Duna Culture

Redefine Composting Process
komposting sampah dalam waktu 1 hari

PENGERTIAN

SAMPAH adalah material sisa baik dari hewan, tumbuhan maupun manusia yang tidak terpakai lagi dan dilepaskan ke alam dalam bentuk padatan, cair ataupun gas.

  1. Sampah organik - dapat diurai (degradable) yaitu sampah yang mudah membusuk seperti sisa makanan, sayuran, daun-daun kering, dan sebagainya. Sampah ini dapat diolah lebih lanjut menjadi kompos.
  2. Sampah anorganik - tidak terurai (undegradable) yaitu sampah yang tidak mudah membusuk, seperti plastik wadah pembungkus makanan, kertas, plastik mainan, botol dan gelas minuman, kaleng, kayu, dan sebagainya. Sampah ini dapat dijadikan sampah komersil atau sampah yang laku dijual untuk dijadikan produk lainnya. Beberapa sampah anorganik yang dapat dijual adalah plastik wadah pembungkus makanan, botol dan gelas bekas minuman, kaleng, kaca, dan kertas, baik kertas koran, HVS, maupun karton.

KOMPOS adalah hasil penguraian parsial/tidak lengkap dari sampah organik. Penguraian sampah organik, dapat dipercepat dengan bantuan mikroba.

PENGOMPOSAN adalah proses dimana sampah organik mengalami penguraian secara biologis.

KOMPOSTING KONVENSIONAL VS CARA DUNA

KOMPOSTING KONVENSIONAL

Proses pertama sebelum dikomposkan, sampah harus dipilah untuk memisahkan sampah organik dan anorganik. Selanjutnya sampah organik yang terkumpul, dicacah.

Tumpukan yang terbentuk dibiarkan terfermentasi secara alamiah dan suhunya meningkat hingga 70oC. Selain suhu tinggi tersebut juga akan timbul bau busuk tidak sedap. Secara reguler tumpukan sampah ini dibolak balik dan disiram untuk menjaga kelembaban dan suhu nya sehingga proses pengomposan berjalan optimal. Proses pembalikan tumpukan sampah dilakukan secara manual dengan bantuan garpu dan skop, sedangkan penyiraman dilakukan dengan menyemprotkan air.

Peningkatan suhu selama proses pengomposan harus dimonitor dan dijaga agar tidak melebihi 40 C, karena akan berakibat:

  1. Bakteri pembusuk yang awalnya adalah bakteri baik, berubah menjadi bakteri patogen (pembawa penyakit)
  2. Panas adalah energi, di dalam tumpukan sampah timbul gas methan yang mudah terbakar dan termasuk gas yang merusak lapisan ozon.

Setelah minggu keenam, tumpukan sampah sudah menjadi kompos siap dipakai.

KOMPOSTING DUNA

Semua sampah organik segar dari rumah tangga, pasar dan kotoran hewan yang selama ini selalu menjadi polemik di masyarakat, mampu dijadikan Media Tanam hanya dalam waktu 1 hari dengan memakai cairan Mikroba Duna.

Sampah dipilah untuk memisahkan sampah organik dan anorganik dan dicacah dengan mesin pencacah. Masuk ke mixer, tambahkan kotoran sapi segar, kapur bubuk dan larutan Mikroba Duna dengan takaran 1:50 atau 1 ltr mikroba Duna cukup untuk 1 ton sampah . Tambahkan kotoran hewan lain, abu dan sampah sisa makanan/makanan basi untuk menaikan kandungan hara. Kapur bubuk berguna untuk netralisasi kemasaman. Abu tidak hanya sebagai higroskopis penyerap air tetapi juga menambah hara Ca, K dan Mg dalam kompos yang dibuat.

Kotoran sapi yang kaya akan mikroorganisma dan kandungan nitrogen digunakan untuk mempercepat proses pengomposan dan memperkaya unsur hara. Inilah yang disebut sebagai MEDIA TANAM, atau Organik Fertilizer, yang kandungan unsurnya lebih lengkap dibanding kompos biasa.

Dalam 1 hari media tanam siap ditanami. Tidak timbul panas, tidak timbul gas methan dan tidak bau. Proses Komposting dengan cara DUNA tidak memerlukan tenaga khusus untuk memonitor suhu dan tidak menimbulkan pencemaran pada lingkungan karena aroma bau yang tidak sedap. Kompos hasil fermentasi dengan cara DUNA dapat langsung dimasukan ke dalam karung, atau dalam polybag, untuk dijual.

