, dan Ibu Teko Sukarmin.

“Juga ada Tan Eng Liang dan Mary Tan, Hutomo dan Suzy, Steven Tjhoea dan masih banyak lagi yang mendukung dan terlibat,” katanya merinci rekan-rekannya yang berkontribusi besar terhadap Eco Camp.

Selanjutnya untuk pengembangan program-program di Eco Camp yang lebih mengarah pada kesadaran dan spiritualitas, Pastor Ferry juga menceritakan bahwa dirinya dan beberapa rekan juga melakukan perjalanan ke berbagai tempat.

“Di Eco Camp kami bukan menjawab pertanyaan how seperti bagaimana pertanian organik, tetapi lebih menjawab pertanyaan why seperti mengapa kita lebih banyak makan sayur mengapa harus menghemat listrik;  dan lain-lain,” tuturnya.

Menyentuh Alam secara Langsung

Pada bagian lain penjelasannya, Pastor Ferry mengemukakan, program dan kegiatan yang dirancang pihak Eco Camp untuk menumbuhkan kesadaran anak-anak dan remaja terhadap alam dan sesama juga beragam.

Namun secara umum, program dan kegiatan yang mereka tawarkan adalah mengajak masyarakat untuk bersentuhan langsung dengan alam.

Pastor senior ini kemudian memberikan contoh. Ketika peserta kegiatan atau pengunjung pergi ke kebun, mereka diperbolehkan menginjak tanah tanpa alas kaki atau ikut berkontribusi ketika masa panen tiba.

Namun, lanjutnya, ada satu hal yang menarik. Ketika hendak makan atau minum, peserta diajak untuk memupuk kesadaran betapa kehadiran secangkir teh atau sepotong makanan dalam hidup melibatkan begitu banyak aspek.

“Misalnya ketika kita minum teh. Dalam secangkir teh ini kita dapat melihat alam semesta. Teh ini ditanam, disiapkan oleh bakteri, cacing, mikroba, dan sinar matahari. Juga berapa manusia yang terlibat di dalam rantai perjalanan minum teh itu hingga saat diminum,” ujar Pastor Ferry.

Sama halnya dengan minuman, peserta juga dapat belajar dan melakukan refleksi  ketika disuguhi berbagai makanan. Pastor Ferry menyebutkan: “Tak ada salahnya untuk merefleksikan banyaknya ‘pihak’ yang berkontribusi di dalamnya.”

Bahkan Pastor Ferry mengemukakan bahwa yang direfleksikan bukan hanya tentang para petani yang menggarap padi dan berasnya; para pekerja dapur yang mengolah makanan tersebut sedemikian rupa.

Selain mereka, katanya, dalam sepiring makanan terdapat benih yang telah ditanam dan dipersiapkan selama berbulan-bulan dengan melibatkan ‘campur tangan’ mikroba, tanah, air, dan cacing yang hidup di alam dan menghidupi benih.

“Intinya kami menawarkan bukan melulu pengetahuan, skill, atau keterampilan, tetapi pengalaman bersentuhan langsung dengan alam. Pengalaman itu digali dan direfleksikan.” jelas Pastor Ferry.

Ketika ditanya bagaimana Eco Camp mempertahankan semangat dan spiritualitas melalui kegiatan-kegiatannya di tengah gempuran modernitas, khususnya pada para remaja dan anak-anak, Pastor Ferry menjelaskan bahwa Eco Camp juga beradaptasi.

Ia mengemukakan bahwa setelah peserta merefleksikan perasaannya sesuai beraktivitas di dan dengan alam, mereka dipersilakan mengunggah pengalaman itu ke media sosial.

Eco Camp menerapkan hal itu untuk mencoba melengkapi pengalaman peserta,  khususnya anak-anak dan remaja, yang dinilai sebagai generasi yang lekat dengan kemajuan teknologi.

“Jadi kami tidak anti dengan hal itu, karena memang itu dunia mereka.” katanya.

 

Eco Camp di Tengah Pandemi

Pandemi virus Corona dikatakan sempat berdampak pada dinamika Eco Camp. Sejak April 2020, pengunjung yang datang semakin berkurang.

“Kegiatan kunjungan agak sepi, tapi bukan berarti tidak ada. Bagi yang mau berkunjung tetap kami terima,” ujar Pastor Ferry.

