Belajar Dari Pengalaman Nyata

Prof. Robertus Wahyudi Triweko, Ph.D.
Rektor dan Guru Besar Teknik Sumber Daya Air
Universitas Katolik Parahyangan

Pada awal dasawarsa 1960 an, ketika saya masih duduk di bangku sekolah dasar, saya tinggal di desa bersama orang tua. Saat itu, ayah saya menjadi kepala sekolah dasar, sedangkan ibu saya tidak bekerja dan hanya mengurus rumah tangga. Ada beberapa pengalaman penting yang agaknya turut membentuk diri saya, khususnya dalam bersikap dan berperilaku terhadap lingkungan.

Pertama, sampah yang hampir semuanya berupa sampah organik, kami kumpulkan di sebuah lubang yang di gali di tanah yang berukuran panjang 2m, lebar 1m, dan kedalaman 1m (Jawa: jugangan). Setelah penuh, ayah menggali tanah di sebelahnya untuk menutup jugangan tersebut dan menanam pohon pisang di atasnya, sambil membuat jugangan baru. Tahun berikutnya, pohon pisang tersebut berbuah, dengan ukuran yang lumayan besar, berkat pupuk kompos dari jugangan tersebut. Teknologi serupa juga diterapkan oleh ayah saya dalam menanam ubi rambat (Jawa: uwi) dengan memanfaatkan sabut kelapa dan segala macam sampah daun (Jawa: resak). Ternyata itupun memberikan hasil yang membanggakan. Setiap saat, kami bisa memanen uwi tersebut dan menikmatinya sekeluarga di sore hari.

Kedua, untuk memenuhi kebutuhan air bersih kami harus menimbanya dari sumur gali yang dalamnya sekitar 15 meter. Saat itu, di desa kami hanya ada dua atau tiga rumah yang mempunyai sumur gali seperti itu. Ketika sumur kering di musim kemarau, kami harus mencuci pakaian dan mengambil air kesendang (mata air) yang jaraknya sekitar 500 meter dari rumah. Kelangkaan air di musim kemarau, memaksa kami untuk memanfaatkan air bekas cuci piring untuk menyiram tanaman cengkeh di kebun, agar tidak mati kekeringan.

Pada musim penghujan, air sumur biasanya berwarna kecoklat-coklatan, tidak jernih lagi.

Pernah suatu sore, ketika hujan mengguyur sangat lebat, kami mendengar suara air yang mengalir deras (Jawa: nggrojok) masuk kedalam sumur. Agaknya, genangan air di dekat pohon kelapa yang hanya beberapa meter jaraknya dari sumur, membentuk aliran di dalam tanah mengikuti akar pohon kelapa yang berujung di sumur tersebut. Segera saya ambil cangkul untuk menjebol timbunan tanah yang menyebabkan terjadinya genangan tersebut. Saya khawatir dinding sumur akan jebol oleh derasnya aliran air rembesan tersebut, di samping kami tahu bahwa air yang masuk ke dalam sumur tersebut akan mencemari air sumur. Ketika menjadi mahasiswa pada program Master of Engineering di bidang Hydraulics and Coastal Engineering di Asian Institute of Technology, Bangkok, Thailand, saya baru tahu bahwa aliran air di dalam tanah yang deras seperti itu dinamakan piping (seperti aliran air di dalam pipa), yang bisa menyebabkan jebolnya bendungan atau tanggul.

Tanpa saya sadari, kedua pengalaman nyata di atas telah menjadi sarana pendidikan lingkungan yang sangat berharga bagi pembentukan diri saya, terutama dalam hal kepekaan dan kepedulian terhadap masalah air dan lingkungan. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya pendidikan lingkungan hidup perlu dilakukan melalui pengalaman nyata oleh anak-anak, ketika mereka masih dalam proses pembentukan dirinya. Agar pendidikan lingkungan tersebut mencapai sasarannya, tidak cukup kalau hanya disampaikan secara teoritis. Pengalaman nyata dan refleksi atas pengalaman tersebut merupakan metode pendidikan lingkungan hidup yang paling efektif.

Share it on :