Widiya Septiani Perdanawati

08Sep

“Do it because it makes me happy” – Thich Nhat Hanh

suatu ketika saya medapatkan pertanyaan “ngapain kuliah kalo jadi petani?”. menjadi mahasiswa fakultas pertanian adalah langkah awal menemukan jati diri yang sesungguhnya. beberapa mata kuliah mengharuskan mahassiswa untuk menanam langsung di lahan kebun percobaan. mendapatkan hasil panen yang di inginan tak semudah membuang sayuran layu ke tempat sampah. ketika menyusun tugas akhir, tanaman yang di rawat tidak cukup baik sehingga harus mengulang dari awal. lagi-lagi pekerjaan yang sepertinya terlihat mudah , ternyata amat sulit dilakukan. dari sini lah pelajaran itu dimulai.

terkadang kita melupakan makna dari setiap pekerjaan yang dilakukan. tak jarang pula hanya terfokus pada hasil. tanpa di sadari kita telah melupakan proses. proses yang membuat kita banyak belajar. proses yang menjadikan kita tidak mengulang kesalahan yang sama. proses yang menjadikan kita insan yang tegar terhadap berbagai terpaan. Jika kita melakukan setiap pekerjaan dengan bahagia dan sungguh-sungguh maka hasil apapun yang kita dapatkan akan dapat diterima dengan baik dan lapang dada.

menjadi petani membuat saya menjadi semakin bersyukur dan bahagia. bersyukur karena saya bisa mengetahui betapa sulitnya merawat tanaman hingga menjualnya ke tangan pembeli. tidak semua orang dapat merasakan penalaman ini.  bahagia karena saya bisa mengalami banyak hal dan belajar bahwa menjadi petani itu adalah pekerjaan yang mulia. petani menyediakan makanan untuk sesama. bahagia sekali ketika melihat orang lain dengan lahap makan sayur yang ditanam oleh kita.

ada pengalaman unik ketika menjual sayur di pasar kaget hari minggu. ada 2 orang ibu paruh baya yang datang menghampiri booth. mereka menanyakan harga caysim lalu saya jawab “5000 satu ikat bu” dengan spontan salah satu ibu itu berkata “2000 ya” saya pun menjawabnya dengan “ini organik bu, belum dapet segitu”. kemudian “5000 tiga ikat aja, sayur mah sama aja” sembari pergi menjauh. sejenak diam dan tertegun. kecewa, kesal, sedih, karena merasa tidak dihargai. mungkin hal ini yang dirasakan penjual ketika saya menawar harga sayur di pasar.

saya bahagia menjadi petani karena saya bisa belajar bersyukur dari setiap proses yang dilalui. Saya bahagia menjadi petani. Perkenalkan saya widiya yang sedang belajar menjadi petani yang bahagia.

Wassalam.

27Aug

Pola hidup konsumtif tidak dapat dilepaskan dari gaya hidup modern yang serba praktis atau mobile, tentu didukung oleh teknologi canggih yang berkembang sehingga memudahkan proses jual beli. Gaya hidup konsumtif justru memiliki dampak kurang baik terhadap ‘kesehatan’ finansial. Konsumtif dapat diartikan sebagai pemborosan.
Pemborosan dapat dimaknai sebagai suatu perilaku yang berlebih-lebihan, dan tanpa disadari perilaku tersebut akan menjadi sebuah kebiasaan yang membentuk karakter dan tentunya akan sulit untuk diubah apalagi dihilangkan.

Jika sudah terlanjur memiliki pola hidup konsumtif, apakah masih bisa diubah dan diperbaiki? Berikut adalah 8 cara yang dapat dilakukan untuk mengubah gaya hidup konsumtif :

1. Menabung

2. Membuat Anggaran Belanja

3. Prioritaskan Kebutuhan

4. Hindari Pemakaian Kartu Kredit

5. Kurangi Jalan-jalan dan Cuci Mata di Mal

6. Mulailah Berinvestasi

7. Cermatlah Ketika Membeli Barang

8. Beramal dan Bersedekah

 

saya sangat suka sekali membuat handy craft. banyak barang-barang bekas yang sudah tidak terpakai yang masih dapat dijadikan barang bermanfaat. misalnya kaleng susu, kemasan minuman serbuk, detergen, makanan ringan dan lainnya.

menabung adalah salah satu cara untuk mengurangi pola hidup konsumtif, karena saya sangat menyukai dunia handy craft maka dari itu saya membuat celengan yang terbuat dari kaleng susu bekas. bayangkan jika setiap bulan kita harus membeli celengan plastik atau kaleng di toko. selama 1 tahun kita harus membeli 12 celengan. dengan menggunakan barang-barang bekas, setidanya kita sudah dapat mengurangi sampah.

berbicara mengenai sampah, pola hidup penggunaaan barangs ekali pakai masih mejadi gaya hidup manusia modern. barang-barang yang rusak jarang sekali diperbaiki karena harus mencari tukang dan menunggu untuk proses perbaikan. beberapa waktu yang lalu handphone saya terjatuh di atas batu, item yang mengalami kerusakan adalah LCD. tanpa berfikir panjang saya langsung menuju service center. biaya perbaikan 1/3 pembelian handphone baru. tanpa fikir panjang saya setuju untuk ganti LCD. handphone masih bisa di operasikan, yang mengalami kerusakan hanya LCD saja. slagi masih bisa digunakan kenapa harus membeli yang baru ? betul kan ? nah budaya inilah yang sudah berubah. semoga pengalaman saya belajar hidup ekologi dapat menjadi inspirasi teman-teman.

Wassalam.