Eco Camp tak kehilangan akal untuk mencari jalan keluar agar tetap dapat berbagi ilmu dan kegiatan pembelajaran kepada masyarakat.

Mereka mengubah sebagian program dari yang sebelumnya offline menjadi online. Contoh program yang dilakukan secara online selama pandemi adalah ‘Anak Bumi’ dan ‘Green Leader’.

Program ‘Anak Bumi’ merupakan kegiatan yang diperuntukkan bagi anak-anak selama enam minggu. Selama enam minggu pihak Eco Camp menyampaikan pemaparan sebanyak tiga kali seminggu pada waktu siang hingga sore hari.

Anak-anak yang mengikuti program “Anak Bumi” akan mendapatkan materi mengenal alam sekaligus penanaman unsur cinta tanah air pada setiap pembelajaran. Begitu pula pada program ‘Green Leader’. 

Program yang berlangsung tiga bulan dan lebih menyasar peserta dewasa ini dilaksanakan setiap Sabtu dan Minggu melalui aplikasi tatap muka online.

Dalam situasi yang harus serba online ini, jarak dan waktu tidak lagi menjadi penghalang.

Hal itu dikatakan mengingat Eco Camp sempat dihubungi oleh sebuah sekolah di Jakarta yang menjadikan program Eco Camp sebagai ekstrakulikuler bagi para siswa selama menjalani sekolah secara daring.

Pandemi juga menjadikan peserta yang hendak mengikuti program-program Eco Camp tak sebatas mereka yang tinggal di wilayah Bandung dan sekitarnya tetapi juga tersebar hingga Sumatera bahkan Nusa Tenggara Timur (NTT).

Namun hal yang lebih membanggakan, kata Pastor Ferry, meskipun kegiatan dilakukan secara daring, keterlibatan pribadi peserta tetap mendalam.

“Ternyata keterlibatan pribadinya cukup dalam, meskipun dilakukan secara online,” ujarnya. Ia menjelaskan bahwa pandemi tak menjadikan Eco Camp berhenti berkegiatan. Alih-alih mereka hanya mengganti format pelaksanaan.

Di luar program dan kegiatan Eco Camp, Pastor Ferry juga sempat berbagi cerita tentang perjuangan Eco Camp untuk mampu bertahan selama pandemi akibat sangat terbatasnya jumlah pengunjung yang datang.

Tahun 2020 , Eco Camp sempat menjual berbagai olahan jamur dan oleh-oleh khas Bandung dengan sistem jasa titip (jastip).

“Itu (dilakukan) dalam rangka survival  dan yang membeli kebanyakan orang Jakarta,” katanya seraya mengingat saat-saat Eco Camp aktif menjalani usaha jasa titip olahan jamur pada 2020.

Dalam wawancara Pastor Ferry juga sempat menyampakan refleksinya tentang pandemic Covid-19.

Ia menyebutkan pandemi bukanlah musuh bagi Eco Camp. “Aliah-alih ia adalah ‘saudara’ yang tugasnya  tak jauh berbeda dengan Eco Camp, yakni memperbaiki dunia dan menjadikan manusia lebih sadar akan perlunya kesehatan dan perawatan alam semesta,” ujar Pastor Ferry.

Merawat Keberagaman

Selain berbagi pengetahuan dan pembelajaran tentang alam, merawat keberagaman menjadi salah satu wajah Eco Camp. Lahir dari hati 12 pendiri dengan latar belakang berbeda-beda menjadikan Eco Camp kaya akan sudut pandang.

Pastor Ferry sebagai adalah salah satu yang ikut membangun Eco Camp berbeda dengan warna organisasi yang bersifat lintas agama, tidak terikat oleh agama tertentu, bahkan bukan merupakan lembaga agama, khususnya Katolik.

Selain keragaman latar belakang para pendirinya, para pekerja yang berkarya di Eco Camp juga beragam.

Regi Rifyunando yang akrab dengan sapaan Regi, adalah karyawan yang telah  mengabdi di Eco Camp selama lima tahun.

Regi mengungkapkan, Eco Camp adalah sebuah rumah belajar, tempat ia tumbuh, dan dapat belajar dari siapa pun dan apa pun.

