Menyemai Benih Pohon Kehidupan Eco Camp

28May

‘Bumi kita dipaksa tanpa henti untuk memuaskan nafsu manusia. Bumi ini sudah kecapean’

BANDUNG, Indonesia – Semua orang sudah siap di hadapan makanannya masing-masing. Semua kursi sudah terisi. Segera akan tercipta suasana makan malam yang meriah, ditingkahi obrolan dan tawa, seperti lazimnya.

Ternyata tidak. Yang ada hanya hening. Kemudian terdengar seperti suara denting lonceng. Orang-orang mulai makan dengan khidmat.

Tidak ada celoteh, tawa lepas atau sekedar cekikikan seperti lazimnya suasana makan bersama – tenang, tentram. Orang-orang terlihat sangat menikmati makanannya masing-masing; mengunyahnya pelan-pelan.

Padahal, acara makan itu bagian dari kegiatan eco learning yang menghadirkan Banthe Saddha, Kepala Vihara Dharma Bhakti, Dr. Fachruddin Mangunjaya dari Unas, Kepala Desa dari Kanekes, Romo Ferry Sutrisna Wijaya pada 31 Agustus lalu.

Apa ini semacam latihan etiket makan? Bukan.

“Kami mempraktikkan makan yang berkesadaran, yakni menghayati setiap suap makanan; mengkhidmati makanan dan mata rantainya yang menyampaikannya ke hadapan kami. Kami mensyukuri bumi yang menyediakan semua ini,” kata Shierly Megawati Purnomo, pendiri dan pengelola Eco Camp.

Semua makanan itu adalah hasil cocok tanam Eco Camp, yang ditanam, dipelihara dan diolah secara ekologis dan dipetik dengan penuh cinta.

Romo St Ferry Sutrisna Wijaya, pembina dan salah seorang pendiri Eco Camp, mengatakan cara hidup yang ditumbuhkan di sana bersumber dari keprihatinan terhadap nasib bumi yang makin tereksploitasi. “Bumi kita dipaksa tanpa henti untuk memuaskan nafsu manusia. Bumi ini sudah kecapean.”

Keadaan bumi yang sekarang ini makin menuntut manusia untuk hidup sederhana, efisien dan berkesadaran. “Sikap ini menghindarkan manusia untuk menikmati sesuatu yang dihasilkan melalui penderitaan makhluk lain,” katanya.

Ia mengimbau untuk sebisa mungkin tidak mengkonsumsi daging ternak. “Karena kebanyakan peternakan memaksa dan menganiaya ternak mereka mengasilkan daging yang cepat dan banyak,” kata Pastor Ferry, yang beberapa kali mengikuti pelatihan tentang Pemanasan Global yang diadakan mantan Wakil Presiden Amerika Serikat Al Gore di Amerika Serikat dan Australia.

Mata rantai kebaikan

Menurut Shierly, hidup berkesadaran mengantarkan energi kebaikan melalui frekuensi yang sesuai, sehingga akan bertemu dengan ‘kumparan kebaikan’ yang lain, yang juga mencari frekuensi yang sama.

“Orang-orang yang mencari kebaikan pasti akan bertemu – fisik atau non fisik – untuk melanjutkan penyebaran energi kebaikan dengan kekuatan yang terus membesar dan cakupan yang lebih luas,” katanya.

Banyak cara memelihara kesadaran. Selain dengan menghayati dan memperhatikan setiap tindakan sendiri, para pencari kebaikan bisa bermeditasi. Kegiatan meditasi yang teratur akan meningkatkan kepekaan rasa dan empati terhadap sesama makhluk dan rasa syukur pada Tuhan.

Dengan kepekaan rasa dan kesadaran murni, manusia bisa merasakan energi makhluk-makhluk lain yang juga berkesadaran. “Dengan kesadaran murni, kita bisa melihat banyak sekali keajaiban di sekeliling kita,” kata ibu dari dua anak ini.

Kesadaran murni mengatasi sekat-sekat ras, suku dan agama. Seperti bumi, yang tak pernah memilih-milih makhluk mana yang perlu dihidupinya.

“Matahari tak pernah memilih tempat dan benda yang ia sinari. Hujan tak memilih mana yang ia curahi. Dalam berbuat dan menyebar kebaikan, kita tak perlu memilih dan membeda-bedakan manusia berdasarkan suku, ras, agama dan status sosial.”

Awalnya, Eco Camp tak lebih dari sebuah tempat bermain anak di kawasan Bandung Utara. Setelah beberapa lama, ia berkembang menjadi tempat pendidikan luar sekolah. Dan mulai tahun 2012, Eco Camp menjadi tempat pembinaan kesadaran ekologis.

Sejak itu, dari Eco Camp telah lahir ratusan pemuda-pemudi, pendidik dan tokoh masyarakat yang tercerahkan. Mereka memilih jalan hidup Ksatria Shambala, yakni jalan hidup bersahaja, menyebarkan kasih dan kebajikan bagi segenap makhluk ciptaan Tuhan.

Share it on :