hanesovia

03Sep

Teh adalah minuman sederhana yang biasanya disuguhkan untuk para tamu yang datang di Eco Camp. Menurut sejarah, teh ditemukan di Tiongkok sudah mendunia. Teh bisa dikatakan minuman semua umat. Minum teh ternyata sudah menjadi kebiasaan ratusan bahkan ribuan tahun yang lalu. Ada berbagai macam cara untuk minum teh. Begitupun minum teh di Eco Camp.

Di Eco Camp, semua tamu yang datang selalu disambut dengan upacara minum teh. Minum teh ditemani keheningan. Diberikan dengan senyuman dan tatapan mata. Secangkir teh yang sudah diterima, harus digenggam untuk merasakan kehangatan teh tersebut. Setelah itu, akan dikisahkan perjalanan dari benih teh yang sudah berubah menjadi secangkir teh.

 

Benih teh yang ditanam para petani teh tidak hanya diam. Tetapi, benih ini tidak putus asa. Benih ini berniat untuk berubah menjadi sesuatu yang lebih baik. Berkat bantuan cacing tanah, mikroba, mineral dan air yang ada dalam tanah, benih mulai memunculkan akarnya. Perlahan-lahan akarnya mulai menyebar dan masuk kedalam tanah. Setelah itu, benih berjuang untuk mulai tumbuh menembus tanah. Kesakitan yang benih rasakan, tetapi benih tetap mau berjuang. Akhirnya, benih muncul dipermukaan dan bertemu dengan sinar matahari, udara dan air. Kemudian benih mulai melepaskan cangkangnya dan mengeluarkan daun pertamanya.

Tiga tahun berlalu, benih teh ini sudah menjadi pohon teh yang indah. Dirawat dengan penuh cinta oleh para petani. Tiba saatnya untuk memanen, daun teh kemudian dipetik oleh petani dan dan dibawa pulang untuk dikeringkan. Lagi-lagi daun teh harus merasakan panas ketika dijemur di bawah teriknya matahari. Setelah kering, dibawa ke pasar dan dijual oleh para pedagang. Daun teh kering inilah yang dibeli oleh ibu-ibu dapur.
Selain perjuangan benih, ada juga bantuan awan yang ketika berkumpul semakin banyak diatas, akan turun dalam bentuk hujan. Air hujan yang turun akan masuk ke dalam tanah dan muncul kembali ke permukaan dalam bentuk mata air. Mata air inilah yang digunakan untuk menyeduh dauh teh. Butuh perjuangan banyak tokoh untuk teh dapat hadir didalam gelas. Perjuangan alam semesta. Kebaikan alam semesta yang berkumpul dalam secangkir teh. Minum teh dengan penuh kesadaran membuat manusia menjadi satu dengan alam. HARMONI.

30Aug

Kebaikan harus terus menerus dibagikan. Hari ini para kakak-kakak Ksatria Shambala menemani 71 anak kelas VII SMP Bintang Mulia, Bandung. Tiba di Eco Camp dengan seragam putih biru ditemani oleh bapak-ibu gurunya. Seperti biasanya disambut dengan tea ceremony. Kemudian, diceritakan dan mereka belajar mengenai apa yang terjadi pada “Rumah Kita”, Bumi. Ya, Rumah Kita yang sudah penuh dengan polusi dan sampah. Tetapi, harapan akan selalu ada selama masih ada yang mau berjuang. Harapan untuk anak-anak pemilik masa depan adalah seperti perjuangan pasir kuarsa yang harus rela dipanaskan untuk dibentuk menjadi bola lampu. Bola lampu yang akhirnya dapat menyinari dunia. Salah satu perjuangannya adalah dengan membawa botol minum. Siapa yang membawa botol minum? Dengan semangat mereka mengangkat botol minumnya. Satu botol minum isi ulang telah menyelamatkan Bumi dari 2 botol minum kemasan dalam 1 hari.

Selain itu, mereka juga mengikuti kegiatan di kebun organik Eco Camp seperti menanam diatas sampah organik, menyemai dan merawat tanaman dengan cara mencabut gulma. Ada beberapa anak yang kurang nyaman ketika harus bersentuhan langsung dengan tanah. Tetapi, sebagian besar sangat senang ketika mereka diberi kesempatan untuk menyemai dan mencabut gulma. Mereka sudah menabur benih baik yang suatu saat akan mereka panen. Mereka sudah menjadi bola lampu yang dapat menyinari dunia.