“Di sini saya banyak mendapatkan pelajaran,  baik dari para sahabat Eco Camp, para donatur, maupun pengunjung yang datang. Di sini saya juga banyak belajar dari alam,” ujar Regi saat diwawancarai pada 12 Maret 2020 melalui aplikasi whatsapp.

Regi juga sempat berbagi kisah  tentang sumbangan yang telah diberikan Eco Camp kepada masyarakat sekitar.

“Selain Eco Camp telah menyebarkan pembelajaran dan mengajak para petani sekitar bercocok tanam organik, sedikit banyak Eco Camp juga telah menyebarkan nilai-nilai yang selama ini dijalankan pihak internal kepada masyarakat, seperti saling menghargai walaupun berbeda-beda,” papar Regi.

Eco Camp, tutur Egi, terbuka luas bagi siapa pun yang hendak berkunjung dan belajar. Khusus untuk para pekerjanya, sejak awal selain semua diajak untuk saling menghargai juga ditanamkan pentingnya kepedulian sehingga dalam perkembangannya, warga Eco Camp tidak menutup diri atau merasa malu tentang identitas mereka, termasuk dalam hal beragama.

“Kami tetap menjalankan ibadah kami sesuai dengan kepercayaan masing-masing, tanpa harus ditutupi” tambah Regi.

Dalam perjalanannya, secara perlahan banyak pihak mulai tahu bahwa Eco Camp terus berupaya mewujudkan pelayanan mereka dalam upaya memupuk kesadaran.

Tak melulu hanya memupuk kesadaran untuk menghargai sesama manusia, Eco Camp juga memupuk kesadaran untuk kembali menghormati semesta, dan mendekatkan segala bentuk perbedaan melalui sesama.[]

Kontributor: Anastasia Mellania Kartika P, Genoveva Sekar Jemparing, Cornelia Maria Radita, Ni Nyoman Vena Riana D (Universitas Atma Jaya Yogyakarta)

Editor: JB Pramudya

12May

Kembali Fitri
Meski Pandemi

Idul fitri erat maknanya dengan tujuan berpuasa: menjadi manusia bertakwa. ‘Id’ artinya ‘kembali’. ‘Fitri’ bisa berarti 2: ‘buka puasa untuk makan’ & ‘suci’.

Jadi, Idul fitri adalah hari raya di mana umat Islam kembali berbuka atau makan, tidak lagi berpuasa, bahkan 1 Syawal haram berpuasa. Sekaligus fitri, suci, bersih dari segala dosa, kesalahan, kejelekan, dan keburukan. Sebagaimana hadis Rasul SAW, “Barang siapa berpuasa di bulan Ramadan didasari iman dan semata-mata karena mengharap ridha Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Dan barang siapa yang salat malam di bulan Ramadan didasari iman dan semata-mata karena mengharap ridha Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”

Dalam bahasa Jawa, Idul fitri dikenal dengan istilah ‘Lebaran’, yang mengandung makna: lebar, lebur, luber, dan labur.

‘LEBAR’ artinya ‘lapang hati dan jalan’ karena telah terlepas dari kemaksiatan, dosanya telah LEBUR, LUBER pahala, berkah dan rahmat Allah. Serta, ‘LABUR’ artinya ‘bersih’, sebab bagi orang yang benar-benar melaksanakan puasa, maka hati akan dilabur menjadi putih bersih tanpa dosa.

Makanya di banyak daerah (di Jawa) , rumah-rumah menjelang Lebaran dilabur (dicat putih ulang), yang mengandung arti pembersihan lahir, di samping pembersihan batin setelah melakukan puasa.

Dan, ada pesan tersirat dalam Lebaran yang tersurat, “Kalau kita berpakaian indah, jangan biarkan tetangga kiri dan kanan tidak ikut merasakan hal yang sama.” Bukankan berbuat baik untuk diri sendiri itu hanyalah kesenangan, tetapi berbuat baik untuk sesama itulah kebahagiaan?

Jadi, hiasi hari rayamu, hiasi kembali sucimu dengan berbagi, bersilaturahmi, bertasbih, bertahmid, dan bertakbir, bukan dengan berpamer.

