hanesovia

28Aug

Bumi sudah tidak mampu lagi menampung manusia. Apalagi sampah yang dihasilkan makin bertambah tiap tahunnya. Mulai dari sampah organik sampai anorganik. Bumi sudah tidak sanggup untuk mengurainya dan mustahil jika manusia harus pindah ke Mars. Sehingga, manusia yang harus berubah. Apa yang harus berubah? Perilaku dan pola hidup. Salah satunya seperti yang dilakukan oleh Pak Alex Iskandar, salah satu pendiri Yayasan Sahabat Lingkungan Hidup. “REUSE”. Ransel Rucksack yang dibeli pada tahun 1991 masih di pakai sampai sekarang. Apakah selama 27 tahun ini ransel tidak robek? Pasti robek. Tapi, tidak langsung dibuang dan menjadi sampah. Rucksack tua ini dijahit dan dipakai lagi sampai sekarang. Bahagia melihat wajah gembira Pak Alex memegang Rucksack 27 tahunnya. Ayo teman-teman jangan mau kalah sama Pak Alex.

                                                           UBAH POLA PIKIR DAN POLA HIDUP

27Aug

Green Lifestyle saya berawal ketika saya pindah tempat kos yang baru. Sebelum pindah, saya sudah berniat untuk mengurangi sampah-sampah yang ada di kamar saya. Sehingga saya memutuskan untuk menyumbangkan sebagian besar baju dan sepatu yang jarang saya gunakan. Saya juga tidak punya sampah organik, kecuali yang setiap hari dibuang yaitu number 1 dan number 2. Selain itu, saya selalu makan di tempat. Menahan diri untuk tidak membawa pulang. Ada sebuah kejadian menarik saat sudah ‘say no to plastic straw’. Ketika memesan kopi di kafe, saya selalu mengatakan “Mas, tanpa sedotan yah”. Tetapi, selalu saja ditancapkan sedotan plastik didalam gelas kopi. Akhirnya saya mempunyai cara baru untuk memesan kopi, “Mas, kopinya yang hangat saja”. Mengapa? Ketika yang dipesan kopi hangat, maka mereka tidak akan memberikan sedotan.

Kosan baru dengan suasana yang baru. Tak terlepas dari masalah baru karena masalah akan selalu ada selama kita hidup. Masalah baru yang terpikirkan adalah sampah-sampah plastik ketika membeli buku dan kopi. Sehingga tantangan yang saya buat untuk diri sendiri adalah membuat Eco Brick. Mengisi botol Eco Brick sesedikit mungkin dalam kurun waktu 1 tahun.

Start : 3 Agustus 2018

End : 3 Agustus 2019

25Aug

Siapa yang mau belajar hening?

Jawabannya adalah anak-anak muda. Mencari keheningan di Bandung, tepatnya di Eco Camp. Rombongan ketiga anak-anak SMA St. Theresia kelas X datang lagi ke Eco Camp. Mereka benar-benar berusaha untuk memanen hening “ning” dan tenang “nang”. Menjauh dari ramainya Jakarta. Eco Camp adalah tempat yang sangat menghargai keheningan. Setiap jam akan ada bunyi denting jam yang sesuai dengan jamnya. Bahagia melihat banyak orang yang sedang sibuk langsung berhenti dan menyadari nafas ketika mendengar bunyi denting jam.

Bahkan saat mencabut gulma di kebun pun dalam keadaan hening. Luar biasa. Ketika mereka dapat fokus dengan hal-hal sederhana, maka hal-hal besar pun akan dijalani dengan fokus dan penuh keteguhan.

22Aug

Untuk ketiga kalinya, mahasiswa Fakultas Ilmu Kesehatan Unika Musi Charitas Palembang datang ke Eco Camp untuk belajar mengenai hidup yang selaras dengan alam dengan menjadi manusia berkualitas. Manusia berkualitas adalah manusia yang punya kesadaran. Kesadaran untuk menjadi lebih baik. Dua puluh mahasiswa terbaik FIKes Musi Charitas menempuh perjalanan 24 jam untuk tiba di Bandung. Mereka ditemani suster Modesta, FCh yang menjelaskan bahwa anak muda generasi milenial butuh kesadaran baru. Mereka sudah tidak peduli, tidak sabar dan generasi yang serba instan. Mereka juga terbiasa dengan hiruk pikuk dunia yang menawarkan perubahan yang sangat cepat. Sehingga, mereka datang ke Eco Camp untuk membuat mereka memiliki kesadaran terlebih dahulu. Setelah sadar, maka peduli akan muncul dan mulai menghargai proses, jelas Suster Modesta, FCh.