28Aug

Sesungguhnya tidak ada tempat sampah didunia ini. Tuhan pun tidak menciptakan tempat sampah apalagi sampah. Tetapi manusia sangat serakah karena selalu merasa tidak cukup. Apalagi soal berbelanja. Tidak dipungkiri, kaum wanita sangat senang melihat 4 huruf ini ”S A L E”. Beli dulu mumpung diskon. Sehari atau seminggu kemudian, kaum wanita dapat membeli lagi ketika melihat “S A L E”. Seterusnya selalu seperti itu sampai terkadang ada pakaian yang baru sekali dipakai. Mirisnya ada juga pakaian yang belum pernah dipakai. Padahal, untuk membuat 1 buah baju diperlukan air sebanyak 26000 Liter air. Selain air, masih banyak lagi sumber daya yang terbuang-buang.

Ternyata manusia menimbun sampah di dalam lemarinya sendiri. Jika sudah terlanjur maka berikan yang tidak dipakai kepada orang yang membutuhkan. Setelah itu, ubah pola hidup. Ibu Shierly, selaku ketua Yayasan Sahabat Lingkungan Hidup melakukan 9R tersebut, salah satunya adalah “R E U S E”. Ibu Shierly sampai saat ini masih menggunakan dress ungu miliknya yang sempat robek. Ketika dress ini robek, beliau tidak langsung membuangnya. Dress ungu ini dijahit lagi dan digunakan.

Ini cerita tentang perjuangan Ibu Shierly… Kamu?

28Aug

Bumi sudah tidak mampu lagi menampung manusia. Apalagi sampah yang dihasilkan makin bertambah tiap tahunnya. Mulai dari sampah organik sampai anorganik. Bumi sudah tidak sanggup untuk mengurainya dan mustahil jika manusia harus pindah ke Mars. Sehingga, manusia yang harus berubah. Apa yang harus berubah? Perilaku dan pola hidup. Salah satunya seperti yang dilakukan oleh Pak Alex Iskandar, salah satu pendiri Yayasan Sahabat Lingkungan Hidup. “REUSE”. Ransel Rucksack yang dibeli pada tahun 1991 masih di pakai sampai sekarang. Apakah selama 27 tahun ini ransel tidak robek? Pasti robek. Tapi, tidak langsung dibuang dan menjadi sampah. Rucksack tua ini dijahit dan dipakai lagi sampai sekarang. Bahagia melihat wajah gembira Pak Alex memegang Rucksack 27 tahunnya. Ayo teman-teman jangan mau kalah sama Pak Alex.

                                                           UBAH POLA PIKIR DAN POLA HIDUP

27Aug

Green Lifestyle saya berawal ketika saya pindah tempat kos yang baru. Sebelum pindah, saya sudah berniat untuk mengurangi sampah-sampah yang ada di kamar saya. Sehingga saya memutuskan untuk menyumbangkan sebagian besar baju dan sepatu yang jarang saya gunakan. Saya juga tidak punya sampah organik, kecuali yang setiap hari dibuang yaitu number 1 dan number 2. Selain itu, saya selalu makan di tempat. Menahan diri untuk tidak membawa pulang. Ada sebuah kejadian menarik saat sudah ‘say no to plastic straw’. Ketika memesan kopi di kafe, saya selalu mengatakan “Mas, tanpa sedotan yah”. Tetapi, selalu saja ditancapkan sedotan plastik didalam gelas kopi. Akhirnya saya mempunyai cara baru untuk memesan kopi, “Mas, kopinya yang hangat saja”. Mengapa? Ketika yang dipesan kopi hangat, maka mereka tidak akan memberikan sedotan.

Kosan baru dengan suasana yang baru. Tak terlepas dari masalah baru karena masalah akan selalu ada selama kita hidup. Masalah baru yang terpikirkan adalah sampah-sampah plastik ketika membeli buku dan kopi. Sehingga tantangan yang saya buat untuk diri sendiri adalah membuat Eco Brick. Mengisi botol Eco Brick sesedikit mungkin dalam kurun waktu 1 tahun.

Start : 3 Agustus 2018

End : 3 Agustus 2019

25Aug

Siapa yang mau belajar hening?

Jawabannya adalah anak-anak muda. Mencari keheningan di Bandung, tepatnya di Eco Camp. Rombongan ketiga anak-anak SMA St. Theresia kelas X datang lagi ke Eco Camp. Mereka benar-benar berusaha untuk memanen hening “ning” dan tenang “nang”. Menjauh dari ramainya Jakarta. Eco Camp adalah tempat yang sangat menghargai keheningan. Setiap jam akan ada bunyi denting jam yang sesuai dengan jamnya. Bahagia melihat banyak orang yang sedang sibuk langsung berhenti dan menyadari nafas ketika mendengar bunyi denting jam.

Bahkan saat mencabut gulma di kebun pun dalam keadaan hening. Luar biasa. Ketika mereka dapat fokus dengan hal-hal sederhana, maka hal-hal besar pun akan dijalani dengan fokus dan penuh keteguhan.

