Memupuk Kesadaran terhadap Alam, Merawat Keberagaman

Katolikana.com – Lahir dari kesadaran akan pentingnya interaksi anak dan remaja dengan alam, Yayasan Sahabat Lingkungan Hidup yang dulu bernama Yayasan Sahabat Anak mendirikan tempat wisata edukasi bernama Eco Camp. Berlokasi di Ledeng, Bandung, Jawa Barat.

Eco Camp menyediakan program kegiatan dan sarana bagi anak-anak dan remaja untuk bermain di alam bebas sambil belajar tentang nilai-nilai kehidupan yang menghormati sesama dan semesta.

Pastor Ferry Sutrisna Wijaya, yang akrab dengan sapaan Pastor Ferry,  berbagi kisah tentang Eco Camp kepada Katolikana yang mewawancarainya pada Selasa (9/3/2021) via Zoom.

Pastor Ferry adalah salah seorang yang berkontribusi di balik berdirinya Yayasan Sahabat Lingkungan Hidup yang menaungi tempat wisata edukatif bernama lengkap Eco Learning Camp ini.

Memulai kisahnya, Pastor Ferry mengatakan, pada awalnya yayasan ini bernama Yayasan Sahabat Anak. Namun pada antara 2013 dan 2014, nama yayasan ini berubah menjadi Yayasan Sahabat Lingkungan Hidup dan melibatkan lebih banyak pihak yang bersifat lintas agama.

Bagaimana pengalaman awal  Pastor Ferry memasuki wilayah aktivitas pelestarian lingkungan hidup hingga mendedikasikan hidupnya untuk melayani alam dan sesama lewat Eco Camp?

“Awalnya saya diajak. Tapi ada satu momen yang memengaruhi saya, yaitu pada saat mengikuti pelatihan perubahan iklim pemanasan global pada 2009 di Melbourne, Australia,” tutur Pastor Ferry.

“Sejak pulang kesadaran akan lingkungan hidup semakin besar,” tambahnya.

Imam kelahiran Bandung 1961 yang mengaku sangat senang belajar ini juga menyebutkan, semua hal yang sudah berjalan dan berkembang hingga saat ini bukan semata-mata hasil keringatnya sendiri,  melainkan juga hasil jerih payah beberapa rekannya terdahulu.

Ia kemudian menyebut nama Shierly Megawati, sebagai sosok yang mengawali langkah Spirit Camp hingga menjadi Eco Camp seperti saat ini.

Selain itu ada sejumlah nama lain yang ia sebut.  Ada nama Alexander Iskandar, Romo A.Sarwanto SJ, dan Ibu Teko Sukarmin.

“Juga ada Tan Eng Liang dan Mary Tan, Hutomo dan Suzy, Steven Tjhoea dan masih banyak lagi yang mendukung dan terlibat,” katanya merinci rekan-rekannya yang berkontribusi besar terhadap Eco Camp.

Selanjutnya untuk pengembangan program-program di Eco Camp yang lebih mengarah pada kesadaran dan spiritualitas, Pastor Ferry juga menceritakan bahwa dirinya dan beberapa rekan juga melakukan perjalanan ke berbagai tempat.

“Di Eco Camp kami bukan menjawab pertanyaan how seperti bagaimana pertanian organik, tetapi lebih menjawab pertanyaan why seperti mengapa kita lebih banyak makan sayur mengapa harus menghemat listrik;  dan lain-lain,” tuturnya.

Menyentuh Alam secara Langsung

Pada bagian lain penjelasannya, Pastor Ferry mengemukakan, program dan kegiatan yang dirancang pihak Eco Camp untuk menumbuhkan kesadaran anak-anak dan remaja terhadap alam dan sesama juga beragam.

Namun secara umum, program dan kegiatan yang mereka tawarkan adalah mengajak masyarakat untuk bersentuhan langsung dengan alam.

Pastor senior ini kemudian memberikan contoh. Ketika peserta kegiatan atau pengunjung pergi ke kebun, mereka diperbolehkan menginjak tanah tanpa alas kaki atau ikut berkontribusi ketika masa panen tiba.

Namun, lanjutnya, ada satu hal yang menarik. Ketika hendak makan atau minum, peserta diajak untuk memupuk kesadaran betapa kehadiran secangkir teh atau sepotong makanan dalam hidup melibatkan begitu banyak aspek.