Ansel yang merupakan ketua rombongan untuk gelombang 3 ini juga menjelaskan bahwa teman-temannya sangat antusias mengikuti kegiatan di Eco Camp. Walaupun tidak semua hal dipelajari tetapi minimal mereka lebih aware mengenai sampah. Terutama sampah plastik.
Setelah tiba di Palembang nanti, mereka akan masuk kedalam KOSAMI (Komunitas Sahabat Bumi) yang anggotanya adalah mahasiswa/i Musi Charitas yang pernah datang ke Eco Camp. KOSAMI menjadi penggerak untuk membuat mahasiswa/i di Musi Charitas lebih sadar dan berkualitas.
Ciptakanlah Eco Camp – Eco Camp kecil di tempat kalian, sahabatku. Dua puluh empat jam perjalanan yang tidak akan pernah sia-sia.

21Aug

Eco Camp kedatangan tamu istimewa dari Lampung yaitu Bupati Tulang Bawang Barat atau sering disingkat Tubaba. Bupati Tubaba, Umar Ahmad datang bersama para kepala dinas dan semua kepala desa Tubaba. Mereka akan berkegiatan selama 3 hari 2 malam. Rombongan ini sengaja datang jauh-jauh dari Tubaba untuk melihat nilai-nilai lokal serta konsep-konsep kelestarian apa saja yang dapat mereka serap dari Eco Camp dan akhirnya dapat diterapkan di Tubaba.
Tiba di Eco Camp sekitar jam 1 siang dan disambut oleh kak Adi (Ksatria Shambala). Tak ketinggalan tea ceremony. Bapak-bapak jajaran pemda Tubaba sangat menghayati tea ceremony, belajar menghargai proses dan perjuangan dari benih teh, petani dan ibu-ibu dapur yang menyediakan teh. Setelah itu, Romo Ferry SW selaku pendiri sekaligus pembina Yayasan Sahabat Lingkungan Hidup menceritakan sejarah berdirinya Eco camp dan 3 nilai yang betul-betul dihidupi yaitu semangat berbagi, tanggung-jawab, dan penghargaan yang ketika ketiga nilai itu dijalankan maka kita akan menjadi manusia berintegritas.
Umar Ahmad, Bupati Tubaba juga menceritakan bahwa kabupaten Tubaba sering dikatakan kabupaten bukan-bukan. Mengapa? Karena, jika anda ke Tubaba untuk mencari pantai, maka anda tidak akan menemukannya. Jika anda ke Tubaba untuk mencari kesejukan, maka anda tidak akan mendapatkannya karena tidak ada hutan maupun gunung. Selain itu, kabupaten Tubaba bukan merupakan lintasan sehingga terpisah sendiri. Hal ini yang menyebabkan Tubaba bukan suatu tempat untuk dituju oleh orang lokal maupun mancanegara. Sehingga konsep untuk menjadikan Tubaba sebagai tujuan adalah dengan eduwisata ekologis. Hal ini sesuai dengan harapan Tubaba yaitu hidup dalam Kesederhanaan, Kesetaraan dan Kelestarian dengan sesama manusia dan alam semesta.
Seluruh proses penyambutan ditutup dengan paparan ibu Shierly bahwa manusia Indonesia harus berubah. Bukan kebetulan Bupati Tubaba bersama pemda Tubaba datang ke Eco Camp. Akhir kata dari ibu Shierly adalah bahwa walaupun kita beragam, tapi kita Indonesia. Teriakan semangat diiringi lagu Pancasila Rumah Kita memecahkan keheningan sore di Eco Camp. Suasana riuh haru ketika terdengar teriakan : SAYA KATOLIK, SAYA MUSLIM, KITA INDONESIA.

1 2 3