22Aug

Untuk ketiga kalinya, mahasiswa Fakultas Ilmu Kesehatan Unika Musi Charitas Palembang datang ke Eco Camp untuk belajar mengenai hidup yang selaras dengan alam dengan menjadi manusia berkualitas. Manusia berkualitas adalah manusia yang punya kesadaran. Kesadaran untuk menjadi lebih baik. Dua puluh mahasiswa terbaik FIKes Musi Charitas menempuh perjalanan 24 jam untuk tiba di Bandung. Mereka ditemani suster Modesta, FCh yang menjelaskan bahwa anak muda generasi milenial butuh kesadaran baru. Mereka sudah tidak peduli, tidak sabar dan generasi yang serba instan. Mereka juga terbiasa dengan hiruk pikuk dunia yang menawarkan perubahan yang sangat cepat. Sehingga, mereka datang ke Eco Camp untuk membuat mereka memiliki kesadaran terlebih dahulu. Setelah sadar, maka peduli akan muncul dan mulai menghargai proses, jelas Suster Modesta, FCh.

Ansel yang merupakan ketua rombongan untuk gelombang 3 ini juga menjelaskan bahwa teman-temannya sangat antusias mengikuti kegiatan di Eco Camp. Walaupun tidak semua hal dipelajari tetapi minimal mereka lebih aware mengenai sampah. Terutama sampah plastik.
Setelah tiba di Palembang nanti, mereka akan masuk kedalam KOSAMI (Komunitas Sahabat Bumi) yang anggotanya adalah mahasiswa/i Musi Charitas yang pernah datang ke Eco Camp. KOSAMI menjadi penggerak untuk membuat mahasiswa/i di Musi Charitas lebih sadar dan berkualitas.
Ciptakanlah Eco Camp – Eco Camp kecil di tempat kalian, sahabatku. Dua puluh empat jam perjalanan yang tidak akan pernah sia-sia.

21Aug

Eco Camp kedatangan tamu istimewa dari Lampung yaitu Bupati Tulang Bawang Barat atau sering disingkat Tubaba. Bupati Tubaba, Umar Ahmad datang bersama para kepala dinas dan semua kepala desa Tubaba. Mereka akan berkegiatan selama 3 hari 2 malam. Rombongan ini sengaja datang jauh-jauh dari Tubaba untuk melihat nilai-nilai lokal serta konsep-konsep kelestarian apa saja yang dapat mereka serap dari Eco Camp dan akhirnya dapat diterapkan di Tubaba.
Tiba di Eco Camp sekitar jam 1 siang dan disambut oleh kak Adi (Ksatria Shambala). Tak ketinggalan tea ceremony. Bapak-bapak jajaran pemda Tubaba sangat menghayati tea ceremony, belajar menghargai proses dan perjuangan dari benih teh, petani dan ibu-ibu dapur yang menyediakan teh. Setelah itu, Romo Ferry SW selaku pendiri sekaligus pembina Yayasan Sahabat Lingkungan Hidup menceritakan sejarah berdirinya Eco camp dan 3 nilai yang betul-betul dihidupi yaitu semangat berbagi, tanggung-jawab, dan penghargaan yang ketika ketiga nilai itu dijalankan maka kita akan menjadi manusia berintegritas.
Umar Ahmad, Bupati Tubaba juga menceritakan bahwa kabupaten Tubaba sering dikatakan kabupaten bukan-bukan. Mengapa? Karena, jika anda ke Tubaba untuk mencari pantai, maka anda tidak akan menemukannya. Jika anda ke Tubaba untuk mencari kesejukan, maka anda tidak akan mendapatkannya karena tidak ada hutan maupun gunung. Selain itu, kabupaten Tubaba bukan merupakan lintasan sehingga terpisah sendiri. Hal ini yang menyebabkan Tubaba bukan suatu tempat untuk dituju oleh orang lokal maupun mancanegara. Sehingga konsep untuk menjadikan Tubaba sebagai tujuan adalah dengan eduwisata ekologis. Hal ini sesuai dengan harapan Tubaba yaitu hidup dalam Kesederhanaan, Kesetaraan dan Kelestarian dengan sesama manusia dan alam semesta.
Seluruh proses penyambutan ditutup dengan paparan ibu Shierly bahwa manusia Indonesia harus berubah. Bukan kebetulan Bupati Tubaba bersama pemda Tubaba datang ke Eco Camp. Akhir kata dari ibu Shierly adalah bahwa walaupun kita beragam, tapi kita Indonesia. Teriakan semangat diiringi lagu Pancasila Rumah Kita memecahkan keheningan sore di Eco Camp. Suasana riuh haru ketika terdengar teriakan : SAYA KATOLIK, SAYA MUSLIM, KITA INDONESIA.

1 3 4 5