Di masa pandemi gadget di tanganmu bisa menjadi media ampuh bersilaturahmi. Penuhi medsos(mu) sebagai orang yang insya Allah dosanya telah lebur dan tak ingin mengulanginya dengan sebar dan tebar ghibah, hoax & ujar kebencian. Sebaliknya luberkan rahmat dan berkah kebenaran, kebaikan, kebermanfaatan.

Tulisan : @KangMaman1965

12Feb

Imlek tahun ini saya mendengarkan penjelasan sangat menarik mengenai makna imlek menurut Pastor J.A. Hendra Sutedja, SJ yang pernah belajar teologi di Taiwan dan spiritualitas di Roma serta fasih berbahasa Mandarin.

Romo Hendra antara lain menjelaskan sejarah perayaan imlek, arti warna merah, makanan yang dimakan saat merayakan imlek, dan berbagai kebiasaan imlek lainnya yang makna simboliknya sangat mendalam mengenai rasa syukur, kebahagiaan dan harmoni dalam keluarga, keinginan kuat untuk mengalahkan yang mengganggu kehidupan, keinginan melindungi keluarga khususnya anak-anak, dlsb. Romo Hendra mengajak agar kita memahami nilai-nilai kehidupan di balik semua tradisi dan simbol imlek.

 

Yang paling menarik  adalah bagaimana Romo Hendra menjelaskan imlek dan Paskah yang keduanya adalah perayaan awal musim semi yang dirayakan untuk menyambut hidup baru. Maka perayaan imlek adalah perayaan harapan bahwa kehidupan kita masih akan berlanjut dengan penuh kegembiraan dalam kebersamaan. Bagi yang percaya kepada Tuhan tidak ada alasan lagi utk berputus asa dan kehilangan harapan karena kebaikan Tuhan tidak akan pernah berhenti.

Untuk kami di Eco Camp dan Eco Circle tahun 2021 ini adalah tahun harapan utk refocusing dan reorganisasi. Kami akan fokus kembali pada program edukasi kesadaran lingkungan hidup. Kami dalam proses untuk merekrut program manager dan memperkuat tim program dengan tenaga-tenaga muda yang lebih mampu. Kami juga berusaha agar secara keuangan kami bisa lebih sustainable. Kami masih mengandaikan doa dan dukungan para sahabat Eco Camp dan Eco Circle sambil mengucapkan terima kasih kepada semua sahabat yang sudah membuka hati dan mengulurkan tangan untuk membantu Eco Camp dan Eco Circle.

Pst. Ferry Sutrisna Wijaya Pr

11Feb

Saat sedang duduk di Eco Camp, tiba-tiba ada seorang ibu yang datang dan tersenyum dari jauh. Setelah menyapa, ternyata ibu ini bernama Yosita, yang merupakan pengajar sekolah Waldrof. Sejak tahun 2018, sekolah Waldrof atau yang sering disebut Arunika biasanya mengadakan pelatihan untuk pengajar-pengajarnya di Eco Camp. Hal ini yang membuat ibu Yosita sudah senyum dari kejauhan. Ibu Yosita tidak sendiri, beliau membawa seorang anak laki-laki yang berumur 3 tahun yang sudah pasti adalah anaknya. Masih jelas diingatan saya, bahwa 2 tahun yang lalu, ibu Yosita masih menggendong bayi kecil ini. Auva nama batita ini, sangat menggemaskan dan aktif. Ternyata Auva yang merindukan Eco Camp. Tempat ajaib yang penuh dengan cinta. Cinta itu ternyata telah dipanen oleh Auva.

“Kami tinggal di Kalimantan dan baru satu bulan yang lalu, kami pindah ke Bandung, Dago Pakar. Dan saya berniat mengajak Auva untuk jalan-jalan menuju ke Taman Hutan Raya”, cerita ibu Yosita. “Tetapi, ketika sampai di gerbang Eco Camp, Auva memaksa ibunya untuk mampir ke Eco Camp, Auva ingat dengan Eco Camp, Auva ingat dimana letak kolam yang terdapat kura-kuranya.”, lanjut ibu Yosita.

Auva mempunyai ingatan yang sangat kuat. Walaupun saat itu, ia masih digendong oleh ibunya. Auva sangat bahagia ketika bermain di Eco Camp dan mengajak ibunya untuk berkeliling sampai ke kebun Eco Camp. Auva sudah mempunyai kesadaran sejak lahir dan anak-anak seperti ini yang dinamakan The Crystal ChildrenThe Crystal Children sudah mempunyai keadaran bahwa alam semesta ini harus dijaga.

