niwyndewi

14Sep

Jumat yang berbahagia kali ini Eco Camp dikunjungi oleh anak-anak kelas 5A dan 5B dari SDK Bina Bakti yang beralamat di Jalan Bima, Bandung.

Semangat sangat terasa sekali dari anak-anak ini, karena sebelum pukul 08.00 mereka sudah sampai di Eco Camp. Walaupun mereka sangat aktif, tapi sunggu-sungguh memperhatikan loh. Dimulai dari upacara minum teh, anak-anak SDK Bina Bakti mampu mengambil esensi dari perjalanan segelas teh yang ada di dalam genggaman mereka. Tujuan mereka datang adalah agar mampu belajar mencintai alam semesta dengan cara belajar langsung kepada ibu bumi.

Sebelum belajar langsung kepada ibu bumi, kita membahas dulu apa yang sedang terjadi pada rumah kita dan tentu saja yang sedang kita rasakan saat ini. Banjir dimana-mana, tapi kekeringan juga melanda. Asap polusi udara yang menyesakkan dan juga sampah yang berserakkan dimana-mana. Tapi tenang saja, anak-anak berbakti dari SDK Bina Bakti ini siap kok untuk menjadi Bola Lampu yang siap menerangi dunia, menjadi anak yang bisa membawa harapan bagi alam sekitarnya. Setelah itu saatnya mereka untuk menyapa sahabat baru yang selalu membantu alam semesta agar subur sehingga manusia sampai saat ini masih bisa bernapas, bermain, belajar dan melakukan aktivitas lainnya.

Siapa sahabat baru ini? Ya, Benar! Cacing. Cacing yang tidak sesempurna seperti tubuh kita, tanpa kaki, tangan dan pengelihatan yang baik. Namun, mampu bekerja bersama alam semesta untuk membuat alam tetap terjaga kesuburannya. Setelah mengetahui bahwa cacing selalu ada untuk umat manusia, saatnya membuat tanaman yang ditanam di media bahan bekas, cukup sederhana namun harus dilakukan dengan cinta kasih. Sehingga tanaman yang dibawa pulang ini, bisa tumbuh subur dan menghasilkan buah yang baik.

Jika kita menanam benih yang baik, niscaya kita pun akan memanen hasil yang baik pula.

10Sep

Berlatih untuk menjadi sebuah kebiasaan yang terlatih. Tentu banyak jalan yang disediakan Tuhan untuk manusia lakukan menuju kepda jalan yang baik.

Salah satu sedang saya latih untuk menjadi manusia baik adalah membiasakan diri di dalam tas saya terdapat wadah makan, peralatan makan berupa sendok, garpu, pisau, tas belanja dan botol minum.

Susah? Tentu, saya adalah tipe orang yang mudah untuk menghilangkan barang, sehingga tentu saja peralatan saya beberapa kali hilang. Tapi ini tidak membuat saya mundur untuk terus berlatih membawa “senjata” saya untuk mengurangi penggunaan wadah sekali pakai, setidaknya peralaan saya yang hilang dan ditemukan akan digunakan sehingga orang yang menemukannya itu juga menjadi mengurangi penggunaan wadah sekali pakai.

Ada sebuah kejadian yang pernah saya alami saat saya berbelanja di pasar.

“Bu, gak usah pakai kresek, masukin aja ke tas ini” kata saya.
“Duh, gak apa-apa, neng. Nanti tasnya kotor” jawab Ibu penjual sambil muka keheranan.

“Iya Bu, gak apa-apa, kalau kotor tinggal di cuci aja”

“Pakai kresek aja ya, gratis kok kreseknya”

Pada akhirnya saya cuma nyengir aja, mengambil belanjaan saya dan melepas kresek kemudian memasukan belanjaan saya kedalam tas saya. Kresek memang menjadi hal yang “wajib” ketika berbelanja, jadi tentu saja akan tabu jika kita menolak kresek kepada orang yang yang belum sadar terhadap banyaknya sampah plastik di Bumi.

(Kebiasaan ini sudah saya lakukan sejak lama, foto sebelah atas diambil tanggal 4 September 2016 yang masih berlangsung hingga saat ini. Foto sebelah bawah diambil tangal 7 September 2018)

Selain kresek, juga penggunaan sedotan plastik yang menurut saya tidak terlalu penting untuk kita. Sebenarnya, sedotan dipakai agar apa? Agar lipstick yang digunakan tidak hilang? Agar terlihat keren saat sedang minum minuman favorit kita. Nah, kita lebih mementingkan sedikit rupiah yang harus dikeluarkan sedikit saja untuk memulas kembali lipstick daripada peduli terhadap rupiah lainnya yang harus dikeluarkan untuk memproduksi plastik dan ketika dibuang akan ada makhluk lainnya yang akan terkena dampak negatif dari sampah sedotan kita.