PENUTUP

Berikut adalah prinsip-prinsip yang bisa diterapkan dalam pengolahan sampah. Prinsip-prinsip ini dikenal dengan nama 4R, yaitu:

  1. Mengurangi (reduce)
    Sebisa mungkin mengurangi barang yang kita pergunakan. Semakin banyak kita menggunakan material, semakin banyak sampah yang dihasilkan.
  2. Menggunakan kembali (reuse)
    Sebisa mungkin pilihlah barang-barang yang bisa dipakai kembali. Hindari pemakaian barang-barang yang sekali pakai, buang (disposable).
  3. Mendaur ulang (recycle)
    Sebisa mungkin, barang-barang yang sudah tidak berguna didaur ulang lagi. Tidak semua barang bisa didaur ulang, tetapi saat ini sudah banyak industri dan industri rumah tangga yang memanfaatkan sampah menjadi barang lain.
  4. Mengganti (replace)
    Teliti barang yang kita pakai sehari-hari. Gantilah barang-barang yang hanya bisa dipakai sekali dengan barang yang lebih tahan lama.

MEDIA TANAM DARI SAMPAH ORGANIK DAN KOTORAN HEWAN

Semua sampah organik segar dari rumah tangga, pasar dan kotoran hewan yang selama ini selalu menjadi polemik di masyarakat, mampu dijadikan Media Tanam hanya dalam waktu 1 hari dengan memakai cairan Mikroba Duna.

Sampah organik dicacah. Masuk ke mixer, tambahkan kotoran sapi segar, kapur bubuk dan larutan 1:50 Mikroba Duna. Tambahkan kotoran hewan lain, abu gosok dan sampah sisa makanan/makanan basi untuk menaikan kandungan hara. Bila tidak ada mixer, bisa dilakukan pencampuran secara manual. Mikroba Duna 1 ltr cukup untuk 1 Ton sampah organik.

Kapur bubuk berguna untuk netralisasi kemasaman. Pemberian abu gosok tidak hanya sebagai higroskopis penyerap air tetapi juga menambah hara Ca, K dan Mg dalam media tanam yang dibuat.

Kotoran sapi yang kaya akan mikroorganisma dan kandungan nitrogen digunakan untuk mempercepat proses pengomposan dan memperkaya unsur hara. Inilah yang disebut sebagai MEDIA TANAM atau Organik Fertilizer, yang kandungan unsurnya lebih lengkap dibanding kompos biasa.

Dalam 1 hari, media tanam siap ditanami. Tidak timbul panas, tidak timbul gas methan dan bau. Untuk perawatan tanaman, siramkan air yang sudah dicampur mikroba Duna 1:50 ke dalam pot/polybag tiap seminggu sekali. Untuk perawatan tanaman, siramkan air yang sudah dicampur mikroba Duna 1:50 ke dalam pot/polybag tiap seminggu sekali.

MEDIA TANAM DARI SAMPAH RUMAH TANGGA

Semua sampah organik segar dari rumah tangga, pasar dan kotoran hewan yang selama ini selalu menjadi polemik di masyarakat, mampu dijadikan Media Tanam hanya dalam waktu 1 hari dengan memakai cairan Mikroba Duna.

Sampah sisa sayur mentah, sisa makanan/makanan basi, sampah daun dari halaman bahkan gedebog pisang dipotong-potong, atau dicacah agar ukuranya menjadi kecil. Siapkan tanah 30% dari campuran tsb (bila tidak ada tanah bisa digunakan lumpur got/selokan di depan rumah) dan larutan mikroba Duna 1:50. Bila ada tambahkan abu gosok untuk menambah hara Ca, K dan Mg dalam media tanam yang dibuat.

Campurkan seluruh bahan-bahan diatas dengan rata, larutan Mikroba Duna harus tercampur rata untuk mencegah timbulnya bau. Dalam mencampur, kebutuhan larutan air mikroba cukup pada kondisi setengah kering untuk mencegah munculnya belatung, belatung muncul karena campuran tsb terlalu basah.

Munculnya belatung menandakan bahwa Media Tanam yang kita buat mengandung cukup unsur hara dan residu kimia nya sudah terurai. Sehingga campuran Media Tanam tersebut dapat langsung kita tanami. Untuk sisa makanan basi berkuah yang akan dicampurkan kedalam bahan pembuatan media tanam, sebaiknya airnya ditiriskan dahulu atau kuah tsb disiramkan ke dalam tanaman.

Inilah yang disebut sebagai MEDIA TANAM, atau Organik Fertilizer, yang kandungan unsurnya lebih lengkap dibanding kompos biasa.

Larutan Mikroba Duna 1:50 artinya 1 ltr Mikroba Duna diencerkan dengan 50 ltr air, atau 1 ltr cairan Mikroba Duna cukup untuk membuat Media Tanam sebanyak 1 ton. Untuk penggunaaan sedikit gunakan spray ukuran 1ltr dengan cukup menambahkan 1 tutup botol cairan Mikroba Duna, atau untuk 1 ember air ukuran 5 ltr cukup mencampurkan 5 tutup botol cairan Mikroba. Dalam 1 hari, media tanam siap ditanami. Tidak timbul panas, tidak timbul gas methan dan bau. Tutup bagian atas media tanam yang sudah disiapkan pada pot/polybag tsb dengan tanah tipis, bibit tanaman siap ditanam. Untuk perawatan tanaman, siramkan air yang sudah dicampur mikroba Duna 1:50 ke dalam pot/polybag tiap seminggu sekali.