 

Pertemuan dengan Auva dan ibunya membuat saya merasa bahwa harapan itu sungguh-sungguh ada. Pertemuan ini makin meyakinkan saya untuk terus melakukan hal yang lebih baik untuk masa depan bumi, tempat hidup kita semua.

15Feb

Kegiatan kali ini sedikit unik karena diawali dengan duduk hening. Diawali dengan suara genta sebanyak 3 kali, peserta diajak untuk mulai menyadari nafas masuk dan nafas keluar. Mengapa nafas? Karena nafas adalah jembatan yang menghubungkan pikran dengan tubuh. Pikiran sering melayang-layang memikirkan sesuatu yang lain ketika raga sedang duduk atau berdiri. Sehingga, tujuan dari duduk hening ini sendiri adalah untuk membuat kita menjadi lebih tenang dan fokus untuk menjalani aktivitas selanjutnya.

“Saya merasa terkoneksi kembali dengan alam dan semua ciptaan Tuhan ketika mengikuti upacara minum teh”, ujar Suster Magda yang menemani tenaga penunjang santa Ursula ke Eco Camp. Tidak hanya Suster Magda, masih banyak lagi yang merasakan kebahagian karena secangkir teh yang sederhana. Tanpa disadari, teh ini sudah disiapkan bertahun-tahun yang lalu ketika para petani menanam benih teh. Selain itu, teh ini adalah perjuangan semua tokoh di alam semesta.

Tenaga penunjang santa Ursula yang datang ke Eco Camp terdiri dari tenaga penunjang di beberapa unit yaitu TK, SD, SMP dan Yayasan. Mereka yang sudah berkegiatan dari pagi, masih tetap bersemangat mengikuti kegiatan terakhir yaitu komitmen. Komitmen ini didiskusikan per masing-masing unit sesuai dengan apa yang sudah mereka dapatkan di Eco camp. Komitmen-komitmen kecil ini yang akan dijalani di setiap unit di santa Ursula yang terletak di jalan Bengawan, No 2 Bandung.

14Feb

Indonesia sudah terlalu terbiasa dengan budaya ‘bos dan jongos’ yang harus dihilangkan. Mencuci piring sendiri adalah bagian dari hidup sebagai manusia berkualitas yang bertanggung jawab atas diri sendiri. Ibu-ibu dari Periska PT. Len Industri Bandung dengan gembira mencuci piring setelah selesai makan siang di Eco Camp. Menurut mereka, cuci piring sendiri setelah selesai makan adalah acara spesial yang ditawarkan ketika belajar di Eco Camp.

Kali ini (14 Februari 2019), panitia divisi pendidikan Periska Len memilih Eco camp sebagai tempat silahturahmi. Selain silahturahmi, mereka juga belajar mengenai pengolahan sampah, baik organik maupun anorganik. Mengingat bahwa, ibu-ibu yang akan mengurusi rumah tangga. Sehingga, ibu-ibu diharapkan untuk tahu bagaimana mengolah dan memanfaatkan sampah dapur dan sampah plastik.

“Perasaan saya bahagia, kegiatan disini luar biasa karena memberi wawasan, selain memberikan wawasan tentang lingkungan, juga mengingatkan kembali kepada kita akan nilai-nilai yang sebenarnya sudah ada di dalam diri kita”, ungkap Dini, selaku istri dari Direktur Keuangan PT. Len Industri yang diwawancarai setelah selesai kegiatan.

Nilai yang diingatkan lagi oleh Eco Camp adalah nilai-nilai sederhana yang sudah mulai dilupakan. Contohnya seperti menyimpan alas kaki di tempatnya, mencuci piring sendiri, merapikan meja makan setelah selesai makan dan masih banyak lagi.

06Feb

Anak-anak SD St. Yusuf Bandung ditemani oleh 4 orang gurunya berkunjung ke Eco Camp. Sesuai dengan permintaan dari pihak sekolah, anak-anak kelas 2 SD ini akan belajar untuk menanam dengan menggunakan teknologi pot sumbu di Eco Camp dan tentang bangun datar. Bangun datar adalah pelajaran yang sekarang mereka dapatkan disekolah.