Ada kejadian juga ketika saya beberapa kali memesan minuman di sebuah cafe, saya sudah meminta tanpa menggunakan sedotan, tapi ternyata yang datang masih tetap menggunakan sedotan. Ketika saya tegur dan tanya kenapa masih menggunakan sedotan, pelayan meminta maaf dan mengambil sedotan tersebut, kemudian sedotan tersebut langsung dibuang kedalam wadah sampah. Oh, Tuhan. Maksud hati ingin sekaligus mengedukasi dan juga mengurangi penggunaan sedotan plastik, tapi apa daya orang yang belum mengerti tujuan baik yang sedang kita lakukan harus dikasihani.

Menyerah? Tentu saja tidak.

Lalu bagaimana saya bisa membuat orang disekitar saya paham dengan apa yang sadang saya perjuangkan?

Seperti kata Thich Nhat Hanh :

“Don’t try to show off to other people if you were saying “You know, I’m breathing in mindfully” Don’t worry what your sitting looks like from outside. Practice the non-practice practice. We can best convey the essence of the practice to other simply by doing it with our whole being”

Tidak perlu mengeluarkan banyak suara untuk menunjukan apa yang sedang dilatih dan diperjuangkan. Terus saja konsisten dan fokus. Ada saatnya nanti orang lain akan paham mengenai esensi yang saya lakukan hingga saat ini dan perlahan akan terketuk hati untuk mengikuti apa yang saya perjuangkan.

Maukah anda mendukung saya?

04Sep

September ceria Eco Camp diawali dengan kehadiran 30 anak bersuara emas dari tanah Medan tepatnya SMP Putri Cahaya Medan.

Amoris Lumine Choir yang berarti Cahaya Kasih, terdengar jelas dari nada-nada yang mereka nyanyikan adalah nada-nada kasih yang dipersembahkan untuk Tuhan yang telah memberikan alam semesta ini. Berkat bimbingan Pak Hendra sebagai konduktor, saat diminta secara dadakan untuk bernyanyi, mereka mampu memberikan penampilan yang baik. Tanpa panggung megah, tanpa sound, musik, dan atribut lainnya. Ada seorang anak yang langsung mengatakan “Kita bernyanyi untuk alam semesta!”. Mereka bernyanyi dengan panggung alam semesta disinari langsung oleh matahari di pagi hari, disaksikan oleh pepohonan dan angin yang membawa suara mereka keseluruh alam.

Anak-anak anggota Amoris Lumine Choir baru saja memenangkan juara pertama paduan suara pada salah satu perlombaan di Sumatra Utara. Kedatangan mereka ke Bandung adalah untuk mengikuti kembali perlombaan paduan suara.

Semangat anak-anak muda, teruslah berkarya dan jadilah penerang dunia.

Terima kasih telah meninggalkan cinta dan energi positif di Eco Camp.

25Aug

Apa yang ada dipikiran anda saat mendengar kata sampah?

Pasti yang pertama terlintas adalah kotor, bau dan menjijikan. Sesungguhnya sampah adalah barang yang sudah tidak dapat digunakan kembali yang dihasilkan oleh manusia dan alam semesta. Apakah alam semesta menghasilkan sampah? Tentu, sampah yang dihasilkan bisa berupa dedaunan kering yang jatuh ke tanah dan menjadi kompos.

Tahukah anda bahwa 60% sampah yang berada di Indonesia adalah sampah organik yang paling banyak adalah sisa makanan manusia. Hal ini membuktikan bahwa kita cukup sering membuang makanan, padahal setidaknya terdapat lima orang meninggal dunia tiap detiknya karena kelaparan. Lalu, sampah plastik berada sekitar 15% dari total keseluruhan sampah yang ada. 18 juta ton minyak bumi digunakan untuk memproduksi kemasan plastik dan kita ketahui bahwa begitu banyak sampah plastik yang dibuang, berarti hal ini menandakan bahwa kita menyia-nyiakan sumber daya alam berupa minyak bumi.