“Misalnya ketika kita minum teh. Dalam secangkir teh ini kita dapat melihat alam semesta. Teh ini ditanam, disiapkan oleh bakteri, cacing, mikroba, dan sinar matahari. Juga berapa manusia yang terlibat di dalam rantai perjalanan minum teh itu hingga saat diminum,” ujar Pastor Ferry.

Sama halnya dengan minuman, peserta juga dapat belajar dan melakukan refleksi  ketika disuguhi berbagai makanan. Pastor Ferry menyebutkan: “Tak ada salahnya untuk merefleksikan banyaknya ‘pihak’ yang berkontribusi di dalamnya.”

Bahkan Pastor Ferry mengemukakan bahwa yang direfleksikan bukan hanya tentang para petani yang menggarap padi dan berasnya; para pekerja dapur yang mengolah makanan tersebut sedemikian rupa.

Selain mereka, katanya, dalam sepiring makanan terdapat benih yang telah ditanam dan dipersiapkan selama berbulan-bulan dengan melibatkan ‘campur tangan’ mikroba, tanah, air, dan cacing yang hidup di alam dan menghidupi benih.

“Intinya kami menawarkan bukan melulu pengetahuan, skill, atau keterampilan, tetapi pengalaman bersentuhan langsung dengan alam. Pengalaman itu digali dan direfleksikan.” jelas Pastor Ferry.

Ketika ditanya bagaimana Eco Camp mempertahankan semangat dan spiritualitas melalui kegiatan-kegiatannya di tengah gempuran modernitas, khususnya pada para remaja dan anak-anak, Pastor Ferry menjelaskan bahwa Eco Camp juga beradaptasi.

Ia mengemukakan bahwa setelah peserta merefleksikan perasaannya sesuai beraktivitas di dan dengan alam, mereka dipersilakan mengunggah pengalaman itu ke media sosial.

Eco Camp menerapkan hal itu untuk mencoba melengkapi pengalaman peserta,  khususnya anak-anak dan remaja, yang dinilai sebagai generasi yang lekat dengan kemajuan teknologi.

“Jadi kami tidak anti dengan hal itu, karena memang itu dunia mereka.” katanya.

 

Eco Camp di Tengah Pandemi

Pandemi virus Corona dikatakan sempat berdampak pada dinamika Eco Camp. Sejak April 2020, pengunjung yang datang semakin berkurang.

“Kegiatan kunjungan agak sepi, tapi bukan berarti tidak ada. Bagi yang mau berkunjung tetap kami terima,” ujar Pastor Ferry.

Eco Camp tak kehilangan akal untuk mencari jalan keluar agar tetap dapat berbagi ilmu dan kegiatan pembelajaran kepada masyarakat.

Mereka mengubah sebagian program dari yang sebelumnya offline menjadi online. Contoh program yang dilakukan secara online selama pandemi adalah ‘Anak Bumi’ dan ‘Green Leader’.

Program ‘Anak Bumi’ merupakan kegiatan yang diperuntukkan bagi anak-anak selama enam minggu. Selama enam minggu pihak Eco Camp menyampaikan pemaparan sebanyak tiga kali seminggu pada waktu siang hingga sore hari.

Anak-anak yang mengikuti program “Anak Bumi” akan mendapatkan materi mengenal alam sekaligus penanaman unsur cinta tanah air pada setiap pembelajaran. Begitu pula pada program ‘Green Leader’. 

Program yang berlangsung tiga bulan dan lebih menyasar peserta dewasa ini dilaksanakan setiap Sabtu dan Minggu melalui aplikasi tatap muka online.

Dalam situasi yang harus serba online ini, jarak dan waktu tidak lagi menjadi penghalang.

Hal itu dikatakan mengingat Eco Camp sempat dihubungi oleh sebuah sekolah di Jakarta yang menjadikan program Eco Camp sebagai ekstrakulikuler bagi para siswa selama menjalani sekolah secara daring.

Pandemi juga menjadikan peserta yang hendak mengikuti program-program Eco Camp tak sebatas mereka yang tinggal di wilayah Bandung dan sekitarnya tetapi juga tersebar hingga Sumatera bahkan Nusa Tenggara Timur (NTT).

Namun hal yang lebih membanggakan, kata Pastor Ferry, meskipun kegiatan dilakukan secara daring, keterlibatan pribadi peserta tetap mendalam.