Sesampainya di Eco Camp pada Rabu, 6 Februari 2109, mereka semua langsung berkumpul di ampi teater dan menyantap snack yang mereka bawa. Disitulah, mereka diminta untuk coba berbagi dengan teman-temannya. Karena ketika berbagi maka kita akan menjadi bahagia.

Selanjutnya, seperti biasa disambut dengan upacara yang sangat sederhana untuk menghargai tokoh-tokoh di alam semesta yang sudah berjuang dengan penuh cinta untuk menghasilkan secangkir teh. Mulai dari cacing tanah, mikroba, mineral, tanah, air, sinar matahari, awan sampai petani, pedagang dan ibu-ibu dapur. Dengan tea ceremony, anak-anak belajar untuk menghargi. Kemudian dibagi 2 kelompok besar untuk mengikuti 2 kegiatan diantaranya  yaitu “Teknologi Pot Sumbu” dan “Magic Square”.

Dengan “Teknologi Pot Sumbu”, anak-anak diajarkan untuk menanam tanaman dan yang paling penting adalah diberi tanggung jawab untuk menjaganya. Sedangkan “Magic Square”, mereka belajar untuk bekerja sama dengan teman kelompoknya untuk menyelesaikan suatu masalah. Mereka sangat bersemangat untuk belajar sambil bermain di Eco Camp.

02Feb

Guru-guru dan karyawan ini bukan tidak mempunyai alasan datang ke Eco Camp. Mereka direkomendasikan untuk datang ke Eco Camp dan belajar dengan Romo Ferry Sutrisna Wijaya. Sabtu, 2 Februari pukul 8 pagi, kelompok guru dan karyawan dari TK. KB Yos Sudarso ini sudah tiba di Eco Camp.

Seperti biasa disambut dengan Tea Ceremony, lalu kami berjalan lambat ke kebun Eco Camp. Sebelum berjalan hening dan lambat ke kebun, kami menyanyikan satu buah lagu dengan judul “Ku Tlah Tiba”. Lagu ini berasal dari Plum Village di Perancis. Lagu ini yang dipakai untuk memaknai jalan lambat di Eco Camp. Lagu sederhana ini mempunyai makna yang sangat dalam. Lagu ini menyampaikan pesan bahwa kita tidak perlu terburu-buru karena sebenarnya kita sudah sampai di rumah sejati kita. Masa depan belum kita lalui dan masa lalu sudah lewat, yang akan menentukan masa depan adalah pilihan-pilihan kecil yang ada dimasa sekarang atau saat ini.

Setelah berjalan ke kebun, kegiatan dilanjutkan dengan sharing 7 kesadaran baru hidup ekologis yang merupakan perjuangan di Eco Camp. Tujuh kesadaran ini juga diharapkan dapat melengkapi dan mewarnai 10 Keutamaan Pendidikan di Yayasan Tunas Karya yaitu : Cinta Kasih, Berbakti, Ramah Tamah, Sopan Santun, Jujur, Disiplin, Bertanggung Jawab, Tekun, Bertidak Adil dan Bersahaja.

Selanjutnya adalah rekoleksi dengan Romo Ferry dengan tema “Menjadi Pribadi 1 Komunitas yang : Ramah Tamah, Bersahaja dan Disiplin”. Harapannya adalah guru dan karyawan di TK. KB Yos Sudarso ini dapat mengajar dan menjadi guru yang lebih baik. Sehingga, selain mengajar, mereka juga meluangkan waktu untuk belajar bersama sehingga mereka semua tetap mempunyai semangat yang sama dalam membimbing murid-murid di sekolah mereka. Mereka berkegiatan hampir 1 hari penuh kemudian diakhiri dengan misa bersama Romo Ferry.

21Jan

Pagi itu, guru-guru Kabupaten Balangan sudah dikumpulkan untuk briefing dan langsung mencoba untuk membiasakan diri untuk hening. Ada 15 guru yang ikut dalam kegiatan Eco Youth Camp 2. Kegiatan ini dilaksanakan oleh Green Leader Balangan. Tim Green Leader Balangan adalah peserta yang Green Leader 2 di Eco Camp pada tahun 2016 yang berasal dari Balangan, Kalimantan Selatan.