Sesungghnya darimanakah sampah itu berasal? Anda pasti menjawab manusia. Ya, benar, diawali dari pertumbuhan penduduk yang semakin meningkat, maka kebutuhan manusia pun semakin bertambah. Terlebih lagi manusia semakin ingin hidup praktis sehingga produk yang digunakan lebih banyak kemasan sekali pakai, hal ini yang menyebabkan produksi sampah semakin banyak. Pola hidup konsumtif manusia juga ikut andil, kita biasa menyebutnya lapar mata. Lihat diskon langsung tertarik, tidak peduli apakah membutuhkan atau tidak, yang penting itu barang diskon maka dibeli. Akibat dari bertambah banyaknya populasi manusia ini, makin banyak manusia yang tidak peduli dengan keadaan disekitarnya.

(Dokumentasi Pribadi : Foto bentuk kemasan sekitar awal tahun 2000 yang hingga saat ini bentuknya masih utuh)

Kita sering sekali mendengar slogan “Buanglah sampah pada tempatnya”, pertanyaannya setelah sampah kita buang ke kotak sampah, akan pergi kemana sampah kita ini? Tentu saja kita mengetahui bahwa sampah ini akan diangkut oleh petugas kebersihan dan akan dibawa ke tempat penampungan sampah akhir. Coba kita mengenang kembali tragedi longsornya TPA Leuwi Gajah tahun 2005 silam. sekitar 141 jiwa terenggut karena tertimbun tumpukan sampah ini. Perlu anda ketahui bahwa sampah plastik yang kita hasilkan membutuhkan proses cukup lama untuk terurai jika ditimbun didam tanah. Kresek yang sering kita gunakan akan terurai ditanah sekitar 10 – 20 tahum, lalu botol plastik air mineral membutuhkan waktu yang jauh lebih lama lagi untuk bisa terurai bahkan hampir tidak akaan bisa terurai selamanya. Lalu bagaimana jika kita buang kedalam lautan? Ini bukan solusi, bahkan kita semakin menebar kesakitan untuk sahabat kita lainnya yang tinggal di lautan. Sampah plastik ini mangganggu aktivitas kehidupan mereka, tanpa sengaja menjerat leher, menutupi area mulut, masuk dalam rongga pernapasan bahkan termakan dan menumpuk di dalam perut. Jadi, sesungguhnya tidak ada kotak sampah di bumi kita ini, kemanapun kita membuang sampah, mereka akan tetap ada.

Sekarang apa yang bisa kita lakukan? Mari kita mengurangi produksi sampah plastik, kita coba untuk mengatakan tidak jika ditawari wadah plastik, mulaiah untuk membawa botol minum, wadah makan, peralatan makan, sedotan yang bukan sekali pakai, jangan lupa untuk membawa kantong belanjamu, hiduplah penuh dengan kesadaran dan perlahan tidak perlu terburu-buru sehingga jika kita membeli makanan tidak perlu dibawa pulang, biasakan untuk makan di tempat. Lalu, apa yang bisa kita lakukan terhadap sampah plastik yang ada? salah satu solusi yang bisa dilakukan adalah dengan membuat Eco Brick. Eco Brick adalah salah satu solusi untuk memanfaatkan sampah plastik yang ada, dengan cara membuatnya menjadi pengganti batu bata untuk pembangunan. Cukup mudah untuk membuat Eco Brick, yang dibutuhkan adalah ketelatenan dan kesabaran dalam memasukan sampah plastik ke dalam botol. Jenis sampah yang baik digunakan untuk Eco Brick adalah kantong plastik, wadah kemasan, kotak susu UHT atau stereofoam. Hindari penggunaan kertas, tissu dan besi karena kertas dapat terurai dan besi dapat berkarat dan merusak Eco Brick. Siapkan tongkat kayu untuk memadatkan sampah plastik dalam botol. Bagaimana proses pembuatannya?

Pertama, pilih plastik lembut seperti kantong kresek bewarna kedalam botol (ini digunakan agar Eco Brick memiliki corak warna)

Kedua, masukan sampah plastik lainnya ke dalam botol, jika bisa plastik di potong lebih kecil. Tekan hingga padat menggunakan tongkat kayu.

Ketiga, jika sudah terasa padat tutup Eco Brick milik kita, pastikan ukurannya minimal 200 gram untuk botol ukuran 600ml.

Tips, usahakan membuat Eco Brick dengan menggunakan jenis botol yang sama agar lebih mudah untuk memadu padankannya.

Eco Brick yang sudah jadi dapat digunakan untuk menjadi pengganti batu bata atau bisa disatukan dan dibuat barang kebutuhan lainnya, seperti kursi, meja, atau gapura di pinggir jalan.