“Ternyata keterlibatan pribadinya cukup dalam, meskipun dilakukan secara online,” ujarnya. Ia menjelaskan bahwa pandemi tak menjadikan Eco Camp berhenti berkegiatan. Alih-alih mereka hanya mengganti format pelaksanaan.

Di luar program dan kegiatan Eco Camp, Pastor Ferry juga sempat berbagi cerita tentang perjuangan Eco Camp untuk mampu bertahan selama pandemi akibat sangat terbatasnya jumlah pengunjung yang datang.

Tahun 2020 , Eco Camp sempat menjual berbagai olahan jamur dan oleh-oleh khas Bandung dengan sistem jasa titip (jastip).

“Itu (dilakukan) dalam rangka survival  dan yang membeli kebanyakan orang Jakarta,” katanya seraya mengingat saat-saat Eco Camp aktif menjalani usaha jasa titip olahan jamur pada 2020.

Dalam wawancara Pastor Ferry juga sempat menyampakan refleksinya tentang pandemic Covid-19.

Ia menyebutkan pandemi bukanlah musuh bagi Eco Camp. “Aliah-alih ia adalah ‘saudara’ yang tugasnya  tak jauh berbeda dengan Eco Camp, yakni memperbaiki dunia dan menjadikan manusia lebih sadar akan perlunya kesehatan dan perawatan alam semesta,” ujar Pastor Ferry.

Merawat Keberagaman

Selain berbagi pengetahuan dan pembelajaran tentang alam, merawat keberagaman menjadi salah satu wajah Eco Camp. Lahir dari hati 12 pendiri dengan latar belakang berbeda-beda menjadikan Eco Camp kaya akan sudut pandang.

Pastor Ferry sebagai adalah salah satu yang ikut membangun Eco Camp berbeda dengan warna organisasi yang bersifat lintas agama, tidak terikat oleh agama tertentu, bahkan bukan merupakan lembaga agama, khususnya Katolik.

Selain keragaman latar belakang para pendirinya, para pekerja yang berkarya di Eco Camp juga beragam.

Regi Rifyunando yang akrab dengan sapaan Regi, adalah karyawan yang telah  mengabdi di Eco Camp selama lima tahun.

Regi mengungkapkan, Eco Camp adalah sebuah rumah belajar, tempat ia tumbuh, dan dapat belajar dari siapa pun dan apa pun.

“Di sini saya banyak mendapatkan pelajaran,  baik dari para sahabat Eco Camp, para donatur, maupun pengunjung yang datang. Di sini saya juga banyak belajar dari alam,” ujar Regi saat diwawancarai pada 12 Maret 2020 melalui aplikasi whatsapp.

Regi juga sempat berbagi kisah  tentang sumbangan yang telah diberikan Eco Camp kepada masyarakat sekitar.

“Selain Eco Camp telah menyebarkan pembelajaran dan mengajak para petani sekitar bercocok tanam organik, sedikit banyak Eco Camp juga telah menyebarkan nilai-nilai yang selama ini dijalankan pihak internal kepada masyarakat, seperti saling menghargai walaupun berbeda-beda,” papar Regi.

Eco Camp, tutur Egi, terbuka luas bagi siapa pun yang hendak berkunjung dan belajar. Khusus untuk para pekerjanya, sejak awal selain semua diajak untuk saling menghargai juga ditanamkan pentingnya kepedulian sehingga dalam perkembangannya, warga Eco Camp tidak menutup diri atau merasa malu tentang identitas mereka, termasuk dalam hal beragama.

“Kami tetap menjalankan ibadah kami sesuai dengan kepercayaan masing-masing, tanpa harus ditutupi” tambah Regi.

Dalam perjalanannya, secara perlahan banyak pihak mulai tahu bahwa Eco Camp terus berupaya mewujudkan pelayanan mereka dalam upaya memupuk kesadaran.

Tak melulu hanya memupuk kesadaran untuk menghargai sesama manusia, Eco Camp juga memupuk kesadaran untuk kembali menghormati semesta, dan mendekatkan segala bentuk perbedaan melalui sesama.[]

Kontributor: Anastasia Mellania Kartika P, Genoveva Sekar Jemparing, Cornelia Maria Radita, Ni Nyoman Vena Riana D (Universitas Atma Jaya Yogyakarta)

Editor: JB Pramudya

Share it on :