Pembukaan kegiatan di Wisma Manyadar dihadiri oleh perwakilan Bupati Balangan, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Balangan dan perwakilan dari PT. Adaro Energy. Kegiatan ini di dukung penuh oleh pemerintah Kab. Balangan, dalam rangkan mewujudkan visi kabupaten “TERWUJUDNYA KABUPATEN BALANGAN YANG MAJU DAN SEJAHTERA MELALUI PEMBANGUNAN SUMBER DAYA MANUSIA”. Sumber daya manusia harus berkualitas sehingga mampu mengolah kekurangan menjadi kekuatan untuk melakukan sesuatu bagi rumah kita, Bumi.

Kegiatan berlanjut dengan sharing mengenai 7 Kesadaran Baru Hidup Ekologis. Selain itu, ada juga latihan membumi. Membumi dapat membuat kita kembali berkoneksi dengan alam semesta dan kebaikan-kebaikan yang ada disekitar kita. Ada juga simposium Awakening The Dreamer, Changing The Dream dihari berikutnya yang membuat peserta akhirnya dapat berkomitmen untuk melakukan sesuatu setelah mengikuti Eco Youth Camp 2. Simposium ini yang kemudian mengantarkan peserta untuk membuat Vision Board pada hari ketiga. Vision Board berisi tentang deskripsi diri dan visi untuk diri sendiri, keluarga dan lingkungan kerja untuk 3 bulan, 6 bulan dan 1 tahun kedepan dan dilengkapi dengan indikator dan base line. Selain Vision Board, ada juga rencana kegiatan per masing-masing sekolah.

Komitmen adalah hal penting. Tetapi yang lebih penting adalah aksi yang didampingi oleh kehendak kuat. Eco Youth Camp 2 ditutup dengan diumumkan peserta terbaik. Enam peserta ini mendapatkan piagam dan uang pembinaan untuk membantu rencana kegiatan yang sudah mereka susun.

Guru-guru ini diharapkan menjadi contoh untuk anak-anaknya di sekolah tempatnya mengabdi. Guru-guru yang akan menjaga agar harapan tetap ada karena harapan bangsa dan harapan Bumi ada di tangan anak-anak penerus masa depan.

09Jan

Bangun dari mimpi yang lama untuk membuat mimpi di jalan yang benar. Sesungguhnya, semua yang terjadi karena manusia merasa terpisah dari alam semesta. Padahal kita semua adalah satu.

Melihat kondisi saat ini, sangat tidak memungkinkan untuk tidak melakukan sesuatu atau hanya memilih pura-pura tidak tahu. Kita harus melakukan sesuatu. Karena, walaupun persoalan dan krisis yang dialami BESAR, tetapi kemungkinan dan harapan LEBIH BESAR.

Kita semua bisa melakukan apapun, yang paling penting adalah kreativitas diri masing-masing. Kita hanya perlu melakukan sesuatu yang kecil dan sungguh sanggup dilakukan dengan bahagia, bukan paksaan. Kita melakukan sesuatu di bidang kita masing-masing untuk kebaikan ibu bumi. Itulah panggilan hidup yang sesungguhnya. Dua puluh tiga peserta yang berkegiatan di Eco Camp mendapatkan sesuatu yang baru.  Para peserta juga diingatkan kembali untuk melakukan kembali hal-hal kecil yang sangat sederhana.

Kegiatan dengan tema merawat rumah kita bersama adalah kegiatan retret ekologis yang dilaksanakan pada tanggal 6 – 9 Januari 2019. Kegiatan ini bertujuan untuk mengingatkan kembali akan hal-hal baik yang seharusnya kita lakukan untuk membuat ibu Bumi kembali tersenyum. Selama berkegiatan, peserta diajak untuk lebih banyak megolah rasa, memaknai setiap pilihan hidup yang dilakukan. Selain itu, peserta juga berkesempatan berkunjunga ke Tebing Keraton dan Taman Hutan Raya Djuanda untuk menikmati hutan yang sebenarnya memberikan kebaikan yang sangat banyak kepada kita. Setelah 4 hari, akhirnya peserta kembali ke rumah dan lingkungan masing-masing. Para peserta yang pulang dari Eco Camp membawa satu komitmen kecil yang sudah diikat. Komitmen akan tinggal komitmen jika tak dilakukan.

1 